May 13, 2008

PERUBAHAN

Aku takut dengan perubahan,sempat. Bagi sebagian besar orang perubahan hampir selalu disikapi dengan takut,cemas dan was-was.

Aku mengalami masa sulit,tertekan,merasa direndahkan,tidak bernilai. Aku memainkan sandiwara istimewa dalam rumahtanggaku.Aku menunggu respon,agar suamiku memberi tanggapan,dan bertanya apakah aku ada masalah. Aku sering menyendiri menunggu suamiku minta maaf.

Malam itu dia mengataiku main gila dengan sahabatku,karena aku pergi dengannya hampir 6 jam. Aku menjelaskan,ada proyek rahasia dan ia tetap memaksaku mengakui apa yang jadi tuduhannya. Akhirnya kemarahanku tak terbendung. Kubuka hal sebenarnya,aku pergi dengan laki-laki itu membuat lagu,merekamnya, dan menjadikannya kado ulang tahun suami.

Saat itu aku sangat terpukul dan tertekan.Aku terjebak pada perasaan kasihan pada diri sendiri dan menangis,berharap suamiku akan merasa tidak enak ketika melihatku menangis. Aku menulis di blog bagaimana perasaanku,rasa sakit yang ia timbulkan dan kata-kata jahat yang merendahkan kesetiaan dan rasa sayangku. Aku memberikan alamat blogku,dan suamiku baru membaca isi blogku,setelah aku memutuskan cerai.

Aku punya andil,waktu itu aku tidak pernah konfrontasi secara langsung.Suamiku pikir aku hanya main-main setiap aku bilang cerai,dan 2-3 hari berikutnya aku tersenyum dan menjalani tugas ibu rumahtanggaku dengan normal.

Setelah 3 tahun 6 bulan aku mulai bertanya. Apa alasanku yang membuat aku tetap bertahan? Kondisiku sebagai korban sudah jadi urat dan mengakar dalam diri,bahkan aku menganggap seperti sesuatu yang sifatnya akrab. Aku sangat tidak nyaman.Aku belajar menyadarkan diri sendiri bahwa hal yang sudah akrab dan rasa nyaman jelas beda.

Aku mulai membuka ingatan kapan hal-hal yang sudah akrab itu tidak lagi nyaman atau jadi sesuatu yang tidak kita inginkan. Aku mulai melihat nilai dan yang dibawa untukku.Itu yang menegaskan keyakinan bahwa kita tidak layak menerima kebaikan dan penghargaan ? Aku menyadari itukah yang menahanku supaya tidak melakukan perubahan? Apakah hal-hal yang kuakrabi menyakiti jiwa.

Sebenarnya,melindungi diri sendiri seperti yang sekarang sedang kujalani agak menimbulkan intimidasi. Kadang tergoda untuk mundur dan mencari persetujuan dari orang lain,setelah menjelaskan aku tidak akan mentoleransi sikap suami. Namun,setelahnya aku melakukan hal besar dalam hidupku.Keputusanku bercerai adalah keputusan pertama kali dalam hidupku yang kubangun dari kejujuran mendengar jiwaku sendiri

"aku tidak mau jadi korban,dan terus pura-pura bahagia padahal sangat terluka."

Aku sedang menikmati kekuatan baru,dan ini adalah cara hidupku yang bru. Pengaruhnya? Luar biasa,aku punya emosi baru,dan mendapatkan diriku secara utuh termasuk merespon apa yang jadi kebutuhan jiwa.Dan aku tidak akan mau melepasnya lagi.

Perasaan baru ini yang memunculkan perubahan,dan aku belajar bahwa berubah itu ternyata ada bagusnya juga.

Mau menunggu? Atau punya nyali untuk perubahan?

Sedih sebentar saja ya,kalau berani dgn perubahan bersiap senang selamanya.

No comments: