Mematahkan kebiasaan dan pola pikir yang sudah lama dan telanjur tertanam sejak lama, dan bahkan sudah menjadi kesepakatan sosial sangat sulit. Beberapa kali aku bicara tentang mengakhiri semuanya, aku katakan aku tidak mencintainya, aku merasa tidak bernilai, aku seperti pelacur rendahan, aku tidak bernilai. Dan itu tidak mebantuku keluar dari masalah. Aku begitu terkungkung dengan aturan gereja. Perasaan takut berdosa , perasaan lain, perasaan malu. Bagaimana tidak, aku melakukan kebiasaan yang Tuhan tidak suka, aku minum. Aku berkecamuk dalam konflik batin yang amat panjang. Aku minum agar lepas kesadaran, jika aku lepas kesadaran aku bisa memberikan yang terbaik untuk suamiku. Kuakui, aku sering memaksakan diri untuk berpura- pura menikmati, sejujurnya hati kecilku menolak.
Aku berpikir ke arah lain, aku berhak keluar dari keadaan yang sangat tertekan dan membuatku frustasi. Aku seorang pendemdam, dan idealis. Aku sulit melupakan hal- hal menyakitkan yang terjadi pada hidupku. Dan jika kuteruskan pernikahanku dengannya, aku terjebak dalam perasaan berdosa sepanjang hidupku. Aku memebohongi dia, dengan berpura- pura mencintainya. Dia menilaiku terlalu sempurna sebagai istri, bahkan saat terakhir kukatakan aku ingin mengakhiri segalanya, dia masih bertahan dan mencoba untuk menahanku.
Aku pikir dia berhak bahagia, sebagai manusia, dia berhak mendapat seorang perempuan yang bisa mencintainya dengan lebih baik. Aku tidak mau menyudutkan dia secara terus menerus. Laki- laki yang menikahiku seorang laki- laki yang lemah lembut dan sangat romantis. Dia tidak pernah kasar berkata padaku, kecuali dalam keadaan khilaf. Dia menghujaniku dengan pelukan dan ciuman setiap saat. Dia mengatakan betapa ia mencintaiku setiap saat, meskipun aku jarang menjawabnya. Namun, sekali lagi aku sangat jahat jika kuteruskan sandiwaraku, hanya karena ketakutanku pada hukum gereja. Bukankah Tuhan juga tidak suka umatnya berbohong. Aku mencoba menyusun kekuatan atas diriku sendiri, untuk berkata jujur padanya tentang semua yang kusimpan sendiri selama 3 tahun. Menyakitkan, dan dia terlihat sangat shock.
Aku tidak mau mengorbankan siapapun, termasuk anakku. AKu hanya mau mengakhiri relasi seksualku dengan dia melalui pengadilan. Tujuan utamaku bercerai adalah terlepas dari keadaan tertekan, aku mau jiwaku sehat kembali. Aku belum bisa bepikir seperti orangtuaku, mereka menginginkanku pindah keyakinan untuk hidupku selanjutnya. Aku mengerti, perasaan orangtuaku sendiri, mereka masih ingin aku berumahtangga dan memiliki anak. Sejujurnya, aku sudah bahagia dengan anakku. Apalagi yang akan aku kejar, aku sudah bahagia dengan imanku, cukup. AKu hanya mau bahagia, aku mau berdamai dengan Tuhan, hidup dengan benar dan membesarkan putriku dengan baik. Aku bahkan tidak berpikir untuk relasi dengan siapapun termasuk relasi seksual.
Aku bertahan dengan keputusanku. aku melanjutkan perjuanganku melalui pengadilan. Aku tidak akan mundur, kupikir ini jalan terbaik. Suamiku masih memintaku untuk kembali. Aku sendiri bingung, aku tidak kemana- mana. Aku masih hidup dengan anakku, relasi komunikasi kami masih terjalin baik sebagai ayah, ibu dan anak, bagiku itu sudah cukup. Aku sadar, secara seksual aku sudah tidak dapat menjalankan fungsiku dengan baik, itu alasan pertimbanganku untuk menolak kembali hidup dengannya. Aku tidak akan tega membiarkan dia sendiri terlelap, sementara kami tinggal dalam satu rumah. Aku tidak akan tega membiarkan dia merayuku setiap saat, betapa dia mencintaiku dengan tulus, sementara aku tidak . Aku juga tidak akan bisa melihatnya mendapat cacian dan makian dari keluarga besarku atas apa yang pernah ia lakukan atas aku selama 3 tahun bersamaku. Aku sungguh ingin membebaskannya dari duri atas benci dan dendam. Aku juga mau ia bahagia dengan hdiupnya.
Dan aku tidak bisa lagi membahagiakannya secara lahir batin. Aku sadar sampai dimana porsiku dalam hal ini.
Saat ini aku sedang menikmati hidupku sendiri. Aku bahagia dengan anakku. Aku bahagia dengan keputusanku. Aku bahagia melihat ayah anakku serius dalam pertobatan, bagaimanapun itu baik untuk dirinya, dan posisi dia sebagai ayah anakku. AKu mendukungnya. Aku tak mau menambah beban hidupnya dengan rujuk, karena aku tak yakin bisa membuang perasaan benciku secepat kilat, aku manusia biasa. Sebagai sahabatnya, aku bisa lebih baik dalam berkomunikasi, namun jika aku mengingatnya sebagai suamiku, kuakui aku kerap luap diri. Aku bukan perempuan kasar yang bisa membentak seseorang, atau memelototi dan memaki, namun jika sudah berhadapan dengan dia dan aku ingat atas apa yang ia pernah lakukan, aku khilaf melakukannya saat dia mencoba merayuku untuk kembali.
Aku berusaha keluar dari semua tekanan yang menghimpitku. Aku berusaha untuk jujur dengan diriku sendiri, fokus pada apa yang aku mau. Aku tidak mau satu hariku tidak bernilai apapun. Aku pikir bahagia, sedih, senang, susah hanya akan tercapai jika kita bisa mencintai diri kita sendiri, mendengarkan apa yang diri kita inginkan. Banyak yang mencoba memancing di air keruh dengan posisiku. Aku mencoba bertahan, fokus hidupku adalah kebahagiaan putriku. Hari- hariku kuisi dengan kesibukanku mengumpulkan rejeki. Beruntung Tuhan memberiku bakat menyibak sesuatu yang tersembunyi melalui guratan tangan, dan kartu tarot. Aku bertemu dengan banyak klien, dan semuanya orang- orang dengan masalah hidup yang complicated. Dan aku merasa bersyukur bahwa aku memiliki keberanian untuk meyelesaikan masalahku dengan jujur mendengar apa yang hatiku mau.
Masalah terberatku saat ini adalah meneruskan hidupku, dengan keyakinanku, dengan statusku. Putriku adalah semangat terbesarku, sekaligus alat kontrolku. Aku hanya mencoba mengingatkan diriku sendiri, apa yang kamu cari ?;
"Aku mau bahagia, aku mau berdamai dengan hidupku, dan putriku"
Aku sadar hidup ibarat menanam benih. Dan aku tidak mau memetik hasil yang tidak baik untuk putriku. Godaan datang silih berganti, aku mencoba bertahan pada keyakinanku. Putriku harus hidup dari sesuatu yang baik, dan aku tidak boleh curi- curi kesempatan hanya karena silau. Beberapa pria yang menawarkan janji untuk hidup lebih baik bagiku seakan tdiak mau menyerah. Aku sendiri, tak terbersit ingin berelasi dengan salah satu dengan mereka. AKu masih butuh waktu untuk menyembuhkan traumaku. Dan terimakasih Tuhan masih melindungi kelaminku dan tubuhku.
Aku bicara serius dengan orangtuaku, aku siap sendiri seumur hidupku dengan kayakinanku. Aku punya seorang putri, dia juga perempuan. Aku ingin mengajarkan ia bagaimana kita hidup bertanggung jawab dengan semua keputusan yang kita ambil. Aku masih rindu dengan konsep keluarga nazareth yang kuyakini, kami bisa bertumbuh dalam iman, bukan relasi seksual. Aku berdiskusi serius dengan suamiku masalah ini, dan aku siap jika ia bertemu dengan seorang perempuan yang lebih baik dariku, mengakhiri kesendiriannya dengan pernikahan baru. Aku siap membantunya. Aku hanya mau keluargaku bahagiaku, mereka lepas dari ketakutan atas nasibku. Aku mau anakku bahagia karena ayah dan ibunya belajar berubah dari pengalaman ini. AKu mau suamiku bahagia, ia bisa serius dalam pertobatan, aku sangat mengerti dia terpukul atas peristiwa ini. Dan aku bukan seorang musuh yang bengis membiarkannya mati sendirian.
Ah.....
Aku bersyukur masih banyak yang peduli. Cacian makian, hujatan, gunjingan membuatku belajar mendengar, merenung dan berjuang merubah diriku dari sesuatu yang tidak baik. Pujian, dukungan, dan kepercayaan membuatku belajar untuk bersyukur, menjaga, dan merawat apa yang kita yakini benar untuk selalu diperjuangkan. Aku bahagia dengan keputusanku. Aku tidak sendiri. Aku masih punya keluarga yang merengkuhku dengan amat kuat dan menenangkanku. Aku masih punya anak yang hebat, dia sangat dewasa melebihi aku ibunya. AKu masih punya banyak sahabat yang setia, aku masih punya hari esok yang panjang. Aku masih punya serangkaian waktu yang harus kuisi dengan sesuatu yang berguna bagi diriku, anakku, keluargaku, dan orang- orang yang ada di sekitarku. Aku tidak mau lagi menangis, aku harus bahagia.
Aku berpikir ke arah lain, aku berhak keluar dari keadaan yang sangat tertekan dan membuatku frustasi. Aku seorang pendemdam, dan idealis. Aku sulit melupakan hal- hal menyakitkan yang terjadi pada hidupku. Dan jika kuteruskan pernikahanku dengannya, aku terjebak dalam perasaan berdosa sepanjang hidupku. Aku memebohongi dia, dengan berpura- pura mencintainya. Dia menilaiku terlalu sempurna sebagai istri, bahkan saat terakhir kukatakan aku ingin mengakhiri segalanya, dia masih bertahan dan mencoba untuk menahanku.
Aku pikir dia berhak bahagia, sebagai manusia, dia berhak mendapat seorang perempuan yang bisa mencintainya dengan lebih baik. Aku tidak mau menyudutkan dia secara terus menerus. Laki- laki yang menikahiku seorang laki- laki yang lemah lembut dan sangat romantis. Dia tidak pernah kasar berkata padaku, kecuali dalam keadaan khilaf. Dia menghujaniku dengan pelukan dan ciuman setiap saat. Dia mengatakan betapa ia mencintaiku setiap saat, meskipun aku jarang menjawabnya. Namun, sekali lagi aku sangat jahat jika kuteruskan sandiwaraku, hanya karena ketakutanku pada hukum gereja. Bukankah Tuhan juga tidak suka umatnya berbohong. Aku mencoba menyusun kekuatan atas diriku sendiri, untuk berkata jujur padanya tentang semua yang kusimpan sendiri selama 3 tahun. Menyakitkan, dan dia terlihat sangat shock.
Aku tidak mau mengorbankan siapapun, termasuk anakku. AKu hanya mau mengakhiri relasi seksualku dengan dia melalui pengadilan. Tujuan utamaku bercerai adalah terlepas dari keadaan tertekan, aku mau jiwaku sehat kembali. Aku belum bisa bepikir seperti orangtuaku, mereka menginginkanku pindah keyakinan untuk hidupku selanjutnya. Aku mengerti, perasaan orangtuaku sendiri, mereka masih ingin aku berumahtangga dan memiliki anak. Sejujurnya, aku sudah bahagia dengan anakku. Apalagi yang akan aku kejar, aku sudah bahagia dengan imanku, cukup. AKu hanya mau bahagia, aku mau berdamai dengan Tuhan, hidup dengan benar dan membesarkan putriku dengan baik. Aku bahkan tidak berpikir untuk relasi dengan siapapun termasuk relasi seksual.
Aku bertahan dengan keputusanku. aku melanjutkan perjuanganku melalui pengadilan. Aku tidak akan mundur, kupikir ini jalan terbaik. Suamiku masih memintaku untuk kembali. Aku sendiri bingung, aku tidak kemana- mana. Aku masih hidup dengan anakku, relasi komunikasi kami masih terjalin baik sebagai ayah, ibu dan anak, bagiku itu sudah cukup. Aku sadar, secara seksual aku sudah tidak dapat menjalankan fungsiku dengan baik, itu alasan pertimbanganku untuk menolak kembali hidup dengannya. Aku tidak akan tega membiarkan dia sendiri terlelap, sementara kami tinggal dalam satu rumah. Aku tidak akan tega membiarkan dia merayuku setiap saat, betapa dia mencintaiku dengan tulus, sementara aku tidak . Aku juga tidak akan bisa melihatnya mendapat cacian dan makian dari keluarga besarku atas apa yang pernah ia lakukan atas aku selama 3 tahun bersamaku. Aku sungguh ingin membebaskannya dari duri atas benci dan dendam. Aku juga mau ia bahagia dengan hdiupnya.
Dan aku tidak bisa lagi membahagiakannya secara lahir batin. Aku sadar sampai dimana porsiku dalam hal ini.
Saat ini aku sedang menikmati hidupku sendiri. Aku bahagia dengan anakku. Aku bahagia dengan keputusanku. Aku bahagia melihat ayah anakku serius dalam pertobatan, bagaimanapun itu baik untuk dirinya, dan posisi dia sebagai ayah anakku. AKu mendukungnya. Aku tak mau menambah beban hidupnya dengan rujuk, karena aku tak yakin bisa membuang perasaan benciku secepat kilat, aku manusia biasa. Sebagai sahabatnya, aku bisa lebih baik dalam berkomunikasi, namun jika aku mengingatnya sebagai suamiku, kuakui aku kerap luap diri. Aku bukan perempuan kasar yang bisa membentak seseorang, atau memelototi dan memaki, namun jika sudah berhadapan dengan dia dan aku ingat atas apa yang ia pernah lakukan, aku khilaf melakukannya saat dia mencoba merayuku untuk kembali.
Aku berusaha keluar dari semua tekanan yang menghimpitku. Aku berusaha untuk jujur dengan diriku sendiri, fokus pada apa yang aku mau. Aku tidak mau satu hariku tidak bernilai apapun. Aku pikir bahagia, sedih, senang, susah hanya akan tercapai jika kita bisa mencintai diri kita sendiri, mendengarkan apa yang diri kita inginkan. Banyak yang mencoba memancing di air keruh dengan posisiku. Aku mencoba bertahan, fokus hidupku adalah kebahagiaan putriku. Hari- hariku kuisi dengan kesibukanku mengumpulkan rejeki. Beruntung Tuhan memberiku bakat menyibak sesuatu yang tersembunyi melalui guratan tangan, dan kartu tarot. Aku bertemu dengan banyak klien, dan semuanya orang- orang dengan masalah hidup yang complicated. Dan aku merasa bersyukur bahwa aku memiliki keberanian untuk meyelesaikan masalahku dengan jujur mendengar apa yang hatiku mau.
Masalah terberatku saat ini adalah meneruskan hidupku, dengan keyakinanku, dengan statusku. Putriku adalah semangat terbesarku, sekaligus alat kontrolku. Aku hanya mencoba mengingatkan diriku sendiri, apa yang kamu cari ?;
"Aku mau bahagia, aku mau berdamai dengan hidupku, dan putriku"
Aku sadar hidup ibarat menanam benih. Dan aku tidak mau memetik hasil yang tidak baik untuk putriku. Godaan datang silih berganti, aku mencoba bertahan pada keyakinanku. Putriku harus hidup dari sesuatu yang baik, dan aku tidak boleh curi- curi kesempatan hanya karena silau. Beberapa pria yang menawarkan janji untuk hidup lebih baik bagiku seakan tdiak mau menyerah. Aku sendiri, tak terbersit ingin berelasi dengan salah satu dengan mereka. AKu masih butuh waktu untuk menyembuhkan traumaku. Dan terimakasih Tuhan masih melindungi kelaminku dan tubuhku.
Aku bicara serius dengan orangtuaku, aku siap sendiri seumur hidupku dengan kayakinanku. Aku punya seorang putri, dia juga perempuan. Aku ingin mengajarkan ia bagaimana kita hidup bertanggung jawab dengan semua keputusan yang kita ambil. Aku masih rindu dengan konsep keluarga nazareth yang kuyakini, kami bisa bertumbuh dalam iman, bukan relasi seksual. Aku berdiskusi serius dengan suamiku masalah ini, dan aku siap jika ia bertemu dengan seorang perempuan yang lebih baik dariku, mengakhiri kesendiriannya dengan pernikahan baru. Aku siap membantunya. Aku hanya mau keluargaku bahagiaku, mereka lepas dari ketakutan atas nasibku. Aku mau anakku bahagia karena ayah dan ibunya belajar berubah dari pengalaman ini. AKu mau suamiku bahagia, ia bisa serius dalam pertobatan, aku sangat mengerti dia terpukul atas peristiwa ini. Dan aku bukan seorang musuh yang bengis membiarkannya mati sendirian.
Ah.....
Aku bersyukur masih banyak yang peduli. Cacian makian, hujatan, gunjingan membuatku belajar mendengar, merenung dan berjuang merubah diriku dari sesuatu yang tidak baik. Pujian, dukungan, dan kepercayaan membuatku belajar untuk bersyukur, menjaga, dan merawat apa yang kita yakini benar untuk selalu diperjuangkan. Aku bahagia dengan keputusanku. Aku tidak sendiri. Aku masih punya keluarga yang merengkuhku dengan amat kuat dan menenangkanku. Aku masih punya anak yang hebat, dia sangat dewasa melebihi aku ibunya. AKu masih punya banyak sahabat yang setia, aku masih punya hari esok yang panjang. Aku masih punya serangkaian waktu yang harus kuisi dengan sesuatu yang berguna bagi diriku, anakku, keluargaku, dan orang- orang yang ada di sekitarku. Aku tidak mau lagi menangis, aku harus bahagia.