June 28, 2008

Untuk Shanty

Dear Shanty.
gak tau napa semua orang cuman bisa salahin elo. Sori, aku gatel pengen nulis buat elo. Thanks udah mau kasih user and password lo. untuk yang baca dan cuman bisa salahin, atu ngehakimin orang lain, waktunya belajar. belajar buat diri elo jadi hidup.

shan,
gw kenal elo berapa tahun ya, hampir 3 tahun. dan gw banyak belajar dari elo. barapa lama aku jadi seorang istri yang gak pernah berhenti berselingkuh. bener kat lo waktu itu, apa yang kurang dari hidup gw?? gak ada, semuanya perfect. gw punya suami yang kaya, tajir, punya jabatan, dia kasih gw anak2 yang lucu. gw bisa ke salon, ke butik, minta mobil, punya kartu kredit sendiri. dan gw dateng temuin elo hanya gara2 gw panik telat datang bulang, dan gw gak tahu gw hamil dengan siapa.

sungguh, gw marah banget sama semua yang cuman bisa nyalahin orang lain. gw malu baca tulisan elo shan, sumpah. berapa lama gw gak sholat ?? gw seneng2 sama banyak laki- laki sementara laki gw sibuk kerja keras banting tulang buat nyenegin gw dan anak2. gw gak bisa bayangin, lo begitu kuat pegang iman lo mpe mati, lo gak takut lo bakalan nikah lagi apa engga, sementara lo perfect sebagai perempuan. gw malu shan...

makasih banget, tulisan lo bikin gw merenung, sejak tahun lalu ketika gw datengin elo saat panik, gw udah berhenti main- main sama kelamin laki- laki lain. bayi itu udah lahir, suami gw maafin semua kesalahan gw. bener kata lo, kadang buat jujur memang sulit, tapi gw berhasil kalahin ketakutan gw sendiri. suami gw sayang banget ama gw, dia mau terima bayi itu. tuhan ngingetin gw dengan cara yang hina banget, tapi gw bersyukur akhirnya gw bisa inget Tuhan.

Shan,
bener kata lo, gak ada yang bisa ambil kebahagiaan kita. jujur berat banget negjalani kehamilan gw kala itu. tetangga udah ngomongin ini itu, guinjingan tentang gw deres banget ngalirnya. dan seperti kata lo, suami gw emang tulus sayang ma gw, dan dialah yang nguatin gw untuk terusin kehamilan itu. gw malu banget..terpukul tertekan dan ngerasa gak berguna. untung gw gak nekad bunuh diri. mungkin waktu itu ketika gw putus asa dan gw gak ketemu elo, anak2 gw uydah lagi gak punya ibu, suami gw udah jadi duda bahagia. gw bahagia banget dengan keputusan gw sekarang, gw udah pakai jilbab, udah berhenti merokok dan minum, udah gak lagi main api sama brondong2 itu lagi.

shanty sahabatku,
aku tahu berat banget jadi lo. dan gw gak pernah sangka, hampir 3 tahun jadi sahabat elo, gw gak pernah lo putus asa, sedih, dan nangis. gw selalu lihat elo senyum dan senyum, elo selalu bisa bikin semua orang yang ada di samping lo adem. gw percaya, Tuhan deket banget sama elo. gw sayang banget sama elo dan anak elo. berjuang yah, gw yakin banget suatu hari nama elo bakalan banyak diomongin perempuan di negeri ini. feeling gw aja non...karena gak semua perempuan berani ambil sikap kaya elo. gw bangaa punya sahabat lo, dan jangan pernah menyerah. gw percaya lo perempuan hebat.

thanks, gw boleh belajar banyak hal dari elo. gak tahu gimana hidup gw kalau gw gak kenal dan deket ama lo. gw belajar jadi istri dan ibu yang baik dari elo yang 12 tahun lebih muda dari gw. gw belajar jadi seorang yang percaya Tuhan setelah gw baca tulisan elo di blog ini. honestly, gw malu banget...dan gw belajar untuk tetep jadi perenpuan yang jujur dalam negjalani hidup gw ke depannya.

terus menulis. terus berkarya. terus jadi perempuan yang punya prinsip. teruslah jadi kesayangan banyak orang. teruslah tersenyum dan berdoa seperti yang elo lakuin setiap ada orang yang ngehujat dan mengehakimin diri elo. teruslah jadi motivator dan isprirator buat semua sahabat perempuan elo. teruslah jadi ibu bagi semua sahabat, teruslah jadi surga buat kami sahabat2 lo yang salah langkah. semangat....

UNTUK C

Ups...aku jadi bingung juga dengan beberapa comment yang masuk. Hem...kadang kala memang harus siap dengan segala kritik dan hujatan, meskipun belum tentu kita yang melakukan sebuah kekeliruan sendiri. Haruskah aku marah padamu Non??? tidak- tidak..aku tidak akan pernah marah hanya untuk persoalan sepele, karena kamu lupa password. Hahahaha...jadi geli juga , masih ingat waktu kamu ingin sekali rubah title blog dengan bahasa Inggris, hanya satu alesannya mau didaftarin adsense. Hem..sebagai sahabat, aku hanya nurut maumu, sepanjang tujuanmu baik. Aku juga sebenernya kesel karena kamu tak kunjung tuliskan pengalamanmu di sini. Paling gak, aku sudah senang kamu berhasil lepas dari situasi sulitmu.
Non,
Pernahkah kamu berpikir, berapa lama kita habiskan hidup untuk dikontrol dan dikendalikan oleh orang lain ?? Mendadak kamu menangis saat pacarmu meninggalkanmu begitu saja. Kamu menghubungiku, dan menceritakan betapa sakitnya hatimu kala itu. Dan kamu mengataiku sahabat yang tega, hanya karena aku memintamu menutup telephonmu, dan memintamu menghubungiku lagi setelah kamu tidak lagi menangis. Dan aku masih senyum- senyum, aku tahu perasaanmu, kubirkan kamu memakiku, marah- marah dan akhirnya memberiku kesempatan bicara.
Hem..
Apakah aku sejahat laki- laki yang kamu perjuangkan selama 5 tahun itu ?? Aku memintamu menutup telepehon karena aku mau mendengarkan semua masalahmu dengan jelas, kalau kau menangis aku tidak bisa mendengarkan semua keluhanmu. Aku mau mendengarkan semua keluhanmu. dan membiarkanmu menangis karena aku tidak ada di dekatmu untuk memelukmu. Kadang kita dinilai amat buruk dan dikalahkan oleh penilaian yang lebih baik atas sesuatu yang menurut kita lebih penting. Untunglah aku sahabatmu, dan aku mengerti perasaanmu.
Aku bersyukur kamu menyadari, laki- laki itu layak kamu tinggalkan. Dia tidak hanya menyakiti dirimu, tapi kelaminmu, tubuhmu, keluargamu dan juga imanmu. Lalu apakah kamu akan bertahan dengan Islam yang baru kamu jalani selama 3 bulan ?? Semuanya kamu yang menjalani. Tanyakan dan jawablah dengan jujur , mengapa kamu meninggalkan Jesus ?? Karena laki- laki- itu, ataukah karena hatimu mau ?? Kondisinya sekarang hubunganmu dengan laki- laki itu kandas. Satu hal yang aku minta darimu bertanggungjawablah atas segala putusan hidup yang kamu ambil. Siapapun Tuhanmu, aku hanya sahabat yang selalu mendukungmu. Kekecewaanku hanyalah . ketika kamu tidak menjalankan semua tanggung jawabmu atas apa yang kau yakini benar, hanya itu saja. Yang lainnya, nikmatilah hidupmu dan keputusan hidupmu.
Bagaimana harimu ?? Mungkin akan terasa berat membiasakan hari tanpa laki- laki yang sudah lima tahun mendampingimu. Tapi mungkin pagi hari akan lebih nyaman karena kamu bisa bangun dengan lebih indah, tak ada lagi siraman air es atas tubuhmu hanya karena kamu telat bangun. Hem..syukurlah kalau kamu akhirnya berani bersikap. Aku juga lega , kamu mulai rajin masuk kantor dalam minggu ini dan tak menghubungiku setiap jam istirahat siang hanya untuk cerita dimana lagi laki- laki itu menyiksamu sampai lebam. Aku bahagia tubuhmu pasti lebih mulus jika pertengahan Agustus nanti aku datang menemuimu ke Jakarta untuk rayakan ulangtahunmu. Kamu tak perlu lagi menutupi lenganmu yang lebam dengan kaus panjang, kamu cantik dan menarik, dan waktunya kamu menyenangkan dirimu pakai baju yang membuatmu terlihat lebih cantik.
Hah...aku bahagia akhirnya kamu bisa lepas dari laki- laki itu. Waktunya sekarang kamu menyehatkan jiwamu ya. Biarkan dirimu bahagia, cukup ijinkan dirimu menikmati. Orang lain hanya bisa menunjuk, kemudian bicara seolah mereka yang paling benar. Apapun keyakinanmu aku mendukungmu, kamu masih punya waktu untuk berpikir. Meskipun kita seorang sahabat sejak 19 tahun yang lalu, dan kita mengalami kondisi sama, pindah keyakinan, kita punya alasan yang berbeda. Aku masih bertahan dengan keyakinanku, meskipun aku harus sendiri. Dan kamu ?? Jangan biarkan orang lain mempengaruhi keinginanmu, apa yang kamu yakini benar ikutilah, yakinilah, jalanilah dengan tanggungjawab. Ada atau tidak ada laki- laki itu lagi dalam hidupmu semuanya bukanlah sesuatu yang harus mempengaruhi kehidupanmu.
Bolehkah aku memberi pujianmu hari ini ?? Kamu semakin cantik dan terlihat bersemangat sejak tidak lagi terikat relationship yang menyulitkan hidupmu. Waktunya kamu menyenangkan dirimu sendiri, buang semua lemak di perutmu, mungkin ke gym atau fitness saat kamu senggang daripada kamu menangis lagi ketika terbersit tentang laki- laki itu. Ada banyak film dan buku yang menarik dan membuat isi kepalamu lebih penuh, paling tidak pelajaran hidup dan pengetahuan yang kamu dapat membantumu mengeliminir bayangan buruk kekerasan fisik, verbal, sexual dan psikologis yang kamu terima dari mantan kekasihmu itu. Sekarang kamu bebas beli baju dengan model apa saja yang kamu suka, tak ada lagi lebam dan memar bukan ?? Semangati harimu, tak ada orang lain yang bisa menyemangati diri kita sebaik kita menyemangatinya sendiri. Sekarang kamu manajer , dan aku berdoa kamu bisa jadi bos dari segala manajer di perusahaanmu.
C, kamu perempuan hebat. Aku bangga kamu melakukannya. Aku percaya kamu perempuan yang kuat dan tegas. Kutunggu kabarmu pertengahan Agustus, waktunya kita bersenang- senang atas kebebasan hidup kita. Ingat masih banyak jiwa lain di luar sana yang membutuhkan kasih sayang, jangan pernah biarkan hidup kita habis hanya untuk menangisi seorang laki- laki yang tidak pernah bisa bersyukur. Waktunya membagi cinta yang indah yang kita miliki nuntuk semua yang ada di sekitar kita. Aku bersamamu selalu. Boleh aku ganti sendiri title blogku ?? Daripada aku dinilai tak punya kredibilitas hahahahahaha.......intinya blog ini hanya bagi- bagi pengalaman untuk sahabat- sahabat yang lain yang mengalami nasib sama dengan kita. Susah sebentar, senang selamanya........
Love you sista

June 25, 2008

UNTUK KEYSHA

Ibumu hanya perempuan biasa. Aku tak mau kamu hanya menjadi perempuan biasa. Aku mau kamu jadi perempuan luarbiasa. Buku yang aku tulis, adalah untukmu, membantumu untuk tumbuh. Tumbuh menjadi kuat. Tumbuh menjadi jujur. Tumbuh menjadi merdeka. Dan merasakan hak hidupmu yang hakiki atas hidupmu. Tumuh menjadi perempuan yang bias merasakan kelagaan menjadi dirimu sendiri. Dan bahagia.

Suatu hari kamu akan tahu mengapa ibumu memutuskan meninggalkan ayahmu. Suatu hari kamu akan tahu pula mengapa ayahmu memutuskan untuk tetap mempertahankan aku, tetap menjadi istrinya. Suatu hari ketika kamu dewasa, kelak kamu akan belajar untuk tidak menjadi seperti ayah dan ibumu. Suatu hari ketika kamu dewasa, kamu akan belajar betapa sulitnya mempertahankan sebuah pernikahan. Kamu akan belajar mengenai pertobatan, menjadi jujur, dan menelanjangi diri sendiri sebelum kamu menjadi manusia baru yang lebih baik.

Ibumu mengasihimuMeskipun belum mampu berhenti selingkuh dengan rokok selama aku mendampingi ayahmu. Terkadang aku mengabaikan celoteh kekhawatiranmu jika aku terus bersama benda itu. Namun kamu menjadi lebih mengerti, jauh lebih mengerti dibandingkan ayahmu. Kamu memahami gelisahku, kamu menghargai pendapatku, dan kegalauanmku. panjang. Dan aku minta maaf sampai hari ini aku belum bisa meninggalkan benda ini.

Ibumu mengasihimu, kamu tahu. Kamu mengatakannya setiap saat betapa sayang kamu padaku. Dan itu membuatku menangis, karena ibu hanya punya cinta. Ibu hanya bisa mengajarimu bagaimana kamu berani mengambil sikap.Dan aku bangga, kelak ketika kamu tumbuh dewasa, kamu akan tumbuh bukan menjadi manusia kerdil. Kamu tidak hanya menilai sesuatu apapun dari apa yang tampak terlihat dari luar.

Nak, masih kamu kumpulkan permen kerinduan, kesabaran dan penantianmu?? Sudah berapa jumlahnya?? Bersabarlah, menunggu ibu meyelesaikan semua perjuangan ibu menjadi merdeka. Di akhir perjuangan, kita akan menghitung bersama berapa permen yang kamu kumpulkan. Berapa hari pula ibu tak hadir di sisimu. Dan kamu belajar dari permen yang kau kumpulkan, karena ibu tak selalu bisa setiap hari mengajarimu banyak hal. Ibu hanya memberimu permen itu, kau simpan dalam sebuah kotak, satu persatu bertambah setiap harinya, ketika ibu jauh. Semoga kamu mengerti, peremen itu ganti ibumu, yang ingin mnegajarimu tentang kesabaran , menanti, mengerti, menahan rindu dengan doa dan harapan yang baik. Dan kita akan pergi bersama membagikan permen itu kepada teman- teman kecilmu di pinggir jalan itu, mereka yang tinggal di rumah beratap langit, mereka yang harus mengalahkan hari di sepanjang jalan untuk rupiah. Dan kamu akan bersyukur, kamu jauh lebih beruntung karena bisa tinggal di lingkungan yang nyaman. Di akhir nanti, permen itu akan berkata….

“Akulah guru kesabaranmu nak. Ibumu telah kembali, dan tak akan pernah lagi meninggalkanmu sendiri. Ibumu tak pernah lari, ia menitipkan banyak hal untuk kuajarkan padamu jika ia tak ada di sisimu. Dan bagikanlah aku ketika ibumu datang. Karena kau akan belajar bagaimana indahnya bersabar dan berbagi”

Anakku,

Aku menelanjangi dirku sendiri untuk membuat ayahmu berubah. Terkadang ketika ingin merubah sesuatu menjadi lebih baik, kita harus berani menelanjangi diri sendiri. Kamu akan tahu rasanya malu, dan kemudian berpikir. Kamu akan menangis ketika menyadari di mana kesalahanmu. Ayahmu menajadi laki- laki yang terluka, ketika melihat aku membuka tubuhku untuk orang lain. Dan aku tersenyum ketika ia menyadari betapa terlukanya aku ketika ia asyik dengan tubuh- tubuh telanjang itu.

Aku merasakan luka itu, saat tubuh menjadi tak berarti. Tubuh lain yang maya yang membuat laki- laki itu berfantasi dengan libidonya di atas tubuhku sampai ke anusku. Yah…aku menggantikan perempuan- perempuan cabul itu, lalu apa bedanya ibumu dengan seorang pelacur ??

Anakku,

Cepatlah tumbuh. Jadilah bijak. Carilah Tuhan dari manapun Dia datang, kenalilah Tuhanmu dengan baik karena kamu menjumpainya, bukan karena kamu dengar apa kata orang. Anakku..kadang apa kata orang tidaklah selalu benar. Yang benar adalah apa kata hatimu, Tuhanmu ada dalam hatimu. Bahkan ketika semua orang menghujatmu bahwa yang kau pilih adalah sebuah kesalahan, tegakkan langkahmu. Bertanyalah pada nurani, dan jika tak ada lagi yang berbisik dengan dua konflik dalam batinmu, ketika kamu tak lagi takut atas apapun kecuali Tuhanmu, berjalanlah.

Bintang di langit bisa jadi terang, namun bisa jadi membosankan jika kamu melihatnya setiap hari. Jadilah perempuan besar, kadang diam bukan berarti engkau lemah, namun bicaralah saat engkau memang harus bicara. Marahlah jangan menangis jika memang kamu harus marah, dan hargailah semua yang Tuhan berkatkan atas engkau. Tak ada seorangpun yang berhak mencuri kebahagiaanmu, termasuk aku ibumu.

TENTANG IBUKU

MENUNGGU LOTERE 9 BULAN

Sepasang laki- laki dan perempuan. Menanti satu tahun untuk memenangkan lotere kehidupan. Mereka berharap untuk menang. Uang mereka sudah banyak habis untuk itu. Beli dari Bandar jamu, Bandar kamasutra, Bandar alim ulama, sampai terakhir mereka buang uang yang jumlahnya lebih besar dari pendapatan sebulan, beli lotere ke Bandar spesialis kandungan.

Suatu siang di bulan Maret, si perempuan sontak menggigil. Kedua tangannya gemetar, umurnya masih 16 tahun kala itu. Sang Bandar mengatakan dia menang lotere.

“Kamu menang lotere…kamu bisa ambil hadiahnya setelah Sembilan bulan kemudian”

Perempuan itu membawa selembar kertas tanda kemenangannya. Dikayuhnya sepeda di siang bolong menuju tempat bekerja suaminya. Banyak bunga bermekaran di hatinya. Wajahnya merona merah, campuran antara reaksi panas matahari dan kegembiraan yang luarbiasa. Dengan semangat dia kayuh sepeda itu.

“Mas…aku hamil….”

Laki- laki itu, suaminya, memeluk dan menciuminya dekat pos satpam di bagian depan kantor. Siang itu sudah panas, selembar kertas kemenangan ibarat ice cream aneka rasa yang menyejukkan. Laki- laki itu berteriak keras- keras, tak peduli semua orang menatapnya penuh tanda Tanya.

“aku akan jadi bapak…aku akan punya bayi”

Sepasang laki- laki dan perempuan itu menunggu Sembilan bulan. Si laki- laki bekerja tanpa kenal lelah. Dia punya double side, kerja cari uang sekaligus merangkap jadi pelayan buat istrinya seusai pulang kantor. . Pendapatan mereka tak seberapa, kadang kalau habis beras, mertua masih ikut campur menyumbang. Laki- laki terus bekerja keras, mencatat detail semua jenis makanan untuk bayi di perut istrinya.

“aku mau anak ini tumbuh sehat, pintar dan jadi orang hebat”

Kata- kata itu seperti mantra yang wajib diucapkan setiap saat, ketika laki- laki itu menyuapkan makanan untuk istrinya. Dan ia tak kenal lelah mengganti semua makanan yang keluar lagi. Bayi di dalam perut itu bukannya tak pengertian, tapi ia sedang berkata….

“cukupilah aku secukupnya. Hidupilah aku semampumu, jangan berlebihan, aku hanya titipan, bukan milik kalian. Aku milik Tuhan”

Dan setiap berkata demikian, perut perut perempuan itu mendadak bergolak. Semua tumpah melalui mulut perempuan itu. Dan bayi itu menguji mereka dengan hal itu selama 6 bulan. Laki- laki dan perempuan itu tak pernah mengeluh. Mereka tetap memberikan apa yang terbaik untuk bayi itu. Dan bayi itu menyerah, dia bersikap lebih pengertian. menyerah dan menunggu sampai hari kelahirannya datang.

Jumat siang, tepat jam 12, bulan November tahun 1979, si bayi mendengar bisikan dari yang tak terlihat.

“Bersiaplah kamu meninggalkan alammu. Kamu akan keluar dari tempat yang gelap dan basah, dan itu adalah Surga. Yang kau lihat di luar adalah alam baru. Di sana ada dua tempat Surga dan Neraka. Kamu seperti raja dan akan bahagia jika kau sampai di Surga. Bersiaplah untuk petualangan barumu, karena kamu hanya akan jadi pemenang atas dirimu sendiri ketika kamu sampai di Neraka. Di sana yang ada hanya sakit, dan kepedihan. “

Dan entah, semua serasa bergolak. Perempuan itu merasakan perutnya melilit, rasanya seperti hendak buang air besar. Bergegas ia jongkok. Laki- lakinya sedang pergi ke masjid, karena hari itu, hari wajib untuk ketemu Tuhan.

Perempuan itu mengejan, bukan tinja yang keluar. Seperti batu warna hitam, namun lembut. Dan ia berteriak…….

“Hadiah lotereku keluar….aku gak mau ia jatuh ke lubang tinja. Tolong……..”

Beberapa menit kemudian, seorang suster menolongnya. Perempuan itu terbaring di atas ranjang. Dibukanya kedua paha sementara sang suster sibuk membantu proses kelahirannya.

Tanpa mengejan. Bayi itu lahir, tanpa menangis seperti umumnya bayi normal. Sang suster membalik tubuh mungil itu, mencubitnya beberapa kali dan barulah terdengar teriakannya yang keras, menyaingi suara aszan dari pengeras suara di masjid sebelah.

Perempuan itu tersenyum. Suster itu tersenyum.

“Anakmu perempuan, sehat, cantik seperti kamu…, ”

Perempuan itu hanya menatap sambil tersenyum. Dalam hatinya ia bersyukur. Ia samasekali tak kesakitan seperti cerita- cerita orang.

Tepat jam satu siang, sang bayi sudah selesai dibersihkan. Tak lagi bau amis darah, dan tertutup selaput warna putih. Bayi mungil yang bersih, ada tanda biru sebesar tutup gelas di pusarnya. Tanda itu tak mengurangi kebahagiaan si laki- laki dan perempuan atasanya.

Laki- laki itu berkali- kali menciumi sang bayi yang disusui istrinya. Mereka sepakat memberi nama Sekar.Bayi perempuan mungil yang dinanti selama setahun. Beratnya hanya 2,5 kg, panjangnya 45cm. Bayi yang sangat mungil dan terlihat sangat lemah.

Laki- laki dan perempuan itu saling menatap. Hari itu mereka diberi Tuhan sebuah berkat. Banyak harapan dan impian indah silih breganti memenuhi kepala dan hati mereka. Dan sang bayi berkata…….

“aku hanya akan memenangkan hidupku sendiri dengan diriku sendiri. Dimanakah tempat yang bernama neraka itu. Apakah ini surga?? Apakah laki- laki dan perempuan ini Surgaku?? “

Dan…penantian akan lotere kehidupan itu lengkap. Mereka tidak lagi ke Bandar manapun. Hanya berkutat pada sang bayi.

WANITA ITU

Aku tak tahu apa salahku saat mengandungnya. Berkali- kali aku berteriak aku menyayanginya. Aku berharap banyak padanya, dan aku yakin ia akan jadi perempuan hebat kelak.

Sekar,

Ibu rindu kamu. Dulu kamu pendiam saat kecil. Sekarang kamu sangat berubah. Ibu rindu kamu tersenyum dengan jujur. Aku tahu kamu menutupinya. Aku tahu……

Sekar,

Masih ingat saat kakimu terluka. Saat itu kamu baru empat tahun. Dan kakimu terluka karena aku. Membelikanmu sepatu saja aku tak mampu. Dan kamu tetap gadisku yang kuat, menneruskan langkah menuju ke tempat itu tanpa mengeluh, tanpa menangis. Dan aku…

Menangis di pojok ruang sesaat setelah kamu tidur. Aku sudah menahannya, sejak kamu pulang. Saat kamu merengek

“Ibu kakiku sakit..kakiku berdarah….”



Dan kubersihkan telapak kakimu yang mungil. Kaki yang terluka oleh tajam kerikil dan butiran pasir. Kamu hanya menatapku, saat kapas- kapas basah itu membasuhnya. Sungguh..kamu lebih kuat dari aku saat itu.

Hah…

Memandang gambarmu dari bayi sampai hari ini ketika kamu duapuluh Sembilan tahun, semakin membuatku tak bisa membendung kepedihan. Kamu ada dengan sebuah pengharapan yang panjang. Lantas Tuhan mengirimkanmu tumbuh di rahimku seperti aku menang lotere. Kamu tumbuh dengan segala keterbatasan. Kamu tumbuh ibarat bintang bagiku. Aku berharap begitu banyak kepadamu nak…..

Aku Cuma perempuan kampung, yang tak makan sekolah sampai tinggi, SMP saja aku tak lulus. Aku ingat jelas, cibiran siapapun ketika aku putuskan menikah dengan laki- laki itu, ayahmu. Umurku masih 16 tahun, belum genap 17. Kubesarkan kamu dengan perjuangan, sungguh aku hampir menyerah dengan semua masalah yang tak kunjung mau surut. Dan kamu seakan mengerti kegelisahanku.

Sekar,

Sekarang aku duduk di atas kursi goyang sambil menatap puluhan piala yang kau kumpulkan untuk menyenangkan aku. Menatap puluhan piagam yang hampir memenuhi ruangan ini. Aku membayangkan dirimu nak…aku rindu.

Kerinduanku sudah kutumpuk lama, sejak tiga belas tahun lamanya, sejak kamu putuskan mengurus hidupmu sendiri. Dan kamu hanya pulang sebentar setiap akhir pecan. Dan setiap kukatakan aku rindu jawabanmu selalu sama…

“Ibu..biarkan aku mengejar mimpi. Akulah bintangmu. Dan semua orang akan tahu kamu ibu yang hebat. Aku akan tunjukkan kepada dunia betapa hebatnya engkau ibu. Aku kuat, sekuat kamu ……….”

Dan kamu mengecup keningku. Mengatakan betapa kamu mencintaiku. Memandangku dengan lembut dan berkata lagi…

“Aku ingin membahagiakanmu ibu dengan apa yang sudah berkatkan atas aku”

Dan aku membiarkanmu pergi. Mengejar mimpimu. Dan sungguh ada gejolak di batinku. Aku bangga padamu nak…tapi aku rindu.

BErhari- hari aku menumpuk rindu. Dan jawaban rinduku terjawab. Tapi sungguh bukan ini yang aku mau. Tuhan menjawab kerinduanku dengan memberiku sebuah kepedihan. Aku tak pernah bermimpi hidupmu akan sehancur sekarang Sekar. Aku tahu kamu lelah..sangat lelah. Aku tahu, meskipun kamu menutupinya dengan segala ketegaran yang kau tampakkan.

Kamu bahkan sudah mirip gembel. Kamu melarat. Kamu hancur. Laki-laki itu yang kau sebut suami, menghancurkan hidupmu ke titik yang paling rendah. Aku hancur…..aku terluka, ia merempas semua kebahagiaanmu. Aku tidak kuat menerima ini Sekar, meskipun rinduku terobati. Meskipun aku bersamamu sepanjang hari, tapi bukan ini yang aku mau.

Aku rindu. Memelukmu mendengar segala celotehmu, atau cerita. Aku rindu kamu membawakan aku satu bintang. Aku rindu kamu nak dengan fitrahmu yang dulu. Aku rindu kau nak dengan banyak bintang yang membuatku hidup.



(bersambung )

I

TENTANG LAKI- LAKI ITU

Suatu pagi, akhir pekan di bulan Juni. Aku mencoba menahan dan membuang segenap kebencianku. Ada jiwa kecil tak berdosa di sampingku. Dan aku luluh untuk kembali menjadi artis di depannya. Seolah tak ada konflik diantara ayah dan ibunya. Seolah kami baik- baik saja. Seolah kami menikmati hakhir pekan dengan sukacita. Beberapa mata bahkan tak menangkap kami pasangan bermasalah dan dalam detik- detik akhir menunggu keputusan pengadilan untuk sebuah perceraian.

Laki- laki itu sengaja membayar lebih agar Key bisa bermain lebih lama. Dia duduk tepat di sampingku. Menatapku dengan dalam. Matanya penuh tatapan harap. Mata yang tanpa dosa dari tubuh yang membuat aku terkungkung dalam kebencian yang dalam. Aku berubah menjadi wanita dingin lagi. Aku tahu ia sedang mencoba meluluhkan perasaanku. Aku bisa merasakannya. Dia juga menunjukkannya. Dia mulai mengusap lembut beberapa helai rambut yang jatuh menutup sebagian keningku.Dia tahu aku sedang sakit hari itu.

Tuhan...aku tidak mau membenci laki- laki ini. Dia menatapku dengan tatapan yang mengiris sebagian hatiku. Aku menyadarkan diriku kembali, menyusun kekuatan untuk bersikap netral. Aku bukan seorang musuh yang bengis, itu bukan aku. Aku ingin mengasihi laki- laki ini dengan cara lain, aku ingin membebaskannya. Dan kembali padanya bukan pilihan yang tepat. Aku tidak punya jaminan pasti, sampai kapan ia harus bersabar menungguku bisa membunuh benciku secepat kilat.

Dia memohon padaku untuk mempertimbangkan keputusanku. Aku menatapnya, dan meyakinkannya lagi, aku tetap pada keputusanku. Aku mau bahagia, aku mau sehatkan jiwaku. Aku mau dia juga bahagia dengan hidupnya, dan aku bukan orang yang tepat untuknya. Dia tampak memelas, aku tahu dia serius dengan keinginannya. Dan aku juga serius, menikah dengannya bukanlah sesuatu yang bisa membahagiakannya. Terlalu banyak dendam, kebencian, dan luka padaku. Aku sudah coba mengurai satu- satu namun menyerah dan memilih mengakhiri semuanya.

Laki- laki itu memilih menyimpanku seumur hidupnya. Aku tidak yakin itu keluar dari hatinya. Semoga saja tidak. Aku berharap dia masih membuka hatinya untuk perempuan lain, dan itu bukan aku. Aku sangat tahu dia, bagaimana ia, terutama masalah seksualnya. Aku dia bisa menikmati karunia Tuhan untuk kebutuhan itu, tapi bukan dengan aku. Aku peduli dengan dirinya, dan aku juga peduli dengan diriku. Dia mengataiku egois, mungkin benar. Sesekali, aku juga harus egois kupikir.

Aku bangga dengan beberapa perubahan dalam hidupnya, terutama masalah relasi dia dengan Tuhan. Dan aku mencoba meyakinkannya, semua perubahan itu baik untuk dirinya, bukan untuk dan karena siapapun termasuk aku. Aku bangga, aku katakan itu padanya. aku tidak mau lagi jadi pembohong, kukatakan padanya, kelaminku tidak pernah bisa memaafkan kelaminnya. Dan itu masalah besar jika kami putuskan untuk rujuk, aku butuh waktu dan tak ada jaminan sampai kapan itu.

" Aku tahu kamu kecewa dengan keputusanku. "

Untuk laki- laki itu :

" aku bisa menyayangimu dengan lebih indah ketika aku meresponmu sebagai orang lain, sebagai sahabat, sebagai ayah key. Ketika diriku mengenalimu sebagai suamiku, kebencian demi kebencian bertubi- tubi menyerangku, aku tersiksa. Aku ingin memaafkanmu, tetapi kelaminku tidak.

kita menyayangi key. Aku percaya, kamu mulai merasakan betapa berartinya dia bagi kita berdua. Bukan aku denganmu kembali , kuharap engkau mengerti bagaimana aku. Aku seorang yang kuat memegang keputusan dan prinsip. Dan engkau juga mengerti betapa lembutnya hati dan perasaanku, meskipun aku bukan seorang perempuan yang lembut dan feminim.

terimakasih, kamu memberi penghargaan sebagai seorang yang kamu percaya untuk memebesarkan dan merawat key. Aku tidak akan pernah mengkhiananti kepercayaanmu padaku tentang hal ini. Sebagai perempuan aku tersanjung. Terimakasih kamu bisa melihatku bukan dari apa yang tampak , melihatku sampai ke dalam yang tersembunyi, setelah peristiwa ini. Akhirnya kamu bisa melihatku secara utuh sebagai seorang perempuan.

Maafkan aku, inilah keputusan terakhirku. Aku hanya berharap, kita belajar dari pengalam ini. Aku mendukungmu untuk bahagia, termasuk ketika akhirnya ada hati yang lain yang lebih indah mengisi kehidupanmu selanjutnya. Maafkan aku, biarkan aku menikmati kesnedirianku untuk saat ini. Biarkan aku membebaskan diriku untuk bangkit dari semua keterpurukkanku.

Maafkan aku, aku bulat dengan keputusanku. Aku tidak mau menyakiti siapapun lagi. Aku menyayangi orangtuaku, aku menyayangi anakku, aku menyayangi diriku. Aku tidak mau sakiti engkau juga. Kamu layak untuk meneruskan hidupmu dan layak untuk mengejar mimpimu yang lain. Jangan jadikan aku sesuatu yang menghentikan kehidupanmu. "

Dan bukan siapa- siapa yang akan bangga ketika kamu bisa mengalahkan ketakutanmu kecuali engkau sendiri. Dan tak ada yang lebih bangga ketika kamu bisa menunjukkan perubahan terbesar dan terbaik dalam hidupmu kecuali kamu sendiri. Hiduplah untuk hidup, berubahlah untuk dirimu, bertumbuhlah untuk dirimu. Tanpa kamu kamu harus meminta, siapapun di sekitarmu akan menghargaimu. Selamat berjuang. Demi key, demi ibumu, demi hidupmu sendiri. Aku masih sahabatmu sampai detik ini.






June 19, 2008

TENTANG ANAKKU

Dia sudah besar umurnya 3 tahun. Dia tumbuh sehat, ceria, dan secara psikologis dia bahagia. Dia tahu aku dan ayahnya tidak lagi berdampingan. AKu tidak pernah mengajarinya membenci ayahnya, meski sempat hampir 4 bulan lamanya ia menahan rindunya. Suamiku tidak datang menengoknya, ia takut berkonflik dengan keluarga besarku. Dan aku berjuang keras memberikan pengertian pada putriku tentang keadaan ini. Kami berkomunikasi setiap dia pulang sekolah dengan ayahnya, ketika aku tidak bekerja ke luar kota.

Anakku tahu aku tidak nyaman dengan ayahnya, aku menjelaskan dalam bahas sederhana untuk membuat dia menghormati keputusanku. AKu belajar menghormati kemauannya saat ia ingin bertemu dengan ayahnya. Aku tidak pernah menghalanginya, dengan catatan situasi dan kondisi memungkinkan. Beberapa waktu lalu, kami bertemu menghabiskan sabtu dari siang sampai petang, seolah kami keluarga utuh. Dan...aku menahan sakit hatiku sendiri ketika kutingglkan putriku seminggu lamanya. Aku menangis dalam perjalanan, sungguh aku tak mau meninggalkannya barang sehari, tapi aku harus bekerja untuk hidupnya. Ibuku begitu marah ketika tahu, aku bertemu dengan suamiku dan menghabiskan weekend bersama. Aku diam bagai es, kucoba tak dengarkan makian yang terasa mengiris hatiku. Kupikir anakku juga berhak ketemu dengan ayahnya. Dan biarlah itu jadi bagian dari resiko atas keputusan yang kuambil.

Anakku menghormati ayah ibunya. Dia penyemangatku, dan juga pengingat langkahku. Aku belajar banyak dari jiwa kecil ini. Aku bersyukur, dia tumbuh jadi gadis kecil dengan rasa percaya diri yang baik. Dua hari yang lalu, aku tak kuasa menahan haruku. Melihatnya di atas panggung, di hadapan lebih dari 500 orang ia menari dengan wajah penuh senyuman. Beberapa saat sebelum ia naik panggung, ia menelphon ayahnya, meminta dukungan. Dan aku tak kuasa menahan butir airmataku, dia menari dengan amat confident. Dia terlihat sangat cantik dan lucu. Semua bertepuk tangan melihat aksi panggungnya. Dan aku lebih - lebih. Tuhan.. kuatkan aku mendampinginya sampai aku tua, meskipun aku sendiri.

Ada buku tahunan dar sekolahnya, kulihat komentar untuk putriku :

"Keysha, anak yang sangat riang, ramah, dan suka menyanyi "

Anakku menuruni bakat dan sebagian sifatku, wajahnya lebih mirip ayahnya. Dia gadis yang sangat riang. Aku belajar darinya. Bagaimana ia menutupi kesedihannya ketika melihat sebuah keluarga utuh, komentarnya :

"Kita bisa jalan- jalan seperti itu setiap weekend ibu..kalau papa tidak sibuk "

Sungguh aku ingin minta maaf atas ketidak beruntungannya. AKu sadar, aku yang membuat keputusan ini. Dan aku tidak ingin menambah kondisinya semakin buruk, aku tidak mau mengekangnya berhubungan dengan ayahnya. Aku mau dia tetap baik dengan ayahnya. Dia sangat ekspresif ketika mendapat kesempatan untuk bicara melalui telephon genggam dengan ayahnya. Aku bahagia melihat dia bahagia....

Anakku akan tumbuh dan dewasa. Semoga saja dia bisa belajar dari apa yang terjadi pada kedua orangtuanya. Aku mau dia lebioh baik, dan lebih beruntung kelak. Satu- satunya yang bisa kulakukan untuk kehidupannya kelak adalah, fokus dan bertanggung jawab dengan keadaan yang sekarang aku jalani. Aku tidak boleh sedih dan putus asa. Aku harus lebih hati- hati memutuskan sesuatu agar tidak salah langkah lagi. Aku mencintai putriku.