May 21, 2008

KELUAR DARI TEKANAN

Mematahkan kebiasaan dan pola pikir yang sudah lama dan telanjur tertanam sejak lama, dan bahkan sudah menjadi kesepakatan sosial sangat sulit. Beberapa kali aku bicara tentang mengakhiri semuanya, aku katakan aku tidak mencintainya, aku merasa tidak bernilai, aku seperti pelacur rendahan, aku tidak bernilai. Dan itu tidak mebantuku keluar dari masalah. Aku begitu terkungkung dengan aturan gereja. Perasaan takut berdosa , perasaan lain, perasaan malu. Bagaimana tidak, aku melakukan kebiasaan yang Tuhan tidak suka, aku minum. Aku berkecamuk dalam konflik batin yang amat panjang. Aku minum agar lepas kesadaran, jika aku lepas kesadaran aku bisa memberikan yang terbaik untuk suamiku. Kuakui, aku sering memaksakan diri untuk berpura- pura menikmati, sejujurnya hati kecilku menolak.

Aku berpikir ke arah lain, aku berhak keluar dari keadaan yang sangat tertekan dan membuatku frustasi. Aku seorang pendemdam, dan idealis. Aku sulit melupakan hal- hal menyakitkan yang terjadi pada hidupku. Dan jika kuteruskan pernikahanku dengannya, aku terjebak dalam perasaan berdosa sepanjang hidupku. Aku memebohongi dia, dengan berpura- pura mencintainya. Dia menilaiku terlalu sempurna sebagai istri, bahkan saat terakhir kukatakan aku ingin mengakhiri segalanya, dia masih bertahan dan mencoba untuk menahanku.

Aku pikir dia berhak bahagia, sebagai manusia, dia berhak mendapat seorang perempuan yang bisa mencintainya dengan lebih baik. Aku tidak mau menyudutkan dia secara terus menerus. Laki- laki yang menikahiku seorang laki- laki yang lemah lembut dan sangat romantis. Dia tidak pernah kasar berkata padaku, kecuali dalam keadaan khilaf. Dia menghujaniku dengan pelukan dan ciuman setiap saat. Dia mengatakan betapa ia mencintaiku setiap saat, meskipun aku jarang menjawabnya. Namun, sekali lagi aku sangat jahat jika kuteruskan sandiwaraku, hanya karena ketakutanku pada hukum gereja. Bukankah Tuhan juga tidak suka umatnya berbohong. Aku mencoba menyusun kekuatan atas diriku sendiri, untuk berkata jujur padanya tentang semua yang kusimpan sendiri selama 3 tahun. Menyakitkan, dan dia terlihat sangat shock.

Aku tidak mau mengorbankan siapapun, termasuk anakku. AKu hanya mau mengakhiri relasi seksualku dengan dia melalui pengadilan. Tujuan utamaku bercerai adalah terlepas dari keadaan tertekan, aku mau jiwaku sehat kembali. Aku belum bisa bepikir seperti orangtuaku, mereka menginginkanku pindah keyakinan untuk hidupku selanjutnya. Aku mengerti, perasaan orangtuaku sendiri, mereka masih ingin aku berumahtangga dan memiliki anak. Sejujurnya, aku sudah bahagia dengan anakku. Apalagi yang akan aku kejar, aku sudah bahagia dengan imanku, cukup. AKu hanya mau bahagia, aku mau berdamai dengan Tuhan, hidup dengan benar dan membesarkan putriku dengan baik. Aku bahkan tidak berpikir untuk relasi dengan siapapun termasuk relasi seksual.

Aku bertahan dengan keputusanku. aku melanjutkan perjuanganku melalui pengadilan. Aku tidak akan mundur, kupikir ini jalan terbaik. Suamiku masih memintaku untuk kembali. Aku sendiri bingung, aku tidak kemana- mana. Aku masih hidup dengan anakku, relasi komunikasi kami masih terjalin baik sebagai ayah, ibu dan anak, bagiku itu sudah cukup. Aku sadar, secara seksual aku sudah tidak dapat menjalankan fungsiku dengan baik, itu alasan pertimbanganku untuk menolak kembali hidup dengannya. Aku tidak akan tega membiarkan dia sendiri terlelap, sementara kami tinggal dalam satu rumah. Aku tidak akan tega membiarkan dia merayuku setiap saat, betapa dia mencintaiku dengan tulus, sementara aku tidak . Aku juga tidak akan bisa melihatnya mendapat cacian dan makian dari keluarga besarku atas apa yang pernah ia lakukan atas aku selama 3 tahun bersamaku. Aku sungguh ingin membebaskannya dari duri atas benci dan dendam. Aku juga mau ia bahagia dengan hdiupnya.
Dan aku tidak bisa lagi membahagiakannya secara lahir batin. Aku sadar sampai dimana porsiku dalam hal ini.

Saat ini aku sedang menikmati hidupku sendiri. Aku bahagia dengan anakku. Aku bahagia dengan keputusanku. Aku bahagia melihat ayah anakku serius dalam pertobatan, bagaimanapun itu baik untuk dirinya, dan posisi dia sebagai ayah anakku. AKu mendukungnya. Aku tak mau menambah beban hidupnya dengan rujuk, karena aku tak yakin bisa membuang perasaan benciku secepat kilat, aku manusia biasa. Sebagai sahabatnya, aku bisa lebih baik dalam berkomunikasi, namun jika aku mengingatnya sebagai suamiku, kuakui aku kerap luap diri. Aku bukan perempuan kasar yang bisa membentak seseorang, atau memelototi dan memaki, namun jika sudah berhadapan dengan dia dan aku ingat atas apa yang ia pernah lakukan, aku khilaf melakukannya saat dia mencoba merayuku untuk kembali.

Aku berusaha keluar dari semua tekanan yang menghimpitku. Aku berusaha untuk jujur dengan diriku sendiri, fokus pada apa yang aku mau. Aku tidak mau satu hariku tidak bernilai apapun. Aku pikir bahagia, sedih, senang, susah hanya akan tercapai jika kita bisa mencintai diri kita sendiri, mendengarkan apa yang diri kita inginkan. Banyak yang mencoba memancing di air keruh dengan posisiku. Aku mencoba bertahan, fokus hidupku adalah kebahagiaan putriku. Hari- hariku kuisi dengan kesibukanku mengumpulkan rejeki. Beruntung Tuhan memberiku bakat menyibak sesuatu yang tersembunyi melalui guratan tangan, dan kartu tarot. Aku bertemu dengan banyak klien, dan semuanya orang- orang dengan masalah hidup yang complicated. Dan aku merasa bersyukur bahwa aku memiliki keberanian untuk meyelesaikan masalahku dengan jujur mendengar apa yang hatiku mau.

Masalah terberatku saat ini adalah meneruskan hidupku, dengan keyakinanku, dengan statusku. Putriku adalah semangat terbesarku, sekaligus alat kontrolku. Aku hanya mencoba mengingatkan diriku sendiri, apa yang kamu cari ?;

"Aku mau bahagia, aku mau berdamai dengan hidupku, dan putriku"

Aku sadar hidup ibarat menanam benih. Dan aku tidak mau memetik hasil yang tidak baik untuk putriku. Godaan datang silih berganti, aku mencoba bertahan pada keyakinanku. Putriku harus hidup dari sesuatu yang baik, dan aku tidak boleh curi- curi kesempatan hanya karena silau. Beberapa pria yang menawarkan janji untuk hidup lebih baik bagiku seakan tdiak mau menyerah. Aku sendiri, tak terbersit ingin berelasi dengan salah satu dengan mereka. AKu masih butuh waktu untuk menyembuhkan traumaku. Dan terimakasih Tuhan masih melindungi kelaminku dan tubuhku.

Aku bicara serius dengan orangtuaku, aku siap sendiri seumur hidupku dengan kayakinanku. Aku punya seorang putri, dia juga perempuan. Aku ingin mengajarkan ia bagaimana kita hidup bertanggung jawab dengan semua keputusan yang kita ambil. Aku masih rindu dengan konsep keluarga nazareth yang kuyakini, kami bisa bertumbuh dalam iman, bukan relasi seksual. Aku berdiskusi serius dengan suamiku masalah ini, dan aku siap jika ia bertemu dengan seorang perempuan yang lebih baik dariku, mengakhiri kesendiriannya dengan pernikahan baru. Aku siap membantunya. Aku hanya mau keluargaku bahagiaku, mereka lepas dari ketakutan atas nasibku. Aku mau anakku bahagia karena ayah dan ibunya belajar berubah dari pengalaman ini. AKu mau suamiku bahagia, ia bisa serius dalam pertobatan, aku sangat mengerti dia terpukul atas peristiwa ini. Dan aku bukan seorang musuh yang bengis membiarkannya mati sendirian.

Ah.....
Aku bersyukur masih banyak yang peduli. Cacian makian, hujatan, gunjingan membuatku belajar mendengar, merenung dan berjuang merubah diriku dari sesuatu yang tidak baik. Pujian, dukungan, dan kepercayaan membuatku belajar untuk bersyukur, menjaga, dan merawat apa yang kita yakini benar untuk selalu diperjuangkan. Aku bahagia dengan keputusanku. Aku tidak sendiri. Aku masih punya keluarga yang merengkuhku dengan amat kuat dan menenangkanku. Aku masih punya anak yang hebat, dia sangat dewasa melebihi aku ibunya. AKu masih punya banyak sahabat yang setia, aku masih punya hari esok yang panjang. Aku masih punya serangkaian waktu yang harus kuisi dengan sesuatu yang berguna bagi diriku, anakku, keluargaku, dan orang- orang yang ada di sekitarku. Aku tidak mau lagi menangis, aku harus bahagia.

May 15, 2008

MENGENALNYA SETELAH MENIKAH

Aku percaya pada kebohonganku sendiri,ketika aku berpikir bahwa suamiku akan berubah setelah menikah.Aku pikir,kebiasaannya tidur dengan pelacur,menyimpan gambar-gambar cabul,mengintip hal berbau sexual adalah karena dia tidak memiliki kekasih sampai usia 26 tahun.Saat itu menenangkan diriku sendiri,menghalau pikiran burukku sendiri,suamiku tipe sex addict.Aku menerima alasan-alasannya,termasuk mencoba mengerti bagaimana ia dibesarkan dalam penjara yang dibuat ibunya sendiri.Aku seperti melihat gunung es,dan aku sendirian di atas kapal yg berlayar malam hari tanpa kapten.Hati kecilku mengatakan,pernikahanku tidak akan lama sejak 2 hari sebelum kuucapkan janji di depan Tuhan.

Aku bimbang dan sangat tertekan dengan kecelakaan kecil menjelang pernikahan.Ketidakpekaannya membuat aku dan orangtua terlibat adu mulut,kurang dari 12 jam sebelum menuju altar.Dalam perjalanan menuju altar,aku memaksakan diriku untuk tersenyum.Suamiku memintaku beberapa kali untuk tersenyum.Dan sepulang gereja,dalam rangkaian upacara adat yang kujalani,lagi-lagi aku adu mulut dengan ibu bapakku.Hati kecilku mulai bilang,kelak inilah masalah besar,selain sexual.Suamiku beberapa kali menanyakan uang pembayaran penari dalam upacara adat,memintaku menghubungi travel agent untuk tiket pulang mereka.Dia berulang kali membahas hal tersebut,termasuk beberapa menit setelah sakramen selesai.Saat itu kesal,karena aku sudah mengatakannya 2 hari sebelum pernikahan bahwa semua sudah kusiapkan.Dia memaksaku menanyakan hal tersebut pada orangtuaku,dan pertengkaran pecah.Juru rias memperbaiki make up-ku yang luntur karena aku menangis.Ibuku memakiku tidak tahu diri,tidak tau perasaan,cinta buta dsb.Yah aku menikah di gereja,sementara keluargaku adalah muslim,dan tekanan suamiku membuatku serba salah.Hari itu aku ingin teriak

"bisakah kubatalkan pernikahan? Laki-laki yang baru saja kunikahi ternyata anak kecil yang manja"

Aku terjebak dengan lakon yang harus kujalani seumur hidup.Aku terus meyakinkan diri sendiri,aku bisa mengubah suamiku.Aku menikah dengannya seumur hidup,dan aku bisa merubahnya.

Apa yang menyebabkan semua itu?Aku berpikir ah..itu karena pola asuh.Akhirnya setelah kujalani,seks dan pernikahan yang kupikir dan menyenangkan,justru membuatku menderita.Aku mulai berpikir,di dunia ini tidak ada cukup seks untuk memuaskannya,bahkan aku sudah menjadi miliknya,seutuhnya.Aku mati-matian belajar seks dari buku-buku panduan,dan beberapa film biru.Aku sangat ketakutan aku tidak dapat memuaskannya,dan ia kembali pada kebiasaan lamanya.

Astaga..duniaku serasa kiamat justru saat aku sedang hamil muda.Beberapa kali dia mengajakku berhubungan secara anal.Dan itu bukan jenis seks yang aku kenal dan kupelajari.Aku panik.Kutolak secara tegas keinginannya.Ketidakwajaran ini berlanjut ke ketidakwajaran lainnya.Aku menenangkan diri,terus berdoa aku tidak masuk dalam hubungan seksual yang Tuhan tidak suka,dan sia-sia.

Awal pernikahan aku menikmati,dia mengatakan seksku hebat,dia menikmati dan ketagihan tidak cukup satu kali dalam semalam.Aku melambung karena sebagai istri aku merasa dibutuhkan,dan seks adalah bagian dari kasih sayang,itu yang harus kupenuhi sesuai janji sakramen.Namun sejak dia mengatakan ingin anal seks,kepergok memiliki ribuan file porno,ikut klub penggila pornografi,memasang poster wanita setengah telanjang sebesar pintu di dinding kamar dan ruang tamu kami(aku kos sampai 6 bulan usia kehamilan) mustahil bagiku untuk bisa ikhlas berhubungan seks dengannya.Saya menutupi kebencian dengan pura-pura cepat orgasme dan sangat terangsang di awal hubungan agar permainan cepat usai.Saya membenci kebiasaannya meminta oral seks yang kadang-kadang tanpa didahului foreplay.Saya pernah mengoralnya sambil menangis.

Setelah anakku lahir,rasa jijikku,rasa benciku padanya makin menjadi,masalah seks keuangan bercampur jadi pemicunya. Aku baru saja melahirkan,belum ada 7hari usia bayi kami.Saat itu walaupun caesar,aku putuskan merawat sendiri bayiku.Aku bahkan tak pedulikan sakitnya bekas operasi yang masih basah,karena aku mau menyusui,menggendong,menidurkan,dan memandikan bayiku.Seharusnya aku tidak banyak gerak.Aku tidak butuh siapapun membantuku,rasa cintaku yang besar pada putriku menghapus sakitku.Rasa sakitku dimulai ketika ia memilih tetap pergi ke pesta pernikahan saudaranya ketika bayi kami berumur 5 hari.Aku masih butuh dia menemaniku merawat bayi kami,tapi dia memilih tetap pergi.Saat itu aku menangis sejadinya di depan ibuku.Ibuku memandangku sinis,dan mengatakan

"Ini laki-laki inisial D,katholik yang kamu cari sampai gila,dan mengorbankan keluarga besarmu.Katamu kamu bisa merubahnya."

Aku yang saat itu sudah terluka semakin terluka dan tertekan dengan kata-kata ibuku.Ketidakberuntunganku makin bertambah ketika aku bertengkar dengan suamiku masalah steamer dan bantal bayi.

Aku meminta dia membelikan alat steam dan sterilasi untuk dot bayiku.Aku memiliki problem dengan putingku,sehingga bayiku tidak bisa menyusu normal. Air susuku lancar,bahkan berlebih. Setiap putriku tidur,aku memompanya dengan tangan menampung dalam botol dot dan menyimpannya dalam lemari pendingin,menghangatkannya dalam rantang yang kuisi air panas saat bayiku menangis minta susu.

Aku tidak pernah minta apapun pada suamiku. Saat itu ketika ia menghubungiku via ponsel,aku memintanya membelikan alat pompa elektrik ( dari buku yang kubaca jenis ini lebih maksimal dan sangat efisien waktu), alat steam dan steril (dari buku yang kubaca selain lebih cepat menghangatkan,alat ini otomatis mengatur suhu susu,dan mensterilkan dot sehingga mengurangi resiko terinfeksi bakteri). Benda lain yang kupesan adalah bantal dari bahan yang nyaman dan washable,karena bisa kupakai bergantian,diapers dengan merk tertentu (hanya merk ini yang menyediakan size new born). Aku pikir,ketika bayi kami lahir,dia tidak lagi jadi mesin kalkulator.Aku berharap dia mengabulkannya,sebagai bentuk kesiapannya sebagai ayah sekaligus memenuhi sarana bagi bayi kami,sebagai wujud perhatian dan kasih.

Hari itu aku bertengkar via telephon, ibuku mendengar semuanya.Suamiku mengatakan semua yang kupesan harganya terlalu mahal.Saat itu hatiku benar-benar terluka.Aku tahu berapa gajinya,dan aku sudah mentotal berapa jumlahnya,dan jumlah itu tidak sampai 20%. Bagaimana bisa dia berkata demikian,bukankah itu untuk anak sendiri.

Ibuku memelukku, menenangkanku, mengingatkanku untuk sabar dan mengontrol emosi,karena aku menyusui. Saat itu ibu menawariku membeli semua kebutuhan dengan uang beliau, namun kutolak. Aku hanya berpikir, biar suamiku belajar jadi ayah yang bertanggung jawab.Aku tegas katakan padanya semua yang kuminta demi anak, tidak ada terlintas aku mau dinilai orang kaya.

Dia akhirnya mau juga memenuhi , itupun tidak seperti yang kusyaratkan.Dia hanya membeli steamer tanpa alat sterilier ,dia membelikanku alat pompa manual,bantal unwashable dan diapers yang covernya dari plastik. Dan seperti biasa, dia memilih karena harganya paling murah. Beberapa hari kemudian anakku iritasi diaper, dan itu makin membuatku tertekan.

Aku juga merawat bayiku sendiri tanpa pengasuh. Harapan memiliki pasangan yang mau ikut peduli seolah makin jauh.

Hal menyakitkan kuterima lagi. Aku harus melayani suamiku belum genap 2 minggu setelah aku melahirkan.Vaginaku masih nyeri dan mengeluarkan darah nifas, sementara perutku masih nyeri akibat operasi. Dia tidak membantuku merawat bayi kami ketika tengah malam, namun ia memberiku tambahan kelelahan dengan melayani kebutuhan sexualnya . Aku makin sering mual dan muntah jika ingat sikapnya.Beberapa kali suamiku memergokiku mual-mual lalu muntah. Bodohnya, aku mengatakan itu efek pil kb yang bru kuminum 1 butir setelah1 bulan aku melahirkan. Aku menutupi sinyal ktidaknyamananku secara psikologis, dengan alsan lain yang bisa lebih diterima dan tidak menyakitinya.

Aku mencoba menenangkan diriku sendiri, menyemangati diriku sendiri agar tidak makin larut dalam stress. Aku tidak mau psikologiku terganggu dan berpengaruh secara emosional pada bayiku. Kondisi ini sangat menyiksaku. Aku masih tinggal dengan orangtua, sementara suamiku di kota lain. Tak jarang aku menangis sendiri ketika aku tertekan. Di depan orangtua aku terlihat bahagia dan sangat menikmati status baru kami sebagai orangtua baru.

Ketidaknyamanan seksualku semakin meningkat. Suamiku seolah tak bisa menahan keinginan sexualnya, bahkan saat menstruasi. Beberapa kali aku menolaknya,memberinya penjelasan hal itu dosa dan memiliki resiko pada organ reproduksiku. Hal ini berlangsung sampai tahun ke 3. Aku menjadi perempuan tidak punya nilai dan sangat rendah. Aku jijik dan benci bukan pada dirinya, tapi juga pada diriku sendiri. Terkadang aku harus melayani suami di depan anak.Aku juga sangat tidak nyaman dengan kebiasaannya bertelanjang di depan putri kami, atau melanjutkan menonton film porno saat aku membawa putri kami tidur bersama . Aku sudah memintanya berhenti namun dia selalu beralasan putri kami masih bayi.

Usia 8 bulan putriku memiliki kebiasaan mengempotkan mulutnya. Aku ketakutan dan berpikir adegan oral sex dalam film porno itulah pemicunya.Ketakutan pada perkembangan putriku makin memuncak ketika beberapa kali anakku memperingatkan ayahnya menutup penis saat sedang bersama. Dia juga pernah bertanya mengapa penis ayahnya tegak sambil memegangnya dan usia anakku belum genap 3 tahun.

Aku seperti hidup dalam duniaku sendiri,aku lari dari rumah di tengah malam selama beberapa jam. Berjalan kaki sendiri di tengah malam, membiarkan putriku dengan ayahnya. Saat itu aku ingin suamiku mau membantuku berjaga untuk bayi kami, namun ia menolak dengan alasan capek kerja.Benda yang kucari di tengah malam itu adalah rokok. Usia putri kami belum genap 4 bulan saat aku larimeninggalkan rumah di tengah malam buta. Aku berjalan kaki, hanya menghisap rokok yang membantu meringankan rasa tertekan dan kecewaku.

Aku mulai kecanduan rokok.Aku hanya sibuk merawat anakku, aku tak pernah merawat diri. Aku menghabiskan malam bercinta dengan rokok setiap tengah malam. Aku tak lagi memperhatikan penampilanku. Beberapa teman yang datang berkunjung selalu berkomentar, aku kusam, dekil dan terlihat tua. Aku sudah mencoba menutupinya dengan alasan, aku kelelahan dan keasyikan mengurus putri kami. Aku semakin tak bisa lepas dari rokok. Setiap saat ketika aku mulai kalut dengan keadaanku sendiri, rokoklah teman pelarianku.

Suamiku seorang yang lemah lembut. DIa tidak pernah berkata kasar, apalagi menyakitiku secara fisik. Aku sendiri mencoba menikmati pernikahan kami, aku menjalankan fungsiku sebagai istri yang total. Berpikir keras bagaimana membahagiakan suamiku dan anakku. Aku lupa, diriku perlu dirawat dan diperhatikan. Aku mengabaikan kebutuhan akan diriku sendiri, terutama masalah penampilan. Hiburan yang melegakanku, aku tak pernah jauh dari sahabat- sahabat yang masih kerap datang mengunjungi keluargaku. Suamiku bukan tipe pencemburu, ia membeaskan aku bergaul dengan siapa saja. Dia mengerti bagaimana aku, bagaimana pergaulanku, siapa saja sahabatku. Namun setiap di atas tempat tidur, aku kerap merasa jijik dan mual. Aku mecoba menutupinya, jika moodku hilang aku lebih sibuk menghabiskan waktuku di depan laptopku, menulis dan menulis.

Kebiasaan seksualnya menurutku sedikit menyimpang. Saat itu aku menenagkan diriku sendiri dengan berpikir, suamiku kurang pengetahuan masalah seksual dan etika seksual. Dari hobinya menikmati gambar atau video cabul, bergabung dengan klub penikmat pornografi, memotret perempuan- perempuan di bagian tubuh tertentu, berkirim gambar cabul dengan seorang sahabatku perempuan di belakangku, membahas tentang perempuan yang membuat birahi di kala ia sedang tugas luar kota dengan sahabatnya baru sebagian yang membuatku merasa tidak nyaman. Aku semakin ketakutan, dan cemas dengan pikiranku sendiri, ada yang salah dengan suamiku.

Beberapa kali dia mengintip vaginaku saat aku kencing, membayangkan kami berhubungan seksual sembari aku kencing, sampai sodomi. Dan kekhawatiranku terjadi. Suatu malam, setelah kami pergi minum- minum, dia memasukan penisnya dalam anusku tanpa kompromi dan ijin terlebih dahulu. Suamiku tidak minum malam itu, hanya aku dan beberapa teman yang menegak habis ABsolut Vodka dan jackD. Malam itu aku jadi sedikit mabok, namun aku masih sadar. Aku begitu hancur saat dia menyodomiku. Aku menagis sejadinya, suamiku sendiri menangis dan berulang kali minta maaf. Sampai pagi ia bersikap lebih lembut dibanding biasanya. Aku memaafkannya meskipun dalam hati tidak.

Kondisi kejiwaanku semakin kacau. Aku seperti perempuan frustasi. Aku masih bisa jalankan tugasku sebagai ibu rumahtangga. Suamiku sendiri begitu bangga dengan caraku merawat dan mendidik putri kami, dan bagaimana aku merawtnya sebagai suami. Kadang kerap aku bimbang. AKu mau akhiri semuanya, namun aku tidak tahu bagaimana caranya. Aku terus menutupi ketidak bahagiaanku. Dan berrhasil, banyak teman mengidolakan kami sebagai pasangan harmonis dan super romantis. Aku sendiri tidak pernah membagi kepedihanku pada sahabat- sahabatku. Hanya pada dua orang, seorang sahabat laki- laki dan seorang sahabat perempuan yang mengethaui bagaimana kondisiku sebenarnya.

Setiap malam aku kesulitan dengan tidur. Pikiranku yang tidak tenang membuat aku terus berpikir keras bagaiman caranya aku keluar dari kondisiku yang tidak nyaman. Maslah seksual, masalah keuangan sangat membebani diriku. Aku pernah dua kali percobaan bunuh diri, karena aku frusatasi dengan kenyataan yang samasekali tidak pernah kubayangkan sebelumnya. Keinginannku untuk memberikan yang terbaik untuk putriku kerap bebenturan dengan cara suamiku mengelola kauangan. Aku melakukan kesalahan fatal dan menyengsarakan diriku sendiri. Aku bahkan tidak memiliki tabungan di saat aku meninggalakn rumah, sebelum aku menggugat cerai suamiku. Semua uang yang aku punya habis aku investasikan untuk kebutuhan putriku.


Kelalahan pikiran dan fisik mulai menggerogoti hidupku dengan lebih ganas. Dan aku tersentak. Saat mengingat dia memakiku anjing. Sejak itulah aku jadi sering mengamati anjing. Dan aku bersyukur. Aku belajar keluar dari masalh rumahtanggaku ketika aku menyadari, aku lebih bodoh dari seekor anjing. Anjing saja pasti lari jika dia tidak nyaman atau diserang. Dan aku masih bertahan. Bodohnya aku.



May 13, 2008

PERUBAHAN

Aku takut dengan perubahan,sempat. Bagi sebagian besar orang perubahan hampir selalu disikapi dengan takut,cemas dan was-was.

Aku mengalami masa sulit,tertekan,merasa direndahkan,tidak bernilai. Aku memainkan sandiwara istimewa dalam rumahtanggaku.Aku menunggu respon,agar suamiku memberi tanggapan,dan bertanya apakah aku ada masalah. Aku sering menyendiri menunggu suamiku minta maaf.

Malam itu dia mengataiku main gila dengan sahabatku,karena aku pergi dengannya hampir 6 jam. Aku menjelaskan,ada proyek rahasia dan ia tetap memaksaku mengakui apa yang jadi tuduhannya. Akhirnya kemarahanku tak terbendung. Kubuka hal sebenarnya,aku pergi dengan laki-laki itu membuat lagu,merekamnya, dan menjadikannya kado ulang tahun suami.

Saat itu aku sangat terpukul dan tertekan.Aku terjebak pada perasaan kasihan pada diri sendiri dan menangis,berharap suamiku akan merasa tidak enak ketika melihatku menangis. Aku menulis di blog bagaimana perasaanku,rasa sakit yang ia timbulkan dan kata-kata jahat yang merendahkan kesetiaan dan rasa sayangku. Aku memberikan alamat blogku,dan suamiku baru membaca isi blogku,setelah aku memutuskan cerai.

Aku punya andil,waktu itu aku tidak pernah konfrontasi secara langsung.Suamiku pikir aku hanya main-main setiap aku bilang cerai,dan 2-3 hari berikutnya aku tersenyum dan menjalani tugas ibu rumahtanggaku dengan normal.

Setelah 3 tahun 6 bulan aku mulai bertanya. Apa alasanku yang membuat aku tetap bertahan? Kondisiku sebagai korban sudah jadi urat dan mengakar dalam diri,bahkan aku menganggap seperti sesuatu yang sifatnya akrab. Aku sangat tidak nyaman.Aku belajar menyadarkan diri sendiri bahwa hal yang sudah akrab dan rasa nyaman jelas beda.

Aku mulai membuka ingatan kapan hal-hal yang sudah akrab itu tidak lagi nyaman atau jadi sesuatu yang tidak kita inginkan. Aku mulai melihat nilai dan yang dibawa untukku.Itu yang menegaskan keyakinan bahwa kita tidak layak menerima kebaikan dan penghargaan ? Aku menyadari itukah yang menahanku supaya tidak melakukan perubahan? Apakah hal-hal yang kuakrabi menyakiti jiwa.

Sebenarnya,melindungi diri sendiri seperti yang sekarang sedang kujalani agak menimbulkan intimidasi. Kadang tergoda untuk mundur dan mencari persetujuan dari orang lain,setelah menjelaskan aku tidak akan mentoleransi sikap suami. Namun,setelahnya aku melakukan hal besar dalam hidupku.Keputusanku bercerai adalah keputusan pertama kali dalam hidupku yang kubangun dari kejujuran mendengar jiwaku sendiri

"aku tidak mau jadi korban,dan terus pura-pura bahagia padahal sangat terluka."

Aku sedang menikmati kekuatan baru,dan ini adalah cara hidupku yang bru. Pengaruhnya? Luar biasa,aku punya emosi baru,dan mendapatkan diriku secara utuh termasuk merespon apa yang jadi kebutuhan jiwa.Dan aku tidak akan mau melepasnya lagi.

Perasaan baru ini yang memunculkan perubahan,dan aku belajar bahwa berubah itu ternyata ada bagusnya juga.

Mau menunggu? Atau punya nyali untuk perubahan?

Sedih sebentar saja ya,kalau berani dgn perubahan bersiap senang selamanya.

BERHENTI JADI KORBAN

Aku putuskan berhenti jadi korban.Lelah juga 3 tahun jadi korban. Berat resikonya,aku sendiri hampir menyerah,karena aku tipe perempuan yang tidak tegaan.

Menjadi korban tidak selalu harus mengalami penganiayaan atau kekerasan fisik.Kadang kita terpaksa melakukan pekerjaan atau tugas kotor untuk oranglain atau pasangan. Kita menerima itu dan mereka membutuhkan kerja keras,sementara kita tampak tidak bisa mengatakan tidak.

Contoh kisah sahabatku.Aku mengenalnya sebagai perempuan dengan prinsip kuat. Dia vokal,dan selalu berani berkata tidak untuk apapun yang bertentangan dengan dirinya. Namun laki-laki itu pacarnya seolah beku dan memanfaatkan rasa cinta yang begitu besar atas diri sahabatku.
Sahabatku,perempuan itu,dia rela menunggu beberapa jam untuk laki-laki yang ia sebut pacarnya. Laki-laki itu menerima telepon masuk dari staff barunya di kantor,seorang perempuan,meninggalkan sahabatku begitu saja,tanpa meminta ijin,atau sekedar basa-basi membuat alasan mengapa pembicaraan itu berlangsung lama dan ia harus berpindah menjauh dari pacar.

Rasa takut untuk konfrontasi dengan orang lain juga menjadikan kita korban.Situasi ini paling sering kualami.

Teman-teman,atau bahkan sahabat dekat kadang memperlakukan kita dengan seenaknya,misal membatalkan rencana pada saat-saat terakhir untuk hal lain yang belum tentu terjadi,dan mereka memahami bahwa kita tidak akan marah. Intinya kita menerima saja semua tindakan mereka tanpa mengeluh.Kita bahkan masih bisa tersenyum.

Aku pernah alami situasi sulit ini,dan mencoba untuk tidak masuk lagi dalam situasi tersebut.

Aku tidak mau lagi luluh tersenyum,memaafkan dalam waktu singkat ketika suamiku merayu dan mengingatkanku tentang janji nikah. Aku berpikir aku juga punya andil,memaafkannya selalu setelah ia melukaiku. Tersenyum padanya kurang dari 6 jam setelah dia memakiku anjing.

Dia tahu aku tipe tidak tega dan sulit menolak. Jadi pada saat aku hamil muda,aku hanya tersenyum ketika ia memberiku jatah makan siang 5-10 ribu selama hampir 5 bulan.

Dia tahu aku pasti tidak akan menuntut menyerahkan gaji bulanannya karena aku dinilai pengertian,nrimo dan cuek. Berapapun yang ia beri aku terima,aku juga tidak pernah complint makan lotek tiap siang.

Hgh..aku belajar lebih dalam tentang cinta dan respek bisa berjalan seimbang. Aku belajar dari caraku menyikapi kemanjaannya. Dia tahu aku menyayanginya,tidak pernah berkata kasar,marah dan memukulnya.Sekarang dia 3 tahun. Dan ia mulai bisa memanfaatkan kelembutanku. Terkadang apa yang diinginkannya membuatku merasa jadi korban. Saat itu dia sakit tenggorokan.Dulu sampai umur 2 tahun aku memberinya makanan cair tiap ia susah makan.Aku tidak memberinya bubur lembut karena takut kadar gizinya kurang dan ia jadi kurus.Beberapa bulan yang lalu,aku menyempatkan diri bangun dini hari,membuat kaldu dari tulang memasakannya bubur nasi,mencampurnya dengan salmon yang kubeli dengan mikir seribu kali karena uangku tinggal 50 ribu (harga salmon itu 37 ribu),menyisir jagung manis,mengiris wortel menjadi batang korek,menambahkan telur mengandung omega yang harganya 2x lipat dari telur kampung (aku meminjam uang adikku yang saat itu pergi belanja denganku). Hampir 3 jam aku menahan kantuk membuat semangkuk bubur untuknya. Aku melakukannya karena aku ingin yang terbaik untuk anakku.

Jam 6 pagi anakku bangun.Dan rutinitas pagiku dengannya adalah ngobrol sebelum makan.Pagi itu tentang mimpinya dan acara bikin bubur.

Saat kuhidangkan.Anakku tampak kesal,ia minta makanan cair seperti biasa.Dan aku mencoba menjelaskan dengan lembut ia harus berlatih makan bubur nasi,karena ia sudah 3 tahun.

Yang dia lakukan padaku.Dia tumpahkan bubur buatanku ke lantai.Menangis dan berteriak.Saat itu aku juga menangis.Anakku berhenti,dan menatapku.

Aku terpaksa bersikap tegas padanya.Aku tetap memberinya bubur nasi,bukan makanan cair.Aku memintanya untuk menghargai orang lain,termasuk ibunya.Aku tidak membentaknya,namun konsisten dengan keputusanku.

Aku belajar tegas.Aku tidak mau lagi menunggu dia dewasa sampai ia tinggal sendiri untuk dia belajar menghargai usaha dan perhatian orang lain. Dan aku tidak mau lagi kelembutanku dimaanfaatkan untuk selalu ada pemakluman.

Cinta dan respek harus seimbang.Bila kita tetap bersikap sebagai korban,atau membiarkan diri menjadi korban,itu artinya kita belum memiliki batasan untuk diri kita sendiri. Kita tidak punya garis jelas yang menginformasikan kepada yang lain bahwa kita tidak mengizinkan siapapun menginjak-injak harga diri.Kita hanya mengeluh,tetapi tidak melakukan apapun untuk mengubah. Namun hati-hati jangan gunakan sebagai kesenangan untuk membalas dendam belaka.Ini hanya akan menimbulkan luka lebih banyak. Jika ada orang dalam kehidupan kita yang terus menerus menyakiti kita,tinggalkan saja dia. Jika penjelasan kita hanya menimbulkan perdebatan dan perselisihan,kita tidak perlu membuang-buang waktu untuk menjelaskannya lagi.
Daripada berdebat mulut,gunakan kaki untuk pergi menjauh.

SINYAL-SINYAL TERABAIKAN

Baru saja aku mendengar kabar dari seorang sahabat.Sialnya dia mengalami nasib hampir sama denganku.Bedanya dia belum menikah,aku hampir mengakhiri pernikahanku. Persamaannya,kita mengabaikan sinyal diri kita sendiri.

Sinyal yang kuterima sebelum menikah

"dia hobi mengintip,itu kelainan seksual, " dan aku mengabaikannya.

"dia hampir tidak pernah mengajakku pergi kencan ke tempat yang sedikit lebih baik atau paling tidak sesuai dengan standar gaji kami berdua,atau hampir selalu aku yang membayar acara makan malam di resto yang lumayan bagus" aku mengabaikan sinyal diri sendiri bahwa pasanganku terlalu hemat,pelit atau tidak bisa menyenangkan diri sendiri apalagi pasangan

"dia memberi tambahan sayang,chay pada nama-nama teman perempuannya yang tersimpan di handphone,saat kami sempat bertukar handphone sebulan sebelum menikah"

aku mengabaikan sinyal bahwa dia tidak benar-benar bisa setia,dia laki-laki yang gampang tertarik pada lawan jenis dan menikmati hubungan tanpa status meskipun tampak fokus

"dia bercerita dengan santai,saat kami menghabiskan malam di sebuah hotel,bahwa ia pernah bercinta dengan pelacur dan memakainya bersama beberapa teman kantornya,di kamar yang kami tempati malam itu,"

aku mengabaikan sinyal bahwa ia tipe manusia yang kurang punya emphaty pada orang lain,termasuk istrinya

Aku melihat sahabatku juga melakukannya.Kami berdua mengabaikan sinyal diri sendiri.

Dan aku tidak mau lagi terjebak dengan kebodohan yang sama. Jangan pernah abaikan sinyal. Jangan pernah merasa bahwa itu hanya prasangka,cari tahu kebenarannya,mengapa,dan apakah siap dengan resiko.

Kunci menyikapinya,jujur pada kata hati. Kadang kita terjebak, kita bisa menjadi semacam tukang kontrol,pahlawan yang bisa merubah seseorang lebih baik. Ketika hasilnya tidak sesuai harapan,kita cenderung mendadak depresi dan stress.

Ikuti kata hati,dan jangan pernah jadi korban salah mencermati sinyal diri. Aku sudah jadi korban fatal,dan berharap sahabatku bisa belajar dari hal ini.

Sedih sebentar,senang selamanya. Jangan pernah bohong pada diri sendiri.

Temukan Gairah Diri Sendiri

Belajar menemukan gairah dari tragedi.Konyol ? Mungkin benar, bagi sebagian yang belum beruntung menemukan karunia dan berkat dari sebuah kesedihan.Bagiku tidak,dan samasekali bukan hal konyol.

Gairah gak melulu bicara tentang seks.Semakin mengenal diri sendiri,rasa tertarik dan ide2 segar akan lebih sering muncul.Tragedi,cerita duka,kesedihan adalah peristiwa yang mengubah hidup.Mau hidup lebih baik atau makin kacau,pinter-pinternya kita menyikapi.

Aku bertemu dengan seorang laki-laki umur 50 tahunan dia sudah keliling Indonesia dengan sepeda rakitannya sendiri.Laki-laki yang penuh semangat meski hanya punya 2 kaki yang sudah tidak lengkap dari paha sampai telapaknya sejak ia lahir.

Aku belajar darinya.Dia telah menemukan gairah hidupnya dan mencapai mimpinya,travelling dengan sepeda unik yang dikayuh tangannya.

Konyol? Bagiku itu hebat. Bagaimana denganmu? Apakah akan tetap mengurung diri dengan kemarahan,kesedihan,penyesalan,mengasihani diri sendiri atau kita terus maju?? Apakah kita akan bicara pada setiap orang,misal tentang apa yang dia lakukan,betapa jahatnya,betapa tidak berperasaannya ini itu-ataukah kita akan menyingkirkan dan mengambil pelajaran darinya.Mau maju atau tetap meratapi kemalangan,padahal waktu terus berputar.

Temukan gairah diri,karena kehilangan gairah akan menghisap habis devosi dan usaha yang kita ingin lakukan untuk bahagia. Ketika kita temukan gairah,maka kita akan fokus pada masa sekarang,bukan masa lalu yang penuh depresi.

Ketika bertemu seseorang yang bergairah,kita tertarik dalam energi mereka. Mereka terlihat menarik,dan ekspresif.Mereka lebih berhasil meraih cita-cita bukan karena mereka lebih cerdas,tapi karena mereka punya perhatian yang sangat besar dan berani mewujudkan mimpi.

Aku,dan sahabat-sahabat perempuan punya kecenderungan keliru.Dan aku tidak mau mengulangnya. Banyak impian terbuang buat perempuan yang sudah punya pasangan.Terlalu banyak tuntutan yang membuat gelisah,akibatnya tidak bisa berkarya dengan baik.

Mulai bikin list,ingat-ingat lagi impian masa kecil.Bikin daftar cita-cita atau hal-hal yang membuat kita berasa benar-benar hidup.

Fokus pada bagaimana masadepan kita.Jangan biarkan pikiran lama menyelinap masuk dalam benak dan membuat menyerah. Saat aku menulis tentang apapun,suamiku sering acuh.Atau bahkan saat ini ketika aku menyelesaikan bukuku,aku mengabaikan hujatannya

"kamu bukan perempuan suci,kamu istri yang tega,membuka masalah rumah tangga" blablablabla..

Aku membuat diriku tuli. Aku tak mendengarkannya.Aku tidak berusaha untuk membuktikan apa-apa lagi pada siapapun.Aku hanya fokus pada satu tujuan

"aku mau membantu perempuan-perempuan lain untuk merdeka"

Aku menyalurkan amarah,sakit hati,dendam dengan membangkitkan energiku untuk berkarya. Aku hanya mencoba ingatkan diri sendiri setiap merasa lelah,dendam,marah,kecewa,sakit hati.Semua mengalir dengan wajar,aku lebih energik,orang bila wajahku lebih menarik ketika aku mengambil keputusan berat itu,aku lebih tenang dengan diri sendiri.Hal ini beda banget dengan kondisiku dulu.Kuhabiskan malam dengan tangisan,rokok dan minuman. Aku baru menyadari,inilah cara Tuhan memberitahu kita bahwa kita berada di jalur yang benar. Aku tidak peduli lagi dengan penghakiman atas aku.

Oke.Jatuh,sakit,kecewa,dikhianati,sedih,perih,dendam atau merasa tidak bernilai adalah hal yang wajar dan dialami semua orang.Hasilnya di masa depan,tergantung cara untuk menjalani kehidupan yang ada.Teruslah melangkah,rencanakan dengan matang,berpikirlah secara sehat,minta saran dan kritik dan maju terus.Senang selamanya,sedih sebentar saja-raihlah!