Baru saja aku mendengar kabar dari seorang sahabat.Sialnya dia mengalami nasib hampir sama denganku.Bedanya dia belum menikah,aku hampir mengakhiri pernikahanku. Persamaannya,kita mengabaikan sinyal diri kita sendiri.
Sinyal yang kuterima sebelum menikah
"dia hobi mengintip,itu kelainan seksual, " dan aku mengabaikannya.
"dia hampir tidak pernah mengajakku pergi kencan ke tempat yang sedikit lebih baik atau paling tidak sesuai dengan standar gaji kami berdua,atau hampir selalu aku yang membayar acara makan malam di resto yang lumayan bagus" aku mengabaikan sinyal diri sendiri bahwa pasanganku terlalu hemat,pelit atau tidak bisa menyenangkan diri sendiri apalagi pasangan
"dia memberi tambahan sayang,chay pada nama-nama teman perempuannya yang tersimpan di handphone,saat kami sempat bertukar handphone sebulan sebelum menikah"
aku mengabaikan sinyal bahwa dia tidak benar-benar bisa setia,dia laki-laki yang gampang tertarik pada lawan jenis dan menikmati hubungan tanpa status meskipun tampak fokus
"dia bercerita dengan santai,saat kami menghabiskan malam di sebuah hotel,bahwa ia pernah bercinta dengan pelacur dan memakainya bersama beberapa teman kantornya,di kamar yang kami tempati malam itu,"
aku mengabaikan sinyal bahwa ia tipe manusia yang kurang punya emphaty pada orang lain,termasuk istrinya
Aku melihat sahabatku juga melakukannya.Kami berdua mengabaikan sinyal diri sendiri.
Dan aku tidak mau lagi terjebak dengan kebodohan yang sama. Jangan pernah abaikan sinyal. Jangan pernah merasa bahwa itu hanya prasangka,cari tahu kebenarannya,mengapa,dan apakah siap dengan resiko.
Kunci menyikapinya,jujur pada kata hati. Kadang kita terjebak, kita bisa menjadi semacam tukang kontrol,pahlawan yang bisa merubah seseorang lebih baik. Ketika hasilnya tidak sesuai harapan,kita cenderung mendadak depresi dan stress.
Ikuti kata hati,dan jangan pernah jadi korban salah mencermati sinyal diri. Aku sudah jadi korban fatal,dan berharap sahabatku bisa belajar dari hal ini.
Sedih sebentar,senang selamanya. Jangan pernah bohong pada diri sendiri.
Sinyal yang kuterima sebelum menikah
"dia hobi mengintip,itu kelainan seksual, " dan aku mengabaikannya.
"dia hampir tidak pernah mengajakku pergi kencan ke tempat yang sedikit lebih baik atau paling tidak sesuai dengan standar gaji kami berdua,atau hampir selalu aku yang membayar acara makan malam di resto yang lumayan bagus" aku mengabaikan sinyal diri sendiri bahwa pasanganku terlalu hemat,pelit atau tidak bisa menyenangkan diri sendiri apalagi pasangan
"dia memberi tambahan sayang,chay pada nama-nama teman perempuannya yang tersimpan di handphone,saat kami sempat bertukar handphone sebulan sebelum menikah"
aku mengabaikan sinyal bahwa dia tidak benar-benar bisa setia,dia laki-laki yang gampang tertarik pada lawan jenis dan menikmati hubungan tanpa status meskipun tampak fokus
"dia bercerita dengan santai,saat kami menghabiskan malam di sebuah hotel,bahwa ia pernah bercinta dengan pelacur dan memakainya bersama beberapa teman kantornya,di kamar yang kami tempati malam itu,"
aku mengabaikan sinyal bahwa ia tipe manusia yang kurang punya emphaty pada orang lain,termasuk istrinya
Aku melihat sahabatku juga melakukannya.Kami berdua mengabaikan sinyal diri sendiri.
Dan aku tidak mau lagi terjebak dengan kebodohan yang sama. Jangan pernah abaikan sinyal. Jangan pernah merasa bahwa itu hanya prasangka,cari tahu kebenarannya,mengapa,dan apakah siap dengan resiko.
Kunci menyikapinya,jujur pada kata hati. Kadang kita terjebak, kita bisa menjadi semacam tukang kontrol,pahlawan yang bisa merubah seseorang lebih baik. Ketika hasilnya tidak sesuai harapan,kita cenderung mendadak depresi dan stress.
Ikuti kata hati,dan jangan pernah jadi korban salah mencermati sinyal diri. Aku sudah jadi korban fatal,dan berharap sahabatku bisa belajar dari hal ini.
Sedih sebentar,senang selamanya. Jangan pernah bohong pada diri sendiri.
4 comments:
Santy
lumayan terharu juga membaca ceritamu
ada 3 hal yg bisa di garis bawahi:
1. Kamu pindah agama
2. Kamu mungkin telah melukai hati ortumu. dan untuk ini segeralah minta maaaf, bersujud dihadapannya
3. Kamu menikahi seseorang secara "GAMBLING"
dan khirnya kamu kalah dalam perjudian itu
aku gak menyalahkan kamu dalam hal apapun. Mungkin ini suatu jalan hidup yg harus kamu jalani.
Mengambil hikmah atas kejadian yg telah terjadi dan kemudian memperbaiki nya adalah hal yg perlu kamu lakukan.
salam
agus purnama
1F , 2F , 3F SMP 1 Klaten
@ Agus :
Apakah kamu bersedia menerima shanty jadi istrimu?
Kamu tampak bijak sekali.
Siapa tahu shanty bisa bahagia denganmu.
@ agus :
jangan2 shanty ini impian terpendammu sejak kamu masih smp ya?
Go, run for your true love.
You deserve to get her.
Never stop!!!
@ shanty :
kok gak ada komentar?
sekedar mengingatkan.....
bukankah dulu kau katakan padaku bahwa itu semua adalah bentuk kejujuran dari dia????
dan kau tak mau mendengarkanku......
tapi sudahlah,toh semua sudah takdir yang ta bisa dihindari,kini ...sikapilah itu semua dengan bijak.
Post a Comment