May 13, 2008

BERHENTI JADI KORBAN

Aku putuskan berhenti jadi korban.Lelah juga 3 tahun jadi korban. Berat resikonya,aku sendiri hampir menyerah,karena aku tipe perempuan yang tidak tegaan.

Menjadi korban tidak selalu harus mengalami penganiayaan atau kekerasan fisik.Kadang kita terpaksa melakukan pekerjaan atau tugas kotor untuk oranglain atau pasangan. Kita menerima itu dan mereka membutuhkan kerja keras,sementara kita tampak tidak bisa mengatakan tidak.

Contoh kisah sahabatku.Aku mengenalnya sebagai perempuan dengan prinsip kuat. Dia vokal,dan selalu berani berkata tidak untuk apapun yang bertentangan dengan dirinya. Namun laki-laki itu pacarnya seolah beku dan memanfaatkan rasa cinta yang begitu besar atas diri sahabatku.
Sahabatku,perempuan itu,dia rela menunggu beberapa jam untuk laki-laki yang ia sebut pacarnya. Laki-laki itu menerima telepon masuk dari staff barunya di kantor,seorang perempuan,meninggalkan sahabatku begitu saja,tanpa meminta ijin,atau sekedar basa-basi membuat alasan mengapa pembicaraan itu berlangsung lama dan ia harus berpindah menjauh dari pacar.

Rasa takut untuk konfrontasi dengan orang lain juga menjadikan kita korban.Situasi ini paling sering kualami.

Teman-teman,atau bahkan sahabat dekat kadang memperlakukan kita dengan seenaknya,misal membatalkan rencana pada saat-saat terakhir untuk hal lain yang belum tentu terjadi,dan mereka memahami bahwa kita tidak akan marah. Intinya kita menerima saja semua tindakan mereka tanpa mengeluh.Kita bahkan masih bisa tersenyum.

Aku pernah alami situasi sulit ini,dan mencoba untuk tidak masuk lagi dalam situasi tersebut.

Aku tidak mau lagi luluh tersenyum,memaafkan dalam waktu singkat ketika suamiku merayu dan mengingatkanku tentang janji nikah. Aku berpikir aku juga punya andil,memaafkannya selalu setelah ia melukaiku. Tersenyum padanya kurang dari 6 jam setelah dia memakiku anjing.

Dia tahu aku tipe tidak tega dan sulit menolak. Jadi pada saat aku hamil muda,aku hanya tersenyum ketika ia memberiku jatah makan siang 5-10 ribu selama hampir 5 bulan.

Dia tahu aku pasti tidak akan menuntut menyerahkan gaji bulanannya karena aku dinilai pengertian,nrimo dan cuek. Berapapun yang ia beri aku terima,aku juga tidak pernah complint makan lotek tiap siang.

Hgh..aku belajar lebih dalam tentang cinta dan respek bisa berjalan seimbang. Aku belajar dari caraku menyikapi kemanjaannya. Dia tahu aku menyayanginya,tidak pernah berkata kasar,marah dan memukulnya.Sekarang dia 3 tahun. Dan ia mulai bisa memanfaatkan kelembutanku. Terkadang apa yang diinginkannya membuatku merasa jadi korban. Saat itu dia sakit tenggorokan.Dulu sampai umur 2 tahun aku memberinya makanan cair tiap ia susah makan.Aku tidak memberinya bubur lembut karena takut kadar gizinya kurang dan ia jadi kurus.Beberapa bulan yang lalu,aku menyempatkan diri bangun dini hari,membuat kaldu dari tulang memasakannya bubur nasi,mencampurnya dengan salmon yang kubeli dengan mikir seribu kali karena uangku tinggal 50 ribu (harga salmon itu 37 ribu),menyisir jagung manis,mengiris wortel menjadi batang korek,menambahkan telur mengandung omega yang harganya 2x lipat dari telur kampung (aku meminjam uang adikku yang saat itu pergi belanja denganku). Hampir 3 jam aku menahan kantuk membuat semangkuk bubur untuknya. Aku melakukannya karena aku ingin yang terbaik untuk anakku.

Jam 6 pagi anakku bangun.Dan rutinitas pagiku dengannya adalah ngobrol sebelum makan.Pagi itu tentang mimpinya dan acara bikin bubur.

Saat kuhidangkan.Anakku tampak kesal,ia minta makanan cair seperti biasa.Dan aku mencoba menjelaskan dengan lembut ia harus berlatih makan bubur nasi,karena ia sudah 3 tahun.

Yang dia lakukan padaku.Dia tumpahkan bubur buatanku ke lantai.Menangis dan berteriak.Saat itu aku juga menangis.Anakku berhenti,dan menatapku.

Aku terpaksa bersikap tegas padanya.Aku tetap memberinya bubur nasi,bukan makanan cair.Aku memintanya untuk menghargai orang lain,termasuk ibunya.Aku tidak membentaknya,namun konsisten dengan keputusanku.

Aku belajar tegas.Aku tidak mau lagi menunggu dia dewasa sampai ia tinggal sendiri untuk dia belajar menghargai usaha dan perhatian orang lain. Dan aku tidak mau lagi kelembutanku dimaanfaatkan untuk selalu ada pemakluman.

Cinta dan respek harus seimbang.Bila kita tetap bersikap sebagai korban,atau membiarkan diri menjadi korban,itu artinya kita belum memiliki batasan untuk diri kita sendiri. Kita tidak punya garis jelas yang menginformasikan kepada yang lain bahwa kita tidak mengizinkan siapapun menginjak-injak harga diri.Kita hanya mengeluh,tetapi tidak melakukan apapun untuk mengubah. Namun hati-hati jangan gunakan sebagai kesenangan untuk membalas dendam belaka.Ini hanya akan menimbulkan luka lebih banyak. Jika ada orang dalam kehidupan kita yang terus menerus menyakiti kita,tinggalkan saja dia. Jika penjelasan kita hanya menimbulkan perdebatan dan perselisihan,kita tidak perlu membuang-buang waktu untuk menjelaskannya lagi.
Daripada berdebat mulut,gunakan kaki untuk pergi menjauh.

No comments: