July 23, 2008

TULISAN TERAKHIRKU

Selasa, 15 Juli 2008

Pening. Hari perempuan. Biasa. Setiap bulan. Kurang tidur. Terpisah dari anak. Menunggu sebuah keputusan besar. Dan pening. Sendiri di ruang yang masih lenggang. Hanya ada beberap orang.

Sebuah papan tulis ukuran besar. Dari beberapa baris, kulihat jelas namaku ada di daftar sidang hari ini. Keputusan. Perjuanganku selama hampir 6 bulan ditentukan hari ini. Tak ada sahabat. Tak ada anak. Tak ada orangtua. Apalagi pengacara mahal. Bisa bertahan hidup sudah bersyukur. Dan aku berjuang sendiri. Beberapa orang yang sudah akrab denganku menyapaku pagi ini. Mencoba tersenyum ramah seperti biasa. Komentar sama ,

"Kamu terlihat pucat shan..."

Bebarapa kali aku menguap. Beberapa kali handphoneku berteriak nyaring. Suara anakku. Beberapa pesan sms singkat. Dari keluarga, dan sahabat. Puji Tuhan, mereka masih ingat aku. Aku masih bisa tersenyum. Entah. Hari ini aku justru ringan. Tak ada lagi kesesakkan seperti kemarin. Aku lebih tenang, meskpiun masih pening. Dan kulihat seorang perempuan cantik dengan kacamata minusnya. Dia tersenyum padaku. Pengacara suamiku. Dia menyapaku, menanyakan kesiapanku. Aku tersenyum dan mengangguk. Kami bicara berdua, topiknya bukan seputar sidang. KAmi bicara tentang perempuan. Kami bicara tentang seorang anak usia 10 tahun yang memperkosa dua gadis di bawah umur. Aku jadi teringat anakku.

Jam 10 tepat. Aku dan perempuan itu masuk ruang sidang. Perasaan tenangku melayang entah menghambur ke mana. Tatapan majelis hakim dan panitera seakan membuatku ingin melesak jauh di balik bangku panjang yang kududuki. Di seberangku, perempuan itu duduk tanpa suamiku.

Aku mendengarkan dengan seksama apa yang dibacakan hakim ketua. Ada bagian yang membuatku tak tahan untuk tidak menangis. Bagian menyakitkan yang sudah coba kulupakan. Dan kronologis semuanya mengoyak lagi lukaku. Kutahan emosiku. Ada hal lain yang membuatku lebih tertekan. Hak asuh anakku.

Tuhan. Aku lemas. rantas. seolah tanpa tulang. aneh. aku bahkan tak bisa menangis. aku bahkan tak bisa berteriak girang. hari ini kemenangan anakku yang di surga, hari ini kemenangan orangtuaku, hari ini kemenangan jiwaku. Aku menatap majelis hakim dengan mata tak percaya. Aku seorang diri. Tanpa pengacara hebat. Tanpa uang suap. Dan ini hari kemenanganku.


Taman pengadilan,

Duduk seorang diri. Tanganku gemetar. Suaraku juga. Begitu banyak telephon masuk menanyakan hasilnya. Aku tak bisa lagi berkata- kata. Hanya bisa bilang

" Aku menang "

Diam. Menerawang. Andai aku bisa aku berteriak. Aku mau memeluk Tuhan siang itu. Hanya Dia yang mau kupeluk. Juga anakku. Kubiarkan wajahku basah. Kubiarkan sesak yang menghimpitku tumpah. Kubiarkan aku tersengal dalam tangis. Kubiarkan kesendirian siang itu sebagai hadiah kemenanganku. Kubiarkan beberapa jam tanpa bicara dengan siapapun.

HANDPHONE 5300


"Selamat, aku pria bangsat yang tersingkir "

Nanar. Kubaca kalimat pendek dari suamiku. Sayang ia hanya mewakilkan dirinya lewat tulisan. Jujur aku menunggunya. Menunggunya datang. Dan hanya tulisan itu yang aku baca. Sungguh aku ingin berteriak.

" Maafkan....aku hanya mau membebaskanmu dari luka. Aku tak bisa dan tak pernah bisa membahagiakanmu...."


HARI SETERUSNYA


Kulupakan semua lukaku yang kemarin. Kudengar setiap malam anakku berdoa untuk aku. Celoteh kecil yang jujur. Dan Tuhan mendengar doanya. Jadwalku semakin sesak dengan tawaran pekerjaan. Artinya rejeki untuk anakku. Phonebookkku semakin sesak dengan nama baru. artinya sahabat baru untukku. Dan aku pulang. Kupeluk malaikat kecilku. Hariku hanya singkat dengannya. Dan kami saling menguatkan. Sebelum makan siang. Seperti biasa menyapa laki- laki itu. Dan kami bicara seperti tak ada masalah. Dan kami saling menguatkan. DAn anakku melukis untuk ayahnya. Dan laki- laki itu menghubungiku. Dia siapkan dua pasang gaun untuk malaikat kami. Dan aku tak mau tanya- tanya lagi. Apakah dia masih dendam.

Kulihat wajah ayah ibuku, adik-adikku. Mereka lebih cerah. Kulihat wajahku sendiri. Tidak. Aku tidak boleh putus asa. Aku sudah bahagia sekarang. Aku harus bahagia. Aku harus kejar mimpiku. Aku pasti bisa.

Kulihat malaikat kecilku. TErsenyum menggodaku. Dia menantangku. Aku wonder woman, dan ia power ranger. Dan hanya ada celoteh kami yang asyik saling mengalahkan. Lalu lelah. Saling memeluk. Saling mengecup. Dan kami bahagia.

UNTUK MANTAN SUAMIKU


Berjuanglah. Hidupmu masih panjang. Aku tidak ke mana- mana. Doa selalu mengalir dari kami berdua. Berjuanglah. Kamu kuat. KAmi tidak ke mana- mana. Kutunggu kau datang untuk anakmu. Semoga Tuhan kirimkan perempuan yang lebih indah dariku. Perempuan yang layak membahagiakanmu seumur hidupku.


Terimakasih, kau ijinkan aku menjadi pelacurmu. Aku belajar banyak hal. Aku belajar banyak hal. Dan satu hali, aku belajar menghargai seorang pelacur. Terimakasih.

July 11, 2008

HEALING INFORMATION

Dear friends,

Puji Tuhan. Puji Tuhan. Puji Tuhan. Aku sudah mantapkan hatiku. Aku sudah mantapkan diriku. Aku ingin membagi apa yang Tuhan berkatkan atas aku. Bahwa hidup adalah belajar. Dan belajarlah dari hidup. Bahwa ketika sebuah pengharapan dan keyakinan masih menyala dalam jiwa, tak ada sesuatupun yang tak mungkin. Aku hanya ingin semuanya belajar, termasuk diriku sendiri. Tanpa pernah mengalami semua kepahitan, tak akan pernah kita menghargai rasa manis, yang kadang hanya sesaat kita cari dan nikmati. Tanpa belajar menikmati kepedihan, tak akan pernah kita menghargai arti sehat, sementara kita sibuk dan panik mencari obat ketika keadaan sudah sangat gawat. Tanpa pernah kita mengalami jatuh, kita tak akan belajar bangkit, berdiri, melupakan rasa sakit dan meneruskan langkah. Tak pernah merasakan putus asa maka tak akan pernah merasakan betapa luarbiasanya bersikap optimis, bahwa di setiap kesulitan selalu ada opportunity yang tak terduga.

Dalam hitungan hari, sebuah keputusan besar dalam hidupku akan kudapati. Aku masih berjuang untuk bisa keluar, bangkit, maju ke depan, karena hidupku masih begitu panjang. ada jiwa lain yang lebih panjang, jiwa yang masih belajar dan selalu butuh aku dalam hidupnya. Aku berhasil membuang semua ketakutan, kepanikan, dan ketidak yakinanku. Keputusanku sudah bulat. Aku lanjutkan hidupku ke depan tanpa laki- laki itu lagi. waktunya aku membagikan cintaku pada sekitarku. Jiwa lain yang gelisah dan putus asa.

Aku sangat bahagia, jika diantara sahabat yang percaya dan mempercayaiku sebagai teman berbagi. Aku selalu bahagia jika melihat mereka yang datang dengan wajah begitu kelu, buram dan putus asa, lalu meninggalkanku dengan sebuah pancaran kebahagiaan, kemudian kami berjanji untuk bertemu lagi. Akhirnya kami jadi sepasang sahabat yang saling mengutakan dan saling menyemangati.

Untuk yang mau curhat dan konsultasi silakan masuk ke :

www.healingmanagement.blogspot.com
atau email ke healingmanagement@yahoo.com ( friendster )

doakan saja, aku sedang menyusun beberapa tulisan dari hasil aku belajar menyelami simbol- simbol dalam kartu tarot. Sekali lagi, dari kartu ini aku belajar menyehatkan jiwaku selain menyerahkan semuanya pada Tuhan. Dan dari kartu ini, aku merasa hidupku semakin sempurna, karena begitu banyak jiwa yang akhirnya lepas dari ketakutan dan ketidak yakinannya.

Doakan aku. aku ingin membagi cintaku kepada banyak jiwa. Dan semoga ketulusan mampu membahagiakan banyak jiwa. Ameen.

July 09, 2008

STASIUN KERETA

Aku meneruskan hidupku. Selama keyakinan, aku berjalan untuk memperjuangkan sesuatu yang benar, aku akan terus berjalan. Dan tak ada seorangpun yang bisa menghentikan langkahku, keculai Tuhan.

Di sebuah stasiun. Jam tujuh malam, suamiku datang menjemputku, dia memelukku. Mengecup keningku dengan lembut. Aku merasakan kerinduannya atas aku. Dan aku, sungguh kemana getaran itu, aku bahkan tak tahu. Tak ada perasaan yang sama dengannya. AKu hanya tersenyum, dan bilang terimakasih. Dia menatapku kecewa.

Kami duduk, bicara, seolah tak ada konflik besar diantara kami. Dia marah dan aku juga, namun marah tanpa saling menyerang. Kami sudah lelah. Dia belum lelah, memintaku kembali padanya. Aku belum lelah mempertahankan keputusanku. Dia mengataiku dengan serapah yang lembut, mengataiku layaknya aku seorang pelacur. Dan aku menanggapinya dengan senyum. Hanya satu laki- laki yang mengatiku begitu, untuk apa membuatku panik dan menangis. Aku menerimanya dengan senyum, bersumpah- pun percuma. Selagi aku tak pernah melakukannya, untuk apa kuambil peduli.

Aku bertanya padanya. Mengapa masih juga diperjuangkan perempuan yang menurutnya sudah sama seperti sampah ini. Dia menatapku. Bukankah masih ada kemungkinan baginya untuk mendapatkan berlian lain di luar sana?? Dia cuma menatapku. Dan kemudian memelukku. Dan meyakinkanku. Dia mencintaiku. Dia tak mau kehilanganku. Dan aku hanya minta maaf...

Biarkan aku sendiri. Aku memegang tangannya. meminta maafnya. Aku tak yakin bisa membahagiakan dia seumur hidupku. Dan kami berjalan bersama meninggalkan bangku itu. Dia masih memelukku. Dan mengatakan dia mencintaiku. Dan aku masih mengatakan hal yang sama.

" KArena aku menyayangimu, ijinkanlah aku pergi. Biarkan seorang perempuan yang lebih baik dari aku mengisi kekososngan jiwamu "

MAlam merangkak naik. Kami tinggalkan stasiun, dengan perasaan kami yang campur aduk, sama dengan gatal di tenggorokanku. Dan laki- laki itu sudah siapkan obat batuk untukku. Terimakasih. Sayangnya, aku masih pada keputusanku. PAhit. Namun akan manis setelahnya, aku yakin. Bukan saja untuk aku, namun untuk laki- laki itu.

Dan kami berjalan bersama, menyusuri jalan menuju kotabaru. nasi goreng kambing pernah jadi favorit kami berdua. dan malam itu kami singgah, duduk berdua. menikmati makan malam, bersama seorang penjual kerupuk umur 8 tahun. kami bahagia, membagi cinta kami untuk yang lain. wajah kecil berbinar, dia menikmati rejekinya hari ini. dia bahkan tak berpikir kami sepasang laki- laki dan perempuan yang menunggu waktu untuk sebuah keputusan besar. kami melupakannya sejenak.

dia sesekali menatapku, mengusap rambutku. aku , memonyongkan bibirku menggodanya. seandainya saja dia bisa temukan seorang perempuan penggantiku. dan dia menatapku lagi, meyakinkanku lagi aku tak tergantikan. dan aku mengalihkan pembicaraan lagi ke topik yang lain. kami tergelak, tertawa lagi tanpa beban. mendengar suara celoteh keysha di ujung telephon. sejuta kerinduan yang kutahan. kami tak mau dia cemburu, malam ini ayah ibunya bertemu tanpa dia diantara kami. dia bicara banyak dengan laki- laki itu, ayahnya. dan aku selintas menahan sesakku sendiri, namun keputusanku sudah bulat.

dan hidangan di piring tak bersisa. anak kecil penjual kerupukpun sudah tak terlihat lagi,pergi dengan sebungkus nasi goreng kambing. kami melihatnya tersenyum. dan kututup malam dengan senyum. meminta laki- laki itu memangkas jambangnya yang semakin tak berarturan, memintanya untuk merapikan rambutnya. aku mau dia keliatan lebih menarik, dan ada perempuan lain yang mau singgah dalam hidupnya. dia tersenyum getir.

cinta kadang lebih indah jika tak lagi jadi beban. aku tak mau membebani dia dengan cintaku yang entah hilang kemana. aku mau laki- laki itu bahagia. aku mau dia bahagia. aku mau dia bahagia.

TENTANG IBUKU

Diantara hiruk pikuk manusia di plaza senayan. Setengah mati kutahan air mataku yang hampir tumpah. Aku memaksakan diri tersenyum. Terus menutupi gejolak perasaanku yang makin nyilu. Akhirnya kudapatkan juga sebuah ruang tenang. Bagi sebagian orang, ruangan ini lebih pas untuk buang hajat. Aku tak peduli. Inilah ruang paling tenang.

Duduk sejenak. Menahan nafas. Kuraih telephon genggam yang tersimpan di tas ranselku. Menahan nafas lagi. Dan ...belum sempat nada sambung itu terdengar di telingaku. Airmataku sudah tumpah.

"Ibu..."
"Kamu masih di Jakarta??"
"Iya bu. Bagimana Key ? "
"Batuknya belum sembuh nduk "
" Bisakah aku bicara sebentar saja ?? Aku rindu "
"Dia tidur nduk. Kamu kenapa. Kamu nangis nduk ? "

Aku diam menahan nafas. Mencoba mengontrol emosiku. Dan gagal

" Ibu.... aku bawa sesuatu untukmu "
" Kamu kenapa nduk "
" Aku daptkan kontrak eksklusif itu bu "
" Alhmadulilah....disyukuri nduk "
" Puji Tuhan Bu, aku seperti mimpi rasanya bu.."
" Nduk, gusti ndak pernah sare. Dia mendengar doamu. Semuanya rejekine anakmu"
" Iya bu...aku dibayar 6 juta untuk 2 event "
" Alhamdulillah.."

Dan kudengar ibuku terisak. Tak ada lagi suaranya. Aku cuma dengar isakannya.

" Bu..sampun. Aku gak mau ibu nangis. Ini untuk ibu juga "
" Sing ati- ati nduk. Jaga dirimu baik- baik. Anakmu dinggo pangeling- eling "
" Nggih bu. Ini untuk semua, bapak ibu, anakku juga. "
" Banyak sekali bayaranmu nduk "
" Nggih bu, hanya untuk 4 jam aku baca tarot"
" Alhamdulilah...ibu ikut seneng nduk."
" Sampun nggih bu. Nanti saya telphon lagi kalau genduk sudah bangun. Ciumin anakku"
"Iyo nduk. Jangan lupa karo Gustimu, sing bener ati- ati lehmu tumindak"
" Nggih bu. Salam kagem sedoyo "

Dan aku masih terisak. Duduk di atas WC duduk. Ada haru menyeruak.Ada sesak mendesak jiwaku. Kerinduan panjang atas anakku. Senyum lepasnya menamparku untuk berhenti menangis. Aku tidak boleh cengeng. Aku seharusnya bersyukur. Di kota Jakarta aku sendiri. Tanpa siapapun, kecuali para sahabat. Dan sore ini kemenanganku. Tuhan menyentuh gelisahku dengan sebuah jawaban.

" SHanty, ibumu bahagia di sana, ayahmu juga, anakmu juga "

Kubasuh wajahku yang penuh keringat. Sungguh aku bersyukur. Tuhan ringankan aku sejenak. Kemarin aku terpojok diam, dalam penghakiman dan disudutkan. Aku mencoba bertahan. Merasakan setiap kepedihan sebagai nikmat. Kadang airmataku tak terbaca. Namun luka itu ada, dan bernyawa. Aku hanya bertahan dalam keyakinan dan iman. Aku putus asa, bagaimana menyampaikan bahwa

" Tuhan, aku punya cara sendiri mengasihi ayah ibuku. Dan aku lebih mengasihi- Mu apakah itu salah. Tunjukkan caranya, agar mereka tak cemburu atas keputusanku. Ringankan aku Tuhan dengan mukjizatmu yang indah"

Aku tersenyum lega. Aku berjalan sendiri. Berjuang sendiri. Bagiku semua kepahitan ada ujungnya. Masih ada sedikit persediaan gula dalam hidup, jika mau bersabar.

Hpku berbunyi, tanda sms masuk.

Ibuku :

" Nduk...ibu bangga. Sing ati- ati yo nduk. Eling anakmu "

Aku mengecup layar ponselku.

" Ibu..terimakasih "


June 28, 2008

Untuk Shanty

Dear Shanty.
gak tau napa semua orang cuman bisa salahin elo. Sori, aku gatel pengen nulis buat elo. Thanks udah mau kasih user and password lo. untuk yang baca dan cuman bisa salahin, atu ngehakimin orang lain, waktunya belajar. belajar buat diri elo jadi hidup.

shan,
gw kenal elo berapa tahun ya, hampir 3 tahun. dan gw banyak belajar dari elo. barapa lama aku jadi seorang istri yang gak pernah berhenti berselingkuh. bener kat lo waktu itu, apa yang kurang dari hidup gw?? gak ada, semuanya perfect. gw punya suami yang kaya, tajir, punya jabatan, dia kasih gw anak2 yang lucu. gw bisa ke salon, ke butik, minta mobil, punya kartu kredit sendiri. dan gw dateng temuin elo hanya gara2 gw panik telat datang bulang, dan gw gak tahu gw hamil dengan siapa.

sungguh, gw marah banget sama semua yang cuman bisa nyalahin orang lain. gw malu baca tulisan elo shan, sumpah. berapa lama gw gak sholat ?? gw seneng2 sama banyak laki- laki sementara laki gw sibuk kerja keras banting tulang buat nyenegin gw dan anak2. gw gak bisa bayangin, lo begitu kuat pegang iman lo mpe mati, lo gak takut lo bakalan nikah lagi apa engga, sementara lo perfect sebagai perempuan. gw malu shan...

makasih banget, tulisan lo bikin gw merenung, sejak tahun lalu ketika gw datengin elo saat panik, gw udah berhenti main- main sama kelamin laki- laki lain. bayi itu udah lahir, suami gw maafin semua kesalahan gw. bener kata lo, kadang buat jujur memang sulit, tapi gw berhasil kalahin ketakutan gw sendiri. suami gw sayang banget ama gw, dia mau terima bayi itu. tuhan ngingetin gw dengan cara yang hina banget, tapi gw bersyukur akhirnya gw bisa inget Tuhan.

Shan,
bener kata lo, gak ada yang bisa ambil kebahagiaan kita. jujur berat banget negjalani kehamilan gw kala itu. tetangga udah ngomongin ini itu, guinjingan tentang gw deres banget ngalirnya. dan seperti kata lo, suami gw emang tulus sayang ma gw, dan dialah yang nguatin gw untuk terusin kehamilan itu. gw malu banget..terpukul tertekan dan ngerasa gak berguna. untung gw gak nekad bunuh diri. mungkin waktu itu ketika gw putus asa dan gw gak ketemu elo, anak2 gw uydah lagi gak punya ibu, suami gw udah jadi duda bahagia. gw bahagia banget dengan keputusan gw sekarang, gw udah pakai jilbab, udah berhenti merokok dan minum, udah gak lagi main api sama brondong2 itu lagi.

shanty sahabatku,
aku tahu berat banget jadi lo. dan gw gak pernah sangka, hampir 3 tahun jadi sahabat elo, gw gak pernah lo putus asa, sedih, dan nangis. gw selalu lihat elo senyum dan senyum, elo selalu bisa bikin semua orang yang ada di samping lo adem. gw percaya, Tuhan deket banget sama elo. gw sayang banget sama elo dan anak elo. berjuang yah, gw yakin banget suatu hari nama elo bakalan banyak diomongin perempuan di negeri ini. feeling gw aja non...karena gak semua perempuan berani ambil sikap kaya elo. gw bangaa punya sahabat lo, dan jangan pernah menyerah. gw percaya lo perempuan hebat.

thanks, gw boleh belajar banyak hal dari elo. gak tahu gimana hidup gw kalau gw gak kenal dan deket ama lo. gw belajar jadi istri dan ibu yang baik dari elo yang 12 tahun lebih muda dari gw. gw belajar jadi seorang yang percaya Tuhan setelah gw baca tulisan elo di blog ini. honestly, gw malu banget...dan gw belajar untuk tetep jadi perenpuan yang jujur dalam negjalani hidup gw ke depannya.

terus menulis. terus berkarya. terus jadi perempuan yang punya prinsip. teruslah jadi kesayangan banyak orang. teruslah tersenyum dan berdoa seperti yang elo lakuin setiap ada orang yang ngehujat dan mengehakimin diri elo. teruslah jadi motivator dan isprirator buat semua sahabat perempuan elo. teruslah jadi ibu bagi semua sahabat, teruslah jadi surga buat kami sahabat2 lo yang salah langkah. semangat....

UNTUK C

Ups...aku jadi bingung juga dengan beberapa comment yang masuk. Hem...kadang kala memang harus siap dengan segala kritik dan hujatan, meskipun belum tentu kita yang melakukan sebuah kekeliruan sendiri. Haruskah aku marah padamu Non??? tidak- tidak..aku tidak akan pernah marah hanya untuk persoalan sepele, karena kamu lupa password. Hahahaha...jadi geli juga , masih ingat waktu kamu ingin sekali rubah title blog dengan bahasa Inggris, hanya satu alesannya mau didaftarin adsense. Hem..sebagai sahabat, aku hanya nurut maumu, sepanjang tujuanmu baik. Aku juga sebenernya kesel karena kamu tak kunjung tuliskan pengalamanmu di sini. Paling gak, aku sudah senang kamu berhasil lepas dari situasi sulitmu.
Non,
Pernahkah kamu berpikir, berapa lama kita habiskan hidup untuk dikontrol dan dikendalikan oleh orang lain ?? Mendadak kamu menangis saat pacarmu meninggalkanmu begitu saja. Kamu menghubungiku, dan menceritakan betapa sakitnya hatimu kala itu. Dan kamu mengataiku sahabat yang tega, hanya karena aku memintamu menutup telephonmu, dan memintamu menghubungiku lagi setelah kamu tidak lagi menangis. Dan aku masih senyum- senyum, aku tahu perasaanmu, kubirkan kamu memakiku, marah- marah dan akhirnya memberiku kesempatan bicara.
Hem..
Apakah aku sejahat laki- laki yang kamu perjuangkan selama 5 tahun itu ?? Aku memintamu menutup telepehon karena aku mau mendengarkan semua masalahmu dengan jelas, kalau kau menangis aku tidak bisa mendengarkan semua keluhanmu. Aku mau mendengarkan semua keluhanmu. dan membiarkanmu menangis karena aku tidak ada di dekatmu untuk memelukmu. Kadang kita dinilai amat buruk dan dikalahkan oleh penilaian yang lebih baik atas sesuatu yang menurut kita lebih penting. Untunglah aku sahabatmu, dan aku mengerti perasaanmu.
Aku bersyukur kamu menyadari, laki- laki itu layak kamu tinggalkan. Dia tidak hanya menyakiti dirimu, tapi kelaminmu, tubuhmu, keluargamu dan juga imanmu. Lalu apakah kamu akan bertahan dengan Islam yang baru kamu jalani selama 3 bulan ?? Semuanya kamu yang menjalani. Tanyakan dan jawablah dengan jujur , mengapa kamu meninggalkan Jesus ?? Karena laki- laki- itu, ataukah karena hatimu mau ?? Kondisinya sekarang hubunganmu dengan laki- laki itu kandas. Satu hal yang aku minta darimu bertanggungjawablah atas segala putusan hidup yang kamu ambil. Siapapun Tuhanmu, aku hanya sahabat yang selalu mendukungmu. Kekecewaanku hanyalah . ketika kamu tidak menjalankan semua tanggung jawabmu atas apa yang kau yakini benar, hanya itu saja. Yang lainnya, nikmatilah hidupmu dan keputusan hidupmu.
Bagaimana harimu ?? Mungkin akan terasa berat membiasakan hari tanpa laki- laki yang sudah lima tahun mendampingimu. Tapi mungkin pagi hari akan lebih nyaman karena kamu bisa bangun dengan lebih indah, tak ada lagi siraman air es atas tubuhmu hanya karena kamu telat bangun. Hem..syukurlah kalau kamu akhirnya berani bersikap. Aku juga lega , kamu mulai rajin masuk kantor dalam minggu ini dan tak menghubungiku setiap jam istirahat siang hanya untuk cerita dimana lagi laki- laki itu menyiksamu sampai lebam. Aku bahagia tubuhmu pasti lebih mulus jika pertengahan Agustus nanti aku datang menemuimu ke Jakarta untuk rayakan ulangtahunmu. Kamu tak perlu lagi menutupi lenganmu yang lebam dengan kaus panjang, kamu cantik dan menarik, dan waktunya kamu menyenangkan dirimu pakai baju yang membuatmu terlihat lebih cantik.
Hah...aku bahagia akhirnya kamu bisa lepas dari laki- laki itu. Waktunya sekarang kamu menyehatkan jiwamu ya. Biarkan dirimu bahagia, cukup ijinkan dirimu menikmati. Orang lain hanya bisa menunjuk, kemudian bicara seolah mereka yang paling benar. Apapun keyakinanmu aku mendukungmu, kamu masih punya waktu untuk berpikir. Meskipun kita seorang sahabat sejak 19 tahun yang lalu, dan kita mengalami kondisi sama, pindah keyakinan, kita punya alasan yang berbeda. Aku masih bertahan dengan keyakinanku, meskipun aku harus sendiri. Dan kamu ?? Jangan biarkan orang lain mempengaruhi keinginanmu, apa yang kamu yakini benar ikutilah, yakinilah, jalanilah dengan tanggungjawab. Ada atau tidak ada laki- laki itu lagi dalam hidupmu semuanya bukanlah sesuatu yang harus mempengaruhi kehidupanmu.
Bolehkah aku memberi pujianmu hari ini ?? Kamu semakin cantik dan terlihat bersemangat sejak tidak lagi terikat relationship yang menyulitkan hidupmu. Waktunya kamu menyenangkan dirimu sendiri, buang semua lemak di perutmu, mungkin ke gym atau fitness saat kamu senggang daripada kamu menangis lagi ketika terbersit tentang laki- laki itu. Ada banyak film dan buku yang menarik dan membuat isi kepalamu lebih penuh, paling tidak pelajaran hidup dan pengetahuan yang kamu dapat membantumu mengeliminir bayangan buruk kekerasan fisik, verbal, sexual dan psikologis yang kamu terima dari mantan kekasihmu itu. Sekarang kamu bebas beli baju dengan model apa saja yang kamu suka, tak ada lagi lebam dan memar bukan ?? Semangati harimu, tak ada orang lain yang bisa menyemangati diri kita sebaik kita menyemangatinya sendiri. Sekarang kamu manajer , dan aku berdoa kamu bisa jadi bos dari segala manajer di perusahaanmu.
C, kamu perempuan hebat. Aku bangga kamu melakukannya. Aku percaya kamu perempuan yang kuat dan tegas. Kutunggu kabarmu pertengahan Agustus, waktunya kita bersenang- senang atas kebebasan hidup kita. Ingat masih banyak jiwa lain di luar sana yang membutuhkan kasih sayang, jangan pernah biarkan hidup kita habis hanya untuk menangisi seorang laki- laki yang tidak pernah bisa bersyukur. Waktunya membagi cinta yang indah yang kita miliki nuntuk semua yang ada di sekitar kita. Aku bersamamu selalu. Boleh aku ganti sendiri title blogku ?? Daripada aku dinilai tak punya kredibilitas hahahahahaha.......intinya blog ini hanya bagi- bagi pengalaman untuk sahabat- sahabat yang lain yang mengalami nasib sama dengan kita. Susah sebentar, senang selamanya........
Love you sista

June 25, 2008

UNTUK KEYSHA

Ibumu hanya perempuan biasa. Aku tak mau kamu hanya menjadi perempuan biasa. Aku mau kamu jadi perempuan luarbiasa. Buku yang aku tulis, adalah untukmu, membantumu untuk tumbuh. Tumbuh menjadi kuat. Tumbuh menjadi jujur. Tumbuh menjadi merdeka. Dan merasakan hak hidupmu yang hakiki atas hidupmu. Tumuh menjadi perempuan yang bias merasakan kelagaan menjadi dirimu sendiri. Dan bahagia.

Suatu hari kamu akan tahu mengapa ibumu memutuskan meninggalkan ayahmu. Suatu hari kamu akan tahu pula mengapa ayahmu memutuskan untuk tetap mempertahankan aku, tetap menjadi istrinya. Suatu hari ketika kamu dewasa, kelak kamu akan belajar untuk tidak menjadi seperti ayah dan ibumu. Suatu hari ketika kamu dewasa, kamu akan belajar betapa sulitnya mempertahankan sebuah pernikahan. Kamu akan belajar mengenai pertobatan, menjadi jujur, dan menelanjangi diri sendiri sebelum kamu menjadi manusia baru yang lebih baik.

Ibumu mengasihimuMeskipun belum mampu berhenti selingkuh dengan rokok selama aku mendampingi ayahmu. Terkadang aku mengabaikan celoteh kekhawatiranmu jika aku terus bersama benda itu. Namun kamu menjadi lebih mengerti, jauh lebih mengerti dibandingkan ayahmu. Kamu memahami gelisahku, kamu menghargai pendapatku, dan kegalauanmku. panjang. Dan aku minta maaf sampai hari ini aku belum bisa meninggalkan benda ini.

Ibumu mengasihimu, kamu tahu. Kamu mengatakannya setiap saat betapa sayang kamu padaku. Dan itu membuatku menangis, karena ibu hanya punya cinta. Ibu hanya bisa mengajarimu bagaimana kamu berani mengambil sikap.Dan aku bangga, kelak ketika kamu tumbuh dewasa, kamu akan tumbuh bukan menjadi manusia kerdil. Kamu tidak hanya menilai sesuatu apapun dari apa yang tampak terlihat dari luar.

Nak, masih kamu kumpulkan permen kerinduan, kesabaran dan penantianmu?? Sudah berapa jumlahnya?? Bersabarlah, menunggu ibu meyelesaikan semua perjuangan ibu menjadi merdeka. Di akhir perjuangan, kita akan menghitung bersama berapa permen yang kamu kumpulkan. Berapa hari pula ibu tak hadir di sisimu. Dan kamu belajar dari permen yang kau kumpulkan, karena ibu tak selalu bisa setiap hari mengajarimu banyak hal. Ibu hanya memberimu permen itu, kau simpan dalam sebuah kotak, satu persatu bertambah setiap harinya, ketika ibu jauh. Semoga kamu mengerti, peremen itu ganti ibumu, yang ingin mnegajarimu tentang kesabaran , menanti, mengerti, menahan rindu dengan doa dan harapan yang baik. Dan kita akan pergi bersama membagikan permen itu kepada teman- teman kecilmu di pinggir jalan itu, mereka yang tinggal di rumah beratap langit, mereka yang harus mengalahkan hari di sepanjang jalan untuk rupiah. Dan kamu akan bersyukur, kamu jauh lebih beruntung karena bisa tinggal di lingkungan yang nyaman. Di akhir nanti, permen itu akan berkata….

“Akulah guru kesabaranmu nak. Ibumu telah kembali, dan tak akan pernah lagi meninggalkanmu sendiri. Ibumu tak pernah lari, ia menitipkan banyak hal untuk kuajarkan padamu jika ia tak ada di sisimu. Dan bagikanlah aku ketika ibumu datang. Karena kau akan belajar bagaimana indahnya bersabar dan berbagi”

Anakku,

Aku menelanjangi dirku sendiri untuk membuat ayahmu berubah. Terkadang ketika ingin merubah sesuatu menjadi lebih baik, kita harus berani menelanjangi diri sendiri. Kamu akan tahu rasanya malu, dan kemudian berpikir. Kamu akan menangis ketika menyadari di mana kesalahanmu. Ayahmu menajadi laki- laki yang terluka, ketika melihat aku membuka tubuhku untuk orang lain. Dan aku tersenyum ketika ia menyadari betapa terlukanya aku ketika ia asyik dengan tubuh- tubuh telanjang itu.

Aku merasakan luka itu, saat tubuh menjadi tak berarti. Tubuh lain yang maya yang membuat laki- laki itu berfantasi dengan libidonya di atas tubuhku sampai ke anusku. Yah…aku menggantikan perempuan- perempuan cabul itu, lalu apa bedanya ibumu dengan seorang pelacur ??

Anakku,

Cepatlah tumbuh. Jadilah bijak. Carilah Tuhan dari manapun Dia datang, kenalilah Tuhanmu dengan baik karena kamu menjumpainya, bukan karena kamu dengar apa kata orang. Anakku..kadang apa kata orang tidaklah selalu benar. Yang benar adalah apa kata hatimu, Tuhanmu ada dalam hatimu. Bahkan ketika semua orang menghujatmu bahwa yang kau pilih adalah sebuah kesalahan, tegakkan langkahmu. Bertanyalah pada nurani, dan jika tak ada lagi yang berbisik dengan dua konflik dalam batinmu, ketika kamu tak lagi takut atas apapun kecuali Tuhanmu, berjalanlah.

Bintang di langit bisa jadi terang, namun bisa jadi membosankan jika kamu melihatnya setiap hari. Jadilah perempuan besar, kadang diam bukan berarti engkau lemah, namun bicaralah saat engkau memang harus bicara. Marahlah jangan menangis jika memang kamu harus marah, dan hargailah semua yang Tuhan berkatkan atas engkau. Tak ada seorangpun yang berhak mencuri kebahagiaanmu, termasuk aku ibumu.

TENTANG IBUKU

MENUNGGU LOTERE 9 BULAN

Sepasang laki- laki dan perempuan. Menanti satu tahun untuk memenangkan lotere kehidupan. Mereka berharap untuk menang. Uang mereka sudah banyak habis untuk itu. Beli dari Bandar jamu, Bandar kamasutra, Bandar alim ulama, sampai terakhir mereka buang uang yang jumlahnya lebih besar dari pendapatan sebulan, beli lotere ke Bandar spesialis kandungan.

Suatu siang di bulan Maret, si perempuan sontak menggigil. Kedua tangannya gemetar, umurnya masih 16 tahun kala itu. Sang Bandar mengatakan dia menang lotere.

“Kamu menang lotere…kamu bisa ambil hadiahnya setelah Sembilan bulan kemudian”

Perempuan itu membawa selembar kertas tanda kemenangannya. Dikayuhnya sepeda di siang bolong menuju tempat bekerja suaminya. Banyak bunga bermekaran di hatinya. Wajahnya merona merah, campuran antara reaksi panas matahari dan kegembiraan yang luarbiasa. Dengan semangat dia kayuh sepeda itu.

“Mas…aku hamil….”

Laki- laki itu, suaminya, memeluk dan menciuminya dekat pos satpam di bagian depan kantor. Siang itu sudah panas, selembar kertas kemenangan ibarat ice cream aneka rasa yang menyejukkan. Laki- laki itu berteriak keras- keras, tak peduli semua orang menatapnya penuh tanda Tanya.

“aku akan jadi bapak…aku akan punya bayi”

Sepasang laki- laki dan perempuan itu menunggu Sembilan bulan. Si laki- laki bekerja tanpa kenal lelah. Dia punya double side, kerja cari uang sekaligus merangkap jadi pelayan buat istrinya seusai pulang kantor. . Pendapatan mereka tak seberapa, kadang kalau habis beras, mertua masih ikut campur menyumbang. Laki- laki terus bekerja keras, mencatat detail semua jenis makanan untuk bayi di perut istrinya.

“aku mau anak ini tumbuh sehat, pintar dan jadi orang hebat”

Kata- kata itu seperti mantra yang wajib diucapkan setiap saat, ketika laki- laki itu menyuapkan makanan untuk istrinya. Dan ia tak kenal lelah mengganti semua makanan yang keluar lagi. Bayi di dalam perut itu bukannya tak pengertian, tapi ia sedang berkata….

“cukupilah aku secukupnya. Hidupilah aku semampumu, jangan berlebihan, aku hanya titipan, bukan milik kalian. Aku milik Tuhan”

Dan setiap berkata demikian, perut perut perempuan itu mendadak bergolak. Semua tumpah melalui mulut perempuan itu. Dan bayi itu menguji mereka dengan hal itu selama 6 bulan. Laki- laki dan perempuan itu tak pernah mengeluh. Mereka tetap memberikan apa yang terbaik untuk bayi itu. Dan bayi itu menyerah, dia bersikap lebih pengertian. menyerah dan menunggu sampai hari kelahirannya datang.

Jumat siang, tepat jam 12, bulan November tahun 1979, si bayi mendengar bisikan dari yang tak terlihat.

“Bersiaplah kamu meninggalkan alammu. Kamu akan keluar dari tempat yang gelap dan basah, dan itu adalah Surga. Yang kau lihat di luar adalah alam baru. Di sana ada dua tempat Surga dan Neraka. Kamu seperti raja dan akan bahagia jika kau sampai di Surga. Bersiaplah untuk petualangan barumu, karena kamu hanya akan jadi pemenang atas dirimu sendiri ketika kamu sampai di Neraka. Di sana yang ada hanya sakit, dan kepedihan. “

Dan entah, semua serasa bergolak. Perempuan itu merasakan perutnya melilit, rasanya seperti hendak buang air besar. Bergegas ia jongkok. Laki- lakinya sedang pergi ke masjid, karena hari itu, hari wajib untuk ketemu Tuhan.

Perempuan itu mengejan, bukan tinja yang keluar. Seperti batu warna hitam, namun lembut. Dan ia berteriak…….

“Hadiah lotereku keluar….aku gak mau ia jatuh ke lubang tinja. Tolong……..”

Beberapa menit kemudian, seorang suster menolongnya. Perempuan itu terbaring di atas ranjang. Dibukanya kedua paha sementara sang suster sibuk membantu proses kelahirannya.

Tanpa mengejan. Bayi itu lahir, tanpa menangis seperti umumnya bayi normal. Sang suster membalik tubuh mungil itu, mencubitnya beberapa kali dan barulah terdengar teriakannya yang keras, menyaingi suara aszan dari pengeras suara di masjid sebelah.

Perempuan itu tersenyum. Suster itu tersenyum.

“Anakmu perempuan, sehat, cantik seperti kamu…, ”

Perempuan itu hanya menatap sambil tersenyum. Dalam hatinya ia bersyukur. Ia samasekali tak kesakitan seperti cerita- cerita orang.

Tepat jam satu siang, sang bayi sudah selesai dibersihkan. Tak lagi bau amis darah, dan tertutup selaput warna putih. Bayi mungil yang bersih, ada tanda biru sebesar tutup gelas di pusarnya. Tanda itu tak mengurangi kebahagiaan si laki- laki dan perempuan atasanya.

Laki- laki itu berkali- kali menciumi sang bayi yang disusui istrinya. Mereka sepakat memberi nama Sekar.Bayi perempuan mungil yang dinanti selama setahun. Beratnya hanya 2,5 kg, panjangnya 45cm. Bayi yang sangat mungil dan terlihat sangat lemah.

Laki- laki dan perempuan itu saling menatap. Hari itu mereka diberi Tuhan sebuah berkat. Banyak harapan dan impian indah silih breganti memenuhi kepala dan hati mereka. Dan sang bayi berkata…….

“aku hanya akan memenangkan hidupku sendiri dengan diriku sendiri. Dimanakah tempat yang bernama neraka itu. Apakah ini surga?? Apakah laki- laki dan perempuan ini Surgaku?? “

Dan…penantian akan lotere kehidupan itu lengkap. Mereka tidak lagi ke Bandar manapun. Hanya berkutat pada sang bayi.

WANITA ITU

Aku tak tahu apa salahku saat mengandungnya. Berkali- kali aku berteriak aku menyayanginya. Aku berharap banyak padanya, dan aku yakin ia akan jadi perempuan hebat kelak.

Sekar,

Ibu rindu kamu. Dulu kamu pendiam saat kecil. Sekarang kamu sangat berubah. Ibu rindu kamu tersenyum dengan jujur. Aku tahu kamu menutupinya. Aku tahu……

Sekar,

Masih ingat saat kakimu terluka. Saat itu kamu baru empat tahun. Dan kakimu terluka karena aku. Membelikanmu sepatu saja aku tak mampu. Dan kamu tetap gadisku yang kuat, menneruskan langkah menuju ke tempat itu tanpa mengeluh, tanpa menangis. Dan aku…

Menangis di pojok ruang sesaat setelah kamu tidur. Aku sudah menahannya, sejak kamu pulang. Saat kamu merengek

“Ibu kakiku sakit..kakiku berdarah….”



Dan kubersihkan telapak kakimu yang mungil. Kaki yang terluka oleh tajam kerikil dan butiran pasir. Kamu hanya menatapku, saat kapas- kapas basah itu membasuhnya. Sungguh..kamu lebih kuat dari aku saat itu.

Hah…

Memandang gambarmu dari bayi sampai hari ini ketika kamu duapuluh Sembilan tahun, semakin membuatku tak bisa membendung kepedihan. Kamu ada dengan sebuah pengharapan yang panjang. Lantas Tuhan mengirimkanmu tumbuh di rahimku seperti aku menang lotere. Kamu tumbuh dengan segala keterbatasan. Kamu tumbuh ibarat bintang bagiku. Aku berharap begitu banyak kepadamu nak…..

Aku Cuma perempuan kampung, yang tak makan sekolah sampai tinggi, SMP saja aku tak lulus. Aku ingat jelas, cibiran siapapun ketika aku putuskan menikah dengan laki- laki itu, ayahmu. Umurku masih 16 tahun, belum genap 17. Kubesarkan kamu dengan perjuangan, sungguh aku hampir menyerah dengan semua masalah yang tak kunjung mau surut. Dan kamu seakan mengerti kegelisahanku.

Sekar,

Sekarang aku duduk di atas kursi goyang sambil menatap puluhan piala yang kau kumpulkan untuk menyenangkan aku. Menatap puluhan piagam yang hampir memenuhi ruangan ini. Aku membayangkan dirimu nak…aku rindu.

Kerinduanku sudah kutumpuk lama, sejak tiga belas tahun lamanya, sejak kamu putuskan mengurus hidupmu sendiri. Dan kamu hanya pulang sebentar setiap akhir pecan. Dan setiap kukatakan aku rindu jawabanmu selalu sama…

“Ibu..biarkan aku mengejar mimpi. Akulah bintangmu. Dan semua orang akan tahu kamu ibu yang hebat. Aku akan tunjukkan kepada dunia betapa hebatnya engkau ibu. Aku kuat, sekuat kamu ……….”

Dan kamu mengecup keningku. Mengatakan betapa kamu mencintaiku. Memandangku dengan lembut dan berkata lagi…

“Aku ingin membahagiakanmu ibu dengan apa yang sudah berkatkan atas aku”

Dan aku membiarkanmu pergi. Mengejar mimpimu. Dan sungguh ada gejolak di batinku. Aku bangga padamu nak…tapi aku rindu.

BErhari- hari aku menumpuk rindu. Dan jawaban rinduku terjawab. Tapi sungguh bukan ini yang aku mau. Tuhan menjawab kerinduanku dengan memberiku sebuah kepedihan. Aku tak pernah bermimpi hidupmu akan sehancur sekarang Sekar. Aku tahu kamu lelah..sangat lelah. Aku tahu, meskipun kamu menutupinya dengan segala ketegaran yang kau tampakkan.

Kamu bahkan sudah mirip gembel. Kamu melarat. Kamu hancur. Laki-laki itu yang kau sebut suami, menghancurkan hidupmu ke titik yang paling rendah. Aku hancur…..aku terluka, ia merempas semua kebahagiaanmu. Aku tidak kuat menerima ini Sekar, meskipun rinduku terobati. Meskipun aku bersamamu sepanjang hari, tapi bukan ini yang aku mau.

Aku rindu. Memelukmu mendengar segala celotehmu, atau cerita. Aku rindu kamu membawakan aku satu bintang. Aku rindu kamu nak dengan fitrahmu yang dulu. Aku rindu kau nak dengan banyak bintang yang membuatku hidup.



(bersambung )

I

TENTANG LAKI- LAKI ITU

Suatu pagi, akhir pekan di bulan Juni. Aku mencoba menahan dan membuang segenap kebencianku. Ada jiwa kecil tak berdosa di sampingku. Dan aku luluh untuk kembali menjadi artis di depannya. Seolah tak ada konflik diantara ayah dan ibunya. Seolah kami baik- baik saja. Seolah kami menikmati hakhir pekan dengan sukacita. Beberapa mata bahkan tak menangkap kami pasangan bermasalah dan dalam detik- detik akhir menunggu keputusan pengadilan untuk sebuah perceraian.

Laki- laki itu sengaja membayar lebih agar Key bisa bermain lebih lama. Dia duduk tepat di sampingku. Menatapku dengan dalam. Matanya penuh tatapan harap. Mata yang tanpa dosa dari tubuh yang membuat aku terkungkung dalam kebencian yang dalam. Aku berubah menjadi wanita dingin lagi. Aku tahu ia sedang mencoba meluluhkan perasaanku. Aku bisa merasakannya. Dia juga menunjukkannya. Dia mulai mengusap lembut beberapa helai rambut yang jatuh menutup sebagian keningku.Dia tahu aku sedang sakit hari itu.

Tuhan...aku tidak mau membenci laki- laki ini. Dia menatapku dengan tatapan yang mengiris sebagian hatiku. Aku menyadarkan diriku kembali, menyusun kekuatan untuk bersikap netral. Aku bukan seorang musuh yang bengis, itu bukan aku. Aku ingin mengasihi laki- laki ini dengan cara lain, aku ingin membebaskannya. Dan kembali padanya bukan pilihan yang tepat. Aku tidak punya jaminan pasti, sampai kapan ia harus bersabar menungguku bisa membunuh benciku secepat kilat.

Dia memohon padaku untuk mempertimbangkan keputusanku. Aku menatapnya, dan meyakinkannya lagi, aku tetap pada keputusanku. Aku mau bahagia, aku mau sehatkan jiwaku. Aku mau dia juga bahagia dengan hidupnya, dan aku bukan orang yang tepat untuknya. Dia tampak memelas, aku tahu dia serius dengan keinginannya. Dan aku juga serius, menikah dengannya bukanlah sesuatu yang bisa membahagiakannya. Terlalu banyak dendam, kebencian, dan luka padaku. Aku sudah coba mengurai satu- satu namun menyerah dan memilih mengakhiri semuanya.

Laki- laki itu memilih menyimpanku seumur hidupnya. Aku tidak yakin itu keluar dari hatinya. Semoga saja tidak. Aku berharap dia masih membuka hatinya untuk perempuan lain, dan itu bukan aku. Aku sangat tahu dia, bagaimana ia, terutama masalah seksualnya. Aku dia bisa menikmati karunia Tuhan untuk kebutuhan itu, tapi bukan dengan aku. Aku peduli dengan dirinya, dan aku juga peduli dengan diriku. Dia mengataiku egois, mungkin benar. Sesekali, aku juga harus egois kupikir.

Aku bangga dengan beberapa perubahan dalam hidupnya, terutama masalah relasi dia dengan Tuhan. Dan aku mencoba meyakinkannya, semua perubahan itu baik untuk dirinya, bukan untuk dan karena siapapun termasuk aku. Aku bangga, aku katakan itu padanya. aku tidak mau lagi jadi pembohong, kukatakan padanya, kelaminku tidak pernah bisa memaafkan kelaminnya. Dan itu masalah besar jika kami putuskan untuk rujuk, aku butuh waktu dan tak ada jaminan sampai kapan itu.

" Aku tahu kamu kecewa dengan keputusanku. "

Untuk laki- laki itu :

" aku bisa menyayangimu dengan lebih indah ketika aku meresponmu sebagai orang lain, sebagai sahabat, sebagai ayah key. Ketika diriku mengenalimu sebagai suamiku, kebencian demi kebencian bertubi- tubi menyerangku, aku tersiksa. Aku ingin memaafkanmu, tetapi kelaminku tidak.

kita menyayangi key. Aku percaya, kamu mulai merasakan betapa berartinya dia bagi kita berdua. Bukan aku denganmu kembali , kuharap engkau mengerti bagaimana aku. Aku seorang yang kuat memegang keputusan dan prinsip. Dan engkau juga mengerti betapa lembutnya hati dan perasaanku, meskipun aku bukan seorang perempuan yang lembut dan feminim.

terimakasih, kamu memberi penghargaan sebagai seorang yang kamu percaya untuk memebesarkan dan merawat key. Aku tidak akan pernah mengkhiananti kepercayaanmu padaku tentang hal ini. Sebagai perempuan aku tersanjung. Terimakasih kamu bisa melihatku bukan dari apa yang tampak , melihatku sampai ke dalam yang tersembunyi, setelah peristiwa ini. Akhirnya kamu bisa melihatku secara utuh sebagai seorang perempuan.

Maafkan aku, inilah keputusan terakhirku. Aku hanya berharap, kita belajar dari pengalam ini. Aku mendukungmu untuk bahagia, termasuk ketika akhirnya ada hati yang lain yang lebih indah mengisi kehidupanmu selanjutnya. Maafkan aku, biarkan aku menikmati kesnedirianku untuk saat ini. Biarkan aku membebaskan diriku untuk bangkit dari semua keterpurukkanku.

Maafkan aku, aku bulat dengan keputusanku. Aku tidak mau menyakiti siapapun lagi. Aku menyayangi orangtuaku, aku menyayangi anakku, aku menyayangi diriku. Aku tidak mau sakiti engkau juga. Kamu layak untuk meneruskan hidupmu dan layak untuk mengejar mimpimu yang lain. Jangan jadikan aku sesuatu yang menghentikan kehidupanmu. "

Dan bukan siapa- siapa yang akan bangga ketika kamu bisa mengalahkan ketakutanmu kecuali engkau sendiri. Dan tak ada yang lebih bangga ketika kamu bisa menunjukkan perubahan terbesar dan terbaik dalam hidupmu kecuali kamu sendiri. Hiduplah untuk hidup, berubahlah untuk dirimu, bertumbuhlah untuk dirimu. Tanpa kamu kamu harus meminta, siapapun di sekitarmu akan menghargaimu. Selamat berjuang. Demi key, demi ibumu, demi hidupmu sendiri. Aku masih sahabatmu sampai detik ini.






June 19, 2008

TENTANG ANAKKU

Dia sudah besar umurnya 3 tahun. Dia tumbuh sehat, ceria, dan secara psikologis dia bahagia. Dia tahu aku dan ayahnya tidak lagi berdampingan. AKu tidak pernah mengajarinya membenci ayahnya, meski sempat hampir 4 bulan lamanya ia menahan rindunya. Suamiku tidak datang menengoknya, ia takut berkonflik dengan keluarga besarku. Dan aku berjuang keras memberikan pengertian pada putriku tentang keadaan ini. Kami berkomunikasi setiap dia pulang sekolah dengan ayahnya, ketika aku tidak bekerja ke luar kota.

Anakku tahu aku tidak nyaman dengan ayahnya, aku menjelaskan dalam bahas sederhana untuk membuat dia menghormati keputusanku. AKu belajar menghormati kemauannya saat ia ingin bertemu dengan ayahnya. Aku tidak pernah menghalanginya, dengan catatan situasi dan kondisi memungkinkan. Beberapa waktu lalu, kami bertemu menghabiskan sabtu dari siang sampai petang, seolah kami keluarga utuh. Dan...aku menahan sakit hatiku sendiri ketika kutingglkan putriku seminggu lamanya. Aku menangis dalam perjalanan, sungguh aku tak mau meninggalkannya barang sehari, tapi aku harus bekerja untuk hidupnya. Ibuku begitu marah ketika tahu, aku bertemu dengan suamiku dan menghabiskan weekend bersama. Aku diam bagai es, kucoba tak dengarkan makian yang terasa mengiris hatiku. Kupikir anakku juga berhak ketemu dengan ayahnya. Dan biarlah itu jadi bagian dari resiko atas keputusan yang kuambil.

Anakku menghormati ayah ibunya. Dia penyemangatku, dan juga pengingat langkahku. Aku belajar banyak dari jiwa kecil ini. Aku bersyukur, dia tumbuh jadi gadis kecil dengan rasa percaya diri yang baik. Dua hari yang lalu, aku tak kuasa menahan haruku. Melihatnya di atas panggung, di hadapan lebih dari 500 orang ia menari dengan wajah penuh senyuman. Beberapa saat sebelum ia naik panggung, ia menelphon ayahnya, meminta dukungan. Dan aku tak kuasa menahan butir airmataku, dia menari dengan amat confident. Dia terlihat sangat cantik dan lucu. Semua bertepuk tangan melihat aksi panggungnya. Dan aku lebih - lebih. Tuhan.. kuatkan aku mendampinginya sampai aku tua, meskipun aku sendiri.

Ada buku tahunan dar sekolahnya, kulihat komentar untuk putriku :

"Keysha, anak yang sangat riang, ramah, dan suka menyanyi "

Anakku menuruni bakat dan sebagian sifatku, wajahnya lebih mirip ayahnya. Dia gadis yang sangat riang. Aku belajar darinya. Bagaimana ia menutupi kesedihannya ketika melihat sebuah keluarga utuh, komentarnya :

"Kita bisa jalan- jalan seperti itu setiap weekend ibu..kalau papa tidak sibuk "

Sungguh aku ingin minta maaf atas ketidak beruntungannya. AKu sadar, aku yang membuat keputusan ini. Dan aku tidak ingin menambah kondisinya semakin buruk, aku tidak mau mengekangnya berhubungan dengan ayahnya. Aku mau dia tetap baik dengan ayahnya. Dia sangat ekspresif ketika mendapat kesempatan untuk bicara melalui telephon genggam dengan ayahnya. Aku bahagia melihat dia bahagia....

Anakku akan tumbuh dan dewasa. Semoga saja dia bisa belajar dari apa yang terjadi pada kedua orangtuanya. Aku mau dia lebioh baik, dan lebih beruntung kelak. Satu- satunya yang bisa kulakukan untuk kehidupannya kelak adalah, fokus dan bertanggung jawab dengan keadaan yang sekarang aku jalani. Aku tidak boleh sedih dan putus asa. Aku harus lebih hati- hati memutuskan sesuatu agar tidak salah langkah lagi. Aku mencintai putriku.



May 21, 2008

KELUAR DARI TEKANAN

Mematahkan kebiasaan dan pola pikir yang sudah lama dan telanjur tertanam sejak lama, dan bahkan sudah menjadi kesepakatan sosial sangat sulit. Beberapa kali aku bicara tentang mengakhiri semuanya, aku katakan aku tidak mencintainya, aku merasa tidak bernilai, aku seperti pelacur rendahan, aku tidak bernilai. Dan itu tidak mebantuku keluar dari masalah. Aku begitu terkungkung dengan aturan gereja. Perasaan takut berdosa , perasaan lain, perasaan malu. Bagaimana tidak, aku melakukan kebiasaan yang Tuhan tidak suka, aku minum. Aku berkecamuk dalam konflik batin yang amat panjang. Aku minum agar lepas kesadaran, jika aku lepas kesadaran aku bisa memberikan yang terbaik untuk suamiku. Kuakui, aku sering memaksakan diri untuk berpura- pura menikmati, sejujurnya hati kecilku menolak.

Aku berpikir ke arah lain, aku berhak keluar dari keadaan yang sangat tertekan dan membuatku frustasi. Aku seorang pendemdam, dan idealis. Aku sulit melupakan hal- hal menyakitkan yang terjadi pada hidupku. Dan jika kuteruskan pernikahanku dengannya, aku terjebak dalam perasaan berdosa sepanjang hidupku. Aku memebohongi dia, dengan berpura- pura mencintainya. Dia menilaiku terlalu sempurna sebagai istri, bahkan saat terakhir kukatakan aku ingin mengakhiri segalanya, dia masih bertahan dan mencoba untuk menahanku.

Aku pikir dia berhak bahagia, sebagai manusia, dia berhak mendapat seorang perempuan yang bisa mencintainya dengan lebih baik. Aku tidak mau menyudutkan dia secara terus menerus. Laki- laki yang menikahiku seorang laki- laki yang lemah lembut dan sangat romantis. Dia tidak pernah kasar berkata padaku, kecuali dalam keadaan khilaf. Dia menghujaniku dengan pelukan dan ciuman setiap saat. Dia mengatakan betapa ia mencintaiku setiap saat, meskipun aku jarang menjawabnya. Namun, sekali lagi aku sangat jahat jika kuteruskan sandiwaraku, hanya karena ketakutanku pada hukum gereja. Bukankah Tuhan juga tidak suka umatnya berbohong. Aku mencoba menyusun kekuatan atas diriku sendiri, untuk berkata jujur padanya tentang semua yang kusimpan sendiri selama 3 tahun. Menyakitkan, dan dia terlihat sangat shock.

Aku tidak mau mengorbankan siapapun, termasuk anakku. AKu hanya mau mengakhiri relasi seksualku dengan dia melalui pengadilan. Tujuan utamaku bercerai adalah terlepas dari keadaan tertekan, aku mau jiwaku sehat kembali. Aku belum bisa bepikir seperti orangtuaku, mereka menginginkanku pindah keyakinan untuk hidupku selanjutnya. Aku mengerti, perasaan orangtuaku sendiri, mereka masih ingin aku berumahtangga dan memiliki anak. Sejujurnya, aku sudah bahagia dengan anakku. Apalagi yang akan aku kejar, aku sudah bahagia dengan imanku, cukup. AKu hanya mau bahagia, aku mau berdamai dengan Tuhan, hidup dengan benar dan membesarkan putriku dengan baik. Aku bahkan tidak berpikir untuk relasi dengan siapapun termasuk relasi seksual.

Aku bertahan dengan keputusanku. aku melanjutkan perjuanganku melalui pengadilan. Aku tidak akan mundur, kupikir ini jalan terbaik. Suamiku masih memintaku untuk kembali. Aku sendiri bingung, aku tidak kemana- mana. Aku masih hidup dengan anakku, relasi komunikasi kami masih terjalin baik sebagai ayah, ibu dan anak, bagiku itu sudah cukup. Aku sadar, secara seksual aku sudah tidak dapat menjalankan fungsiku dengan baik, itu alasan pertimbanganku untuk menolak kembali hidup dengannya. Aku tidak akan tega membiarkan dia sendiri terlelap, sementara kami tinggal dalam satu rumah. Aku tidak akan tega membiarkan dia merayuku setiap saat, betapa dia mencintaiku dengan tulus, sementara aku tidak . Aku juga tidak akan bisa melihatnya mendapat cacian dan makian dari keluarga besarku atas apa yang pernah ia lakukan atas aku selama 3 tahun bersamaku. Aku sungguh ingin membebaskannya dari duri atas benci dan dendam. Aku juga mau ia bahagia dengan hdiupnya.
Dan aku tidak bisa lagi membahagiakannya secara lahir batin. Aku sadar sampai dimana porsiku dalam hal ini.

Saat ini aku sedang menikmati hidupku sendiri. Aku bahagia dengan anakku. Aku bahagia dengan keputusanku. Aku bahagia melihat ayah anakku serius dalam pertobatan, bagaimanapun itu baik untuk dirinya, dan posisi dia sebagai ayah anakku. AKu mendukungnya. Aku tak mau menambah beban hidupnya dengan rujuk, karena aku tak yakin bisa membuang perasaan benciku secepat kilat, aku manusia biasa. Sebagai sahabatnya, aku bisa lebih baik dalam berkomunikasi, namun jika aku mengingatnya sebagai suamiku, kuakui aku kerap luap diri. Aku bukan perempuan kasar yang bisa membentak seseorang, atau memelototi dan memaki, namun jika sudah berhadapan dengan dia dan aku ingat atas apa yang ia pernah lakukan, aku khilaf melakukannya saat dia mencoba merayuku untuk kembali.

Aku berusaha keluar dari semua tekanan yang menghimpitku. Aku berusaha untuk jujur dengan diriku sendiri, fokus pada apa yang aku mau. Aku tidak mau satu hariku tidak bernilai apapun. Aku pikir bahagia, sedih, senang, susah hanya akan tercapai jika kita bisa mencintai diri kita sendiri, mendengarkan apa yang diri kita inginkan. Banyak yang mencoba memancing di air keruh dengan posisiku. Aku mencoba bertahan, fokus hidupku adalah kebahagiaan putriku. Hari- hariku kuisi dengan kesibukanku mengumpulkan rejeki. Beruntung Tuhan memberiku bakat menyibak sesuatu yang tersembunyi melalui guratan tangan, dan kartu tarot. Aku bertemu dengan banyak klien, dan semuanya orang- orang dengan masalah hidup yang complicated. Dan aku merasa bersyukur bahwa aku memiliki keberanian untuk meyelesaikan masalahku dengan jujur mendengar apa yang hatiku mau.

Masalah terberatku saat ini adalah meneruskan hidupku, dengan keyakinanku, dengan statusku. Putriku adalah semangat terbesarku, sekaligus alat kontrolku. Aku hanya mencoba mengingatkan diriku sendiri, apa yang kamu cari ?;

"Aku mau bahagia, aku mau berdamai dengan hidupku, dan putriku"

Aku sadar hidup ibarat menanam benih. Dan aku tidak mau memetik hasil yang tidak baik untuk putriku. Godaan datang silih berganti, aku mencoba bertahan pada keyakinanku. Putriku harus hidup dari sesuatu yang baik, dan aku tidak boleh curi- curi kesempatan hanya karena silau. Beberapa pria yang menawarkan janji untuk hidup lebih baik bagiku seakan tdiak mau menyerah. Aku sendiri, tak terbersit ingin berelasi dengan salah satu dengan mereka. AKu masih butuh waktu untuk menyembuhkan traumaku. Dan terimakasih Tuhan masih melindungi kelaminku dan tubuhku.

Aku bicara serius dengan orangtuaku, aku siap sendiri seumur hidupku dengan kayakinanku. Aku punya seorang putri, dia juga perempuan. Aku ingin mengajarkan ia bagaimana kita hidup bertanggung jawab dengan semua keputusan yang kita ambil. Aku masih rindu dengan konsep keluarga nazareth yang kuyakini, kami bisa bertumbuh dalam iman, bukan relasi seksual. Aku berdiskusi serius dengan suamiku masalah ini, dan aku siap jika ia bertemu dengan seorang perempuan yang lebih baik dariku, mengakhiri kesendiriannya dengan pernikahan baru. Aku siap membantunya. Aku hanya mau keluargaku bahagiaku, mereka lepas dari ketakutan atas nasibku. Aku mau anakku bahagia karena ayah dan ibunya belajar berubah dari pengalaman ini. AKu mau suamiku bahagia, ia bisa serius dalam pertobatan, aku sangat mengerti dia terpukul atas peristiwa ini. Dan aku bukan seorang musuh yang bengis membiarkannya mati sendirian.

Ah.....
Aku bersyukur masih banyak yang peduli. Cacian makian, hujatan, gunjingan membuatku belajar mendengar, merenung dan berjuang merubah diriku dari sesuatu yang tidak baik. Pujian, dukungan, dan kepercayaan membuatku belajar untuk bersyukur, menjaga, dan merawat apa yang kita yakini benar untuk selalu diperjuangkan. Aku bahagia dengan keputusanku. Aku tidak sendiri. Aku masih punya keluarga yang merengkuhku dengan amat kuat dan menenangkanku. Aku masih punya anak yang hebat, dia sangat dewasa melebihi aku ibunya. AKu masih punya banyak sahabat yang setia, aku masih punya hari esok yang panjang. Aku masih punya serangkaian waktu yang harus kuisi dengan sesuatu yang berguna bagi diriku, anakku, keluargaku, dan orang- orang yang ada di sekitarku. Aku tidak mau lagi menangis, aku harus bahagia.

May 15, 2008

MENGENALNYA SETELAH MENIKAH

Aku percaya pada kebohonganku sendiri,ketika aku berpikir bahwa suamiku akan berubah setelah menikah.Aku pikir,kebiasaannya tidur dengan pelacur,menyimpan gambar-gambar cabul,mengintip hal berbau sexual adalah karena dia tidak memiliki kekasih sampai usia 26 tahun.Saat itu menenangkan diriku sendiri,menghalau pikiran burukku sendiri,suamiku tipe sex addict.Aku menerima alasan-alasannya,termasuk mencoba mengerti bagaimana ia dibesarkan dalam penjara yang dibuat ibunya sendiri.Aku seperti melihat gunung es,dan aku sendirian di atas kapal yg berlayar malam hari tanpa kapten.Hati kecilku mengatakan,pernikahanku tidak akan lama sejak 2 hari sebelum kuucapkan janji di depan Tuhan.

Aku bimbang dan sangat tertekan dengan kecelakaan kecil menjelang pernikahan.Ketidakpekaannya membuat aku dan orangtua terlibat adu mulut,kurang dari 12 jam sebelum menuju altar.Dalam perjalanan menuju altar,aku memaksakan diriku untuk tersenyum.Suamiku memintaku beberapa kali untuk tersenyum.Dan sepulang gereja,dalam rangkaian upacara adat yang kujalani,lagi-lagi aku adu mulut dengan ibu bapakku.Hati kecilku mulai bilang,kelak inilah masalah besar,selain sexual.Suamiku beberapa kali menanyakan uang pembayaran penari dalam upacara adat,memintaku menghubungi travel agent untuk tiket pulang mereka.Dia berulang kali membahas hal tersebut,termasuk beberapa menit setelah sakramen selesai.Saat itu kesal,karena aku sudah mengatakannya 2 hari sebelum pernikahan bahwa semua sudah kusiapkan.Dia memaksaku menanyakan hal tersebut pada orangtuaku,dan pertengkaran pecah.Juru rias memperbaiki make up-ku yang luntur karena aku menangis.Ibuku memakiku tidak tahu diri,tidak tau perasaan,cinta buta dsb.Yah aku menikah di gereja,sementara keluargaku adalah muslim,dan tekanan suamiku membuatku serba salah.Hari itu aku ingin teriak

"bisakah kubatalkan pernikahan? Laki-laki yang baru saja kunikahi ternyata anak kecil yang manja"

Aku terjebak dengan lakon yang harus kujalani seumur hidup.Aku terus meyakinkan diri sendiri,aku bisa mengubah suamiku.Aku menikah dengannya seumur hidup,dan aku bisa merubahnya.

Apa yang menyebabkan semua itu?Aku berpikir ah..itu karena pola asuh.Akhirnya setelah kujalani,seks dan pernikahan yang kupikir dan menyenangkan,justru membuatku menderita.Aku mulai berpikir,di dunia ini tidak ada cukup seks untuk memuaskannya,bahkan aku sudah menjadi miliknya,seutuhnya.Aku mati-matian belajar seks dari buku-buku panduan,dan beberapa film biru.Aku sangat ketakutan aku tidak dapat memuaskannya,dan ia kembali pada kebiasaan lamanya.

Astaga..duniaku serasa kiamat justru saat aku sedang hamil muda.Beberapa kali dia mengajakku berhubungan secara anal.Dan itu bukan jenis seks yang aku kenal dan kupelajari.Aku panik.Kutolak secara tegas keinginannya.Ketidakwajaran ini berlanjut ke ketidakwajaran lainnya.Aku menenangkan diri,terus berdoa aku tidak masuk dalam hubungan seksual yang Tuhan tidak suka,dan sia-sia.

Awal pernikahan aku menikmati,dia mengatakan seksku hebat,dia menikmati dan ketagihan tidak cukup satu kali dalam semalam.Aku melambung karena sebagai istri aku merasa dibutuhkan,dan seks adalah bagian dari kasih sayang,itu yang harus kupenuhi sesuai janji sakramen.Namun sejak dia mengatakan ingin anal seks,kepergok memiliki ribuan file porno,ikut klub penggila pornografi,memasang poster wanita setengah telanjang sebesar pintu di dinding kamar dan ruang tamu kami(aku kos sampai 6 bulan usia kehamilan) mustahil bagiku untuk bisa ikhlas berhubungan seks dengannya.Saya menutupi kebencian dengan pura-pura cepat orgasme dan sangat terangsang di awal hubungan agar permainan cepat usai.Saya membenci kebiasaannya meminta oral seks yang kadang-kadang tanpa didahului foreplay.Saya pernah mengoralnya sambil menangis.

Setelah anakku lahir,rasa jijikku,rasa benciku padanya makin menjadi,masalah seks keuangan bercampur jadi pemicunya. Aku baru saja melahirkan,belum ada 7hari usia bayi kami.Saat itu walaupun caesar,aku putuskan merawat sendiri bayiku.Aku bahkan tak pedulikan sakitnya bekas operasi yang masih basah,karena aku mau menyusui,menggendong,menidurkan,dan memandikan bayiku.Seharusnya aku tidak banyak gerak.Aku tidak butuh siapapun membantuku,rasa cintaku yang besar pada putriku menghapus sakitku.Rasa sakitku dimulai ketika ia memilih tetap pergi ke pesta pernikahan saudaranya ketika bayi kami berumur 5 hari.Aku masih butuh dia menemaniku merawat bayi kami,tapi dia memilih tetap pergi.Saat itu aku menangis sejadinya di depan ibuku.Ibuku memandangku sinis,dan mengatakan

"Ini laki-laki inisial D,katholik yang kamu cari sampai gila,dan mengorbankan keluarga besarmu.Katamu kamu bisa merubahnya."

Aku yang saat itu sudah terluka semakin terluka dan tertekan dengan kata-kata ibuku.Ketidakberuntunganku makin bertambah ketika aku bertengkar dengan suamiku masalah steamer dan bantal bayi.

Aku meminta dia membelikan alat steam dan sterilasi untuk dot bayiku.Aku memiliki problem dengan putingku,sehingga bayiku tidak bisa menyusu normal. Air susuku lancar,bahkan berlebih. Setiap putriku tidur,aku memompanya dengan tangan menampung dalam botol dot dan menyimpannya dalam lemari pendingin,menghangatkannya dalam rantang yang kuisi air panas saat bayiku menangis minta susu.

Aku tidak pernah minta apapun pada suamiku. Saat itu ketika ia menghubungiku via ponsel,aku memintanya membelikan alat pompa elektrik ( dari buku yang kubaca jenis ini lebih maksimal dan sangat efisien waktu), alat steam dan steril (dari buku yang kubaca selain lebih cepat menghangatkan,alat ini otomatis mengatur suhu susu,dan mensterilkan dot sehingga mengurangi resiko terinfeksi bakteri). Benda lain yang kupesan adalah bantal dari bahan yang nyaman dan washable,karena bisa kupakai bergantian,diapers dengan merk tertentu (hanya merk ini yang menyediakan size new born). Aku pikir,ketika bayi kami lahir,dia tidak lagi jadi mesin kalkulator.Aku berharap dia mengabulkannya,sebagai bentuk kesiapannya sebagai ayah sekaligus memenuhi sarana bagi bayi kami,sebagai wujud perhatian dan kasih.

Hari itu aku bertengkar via telephon, ibuku mendengar semuanya.Suamiku mengatakan semua yang kupesan harganya terlalu mahal.Saat itu hatiku benar-benar terluka.Aku tahu berapa gajinya,dan aku sudah mentotal berapa jumlahnya,dan jumlah itu tidak sampai 20%. Bagaimana bisa dia berkata demikian,bukankah itu untuk anak sendiri.

Ibuku memelukku, menenangkanku, mengingatkanku untuk sabar dan mengontrol emosi,karena aku menyusui. Saat itu ibu menawariku membeli semua kebutuhan dengan uang beliau, namun kutolak. Aku hanya berpikir, biar suamiku belajar jadi ayah yang bertanggung jawab.Aku tegas katakan padanya semua yang kuminta demi anak, tidak ada terlintas aku mau dinilai orang kaya.

Dia akhirnya mau juga memenuhi , itupun tidak seperti yang kusyaratkan.Dia hanya membeli steamer tanpa alat sterilier ,dia membelikanku alat pompa manual,bantal unwashable dan diapers yang covernya dari plastik. Dan seperti biasa, dia memilih karena harganya paling murah. Beberapa hari kemudian anakku iritasi diaper, dan itu makin membuatku tertekan.

Aku juga merawat bayiku sendiri tanpa pengasuh. Harapan memiliki pasangan yang mau ikut peduli seolah makin jauh.

Hal menyakitkan kuterima lagi. Aku harus melayani suamiku belum genap 2 minggu setelah aku melahirkan.Vaginaku masih nyeri dan mengeluarkan darah nifas, sementara perutku masih nyeri akibat operasi. Dia tidak membantuku merawat bayi kami ketika tengah malam, namun ia memberiku tambahan kelelahan dengan melayani kebutuhan sexualnya . Aku makin sering mual dan muntah jika ingat sikapnya.Beberapa kali suamiku memergokiku mual-mual lalu muntah. Bodohnya, aku mengatakan itu efek pil kb yang bru kuminum 1 butir setelah1 bulan aku melahirkan. Aku menutupi sinyal ktidaknyamananku secara psikologis, dengan alsan lain yang bisa lebih diterima dan tidak menyakitinya.

Aku mencoba menenangkan diriku sendiri, menyemangati diriku sendiri agar tidak makin larut dalam stress. Aku tidak mau psikologiku terganggu dan berpengaruh secara emosional pada bayiku. Kondisi ini sangat menyiksaku. Aku masih tinggal dengan orangtua, sementara suamiku di kota lain. Tak jarang aku menangis sendiri ketika aku tertekan. Di depan orangtua aku terlihat bahagia dan sangat menikmati status baru kami sebagai orangtua baru.

Ketidaknyamanan seksualku semakin meningkat. Suamiku seolah tak bisa menahan keinginan sexualnya, bahkan saat menstruasi. Beberapa kali aku menolaknya,memberinya penjelasan hal itu dosa dan memiliki resiko pada organ reproduksiku. Hal ini berlangsung sampai tahun ke 3. Aku menjadi perempuan tidak punya nilai dan sangat rendah. Aku jijik dan benci bukan pada dirinya, tapi juga pada diriku sendiri. Terkadang aku harus melayani suami di depan anak.Aku juga sangat tidak nyaman dengan kebiasaannya bertelanjang di depan putri kami, atau melanjutkan menonton film porno saat aku membawa putri kami tidur bersama . Aku sudah memintanya berhenti namun dia selalu beralasan putri kami masih bayi.

Usia 8 bulan putriku memiliki kebiasaan mengempotkan mulutnya. Aku ketakutan dan berpikir adegan oral sex dalam film porno itulah pemicunya.Ketakutan pada perkembangan putriku makin memuncak ketika beberapa kali anakku memperingatkan ayahnya menutup penis saat sedang bersama. Dia juga pernah bertanya mengapa penis ayahnya tegak sambil memegangnya dan usia anakku belum genap 3 tahun.

Aku seperti hidup dalam duniaku sendiri,aku lari dari rumah di tengah malam selama beberapa jam. Berjalan kaki sendiri di tengah malam, membiarkan putriku dengan ayahnya. Saat itu aku ingin suamiku mau membantuku berjaga untuk bayi kami, namun ia menolak dengan alasan capek kerja.Benda yang kucari di tengah malam itu adalah rokok. Usia putri kami belum genap 4 bulan saat aku larimeninggalkan rumah di tengah malam buta. Aku berjalan kaki, hanya menghisap rokok yang membantu meringankan rasa tertekan dan kecewaku.

Aku mulai kecanduan rokok.Aku hanya sibuk merawat anakku, aku tak pernah merawat diri. Aku menghabiskan malam bercinta dengan rokok setiap tengah malam. Aku tak lagi memperhatikan penampilanku. Beberapa teman yang datang berkunjung selalu berkomentar, aku kusam, dekil dan terlihat tua. Aku sudah mencoba menutupinya dengan alasan, aku kelelahan dan keasyikan mengurus putri kami. Aku semakin tak bisa lepas dari rokok. Setiap saat ketika aku mulai kalut dengan keadaanku sendiri, rokoklah teman pelarianku.

Suamiku seorang yang lemah lembut. DIa tidak pernah berkata kasar, apalagi menyakitiku secara fisik. Aku sendiri mencoba menikmati pernikahan kami, aku menjalankan fungsiku sebagai istri yang total. Berpikir keras bagaimana membahagiakan suamiku dan anakku. Aku lupa, diriku perlu dirawat dan diperhatikan. Aku mengabaikan kebutuhan akan diriku sendiri, terutama masalah penampilan. Hiburan yang melegakanku, aku tak pernah jauh dari sahabat- sahabat yang masih kerap datang mengunjungi keluargaku. Suamiku bukan tipe pencemburu, ia membeaskan aku bergaul dengan siapa saja. Dia mengerti bagaimana aku, bagaimana pergaulanku, siapa saja sahabatku. Namun setiap di atas tempat tidur, aku kerap merasa jijik dan mual. Aku mecoba menutupinya, jika moodku hilang aku lebih sibuk menghabiskan waktuku di depan laptopku, menulis dan menulis.

Kebiasaan seksualnya menurutku sedikit menyimpang. Saat itu aku menenagkan diriku sendiri dengan berpikir, suamiku kurang pengetahuan masalah seksual dan etika seksual. Dari hobinya menikmati gambar atau video cabul, bergabung dengan klub penikmat pornografi, memotret perempuan- perempuan di bagian tubuh tertentu, berkirim gambar cabul dengan seorang sahabatku perempuan di belakangku, membahas tentang perempuan yang membuat birahi di kala ia sedang tugas luar kota dengan sahabatnya baru sebagian yang membuatku merasa tidak nyaman. Aku semakin ketakutan, dan cemas dengan pikiranku sendiri, ada yang salah dengan suamiku.

Beberapa kali dia mengintip vaginaku saat aku kencing, membayangkan kami berhubungan seksual sembari aku kencing, sampai sodomi. Dan kekhawatiranku terjadi. Suatu malam, setelah kami pergi minum- minum, dia memasukan penisnya dalam anusku tanpa kompromi dan ijin terlebih dahulu. Suamiku tidak minum malam itu, hanya aku dan beberapa teman yang menegak habis ABsolut Vodka dan jackD. Malam itu aku jadi sedikit mabok, namun aku masih sadar. Aku begitu hancur saat dia menyodomiku. Aku menagis sejadinya, suamiku sendiri menangis dan berulang kali minta maaf. Sampai pagi ia bersikap lebih lembut dibanding biasanya. Aku memaafkannya meskipun dalam hati tidak.

Kondisi kejiwaanku semakin kacau. Aku seperti perempuan frustasi. Aku masih bisa jalankan tugasku sebagai ibu rumahtangga. Suamiku sendiri begitu bangga dengan caraku merawat dan mendidik putri kami, dan bagaimana aku merawtnya sebagai suami. Kadang kerap aku bimbang. AKu mau akhiri semuanya, namun aku tidak tahu bagaimana caranya. Aku terus menutupi ketidak bahagiaanku. Dan berrhasil, banyak teman mengidolakan kami sebagai pasangan harmonis dan super romantis. Aku sendiri tidak pernah membagi kepedihanku pada sahabat- sahabatku. Hanya pada dua orang, seorang sahabat laki- laki dan seorang sahabat perempuan yang mengethaui bagaimana kondisiku sebenarnya.

Setiap malam aku kesulitan dengan tidur. Pikiranku yang tidak tenang membuat aku terus berpikir keras bagaiman caranya aku keluar dari kondisiku yang tidak nyaman. Maslah seksual, masalah keuangan sangat membebani diriku. Aku pernah dua kali percobaan bunuh diri, karena aku frusatasi dengan kenyataan yang samasekali tidak pernah kubayangkan sebelumnya. Keinginannku untuk memberikan yang terbaik untuk putriku kerap bebenturan dengan cara suamiku mengelola kauangan. Aku melakukan kesalahan fatal dan menyengsarakan diriku sendiri. Aku bahkan tidak memiliki tabungan di saat aku meninggalakn rumah, sebelum aku menggugat cerai suamiku. Semua uang yang aku punya habis aku investasikan untuk kebutuhan putriku.


Kelalahan pikiran dan fisik mulai menggerogoti hidupku dengan lebih ganas. Dan aku tersentak. Saat mengingat dia memakiku anjing. Sejak itulah aku jadi sering mengamati anjing. Dan aku bersyukur. Aku belajar keluar dari masalh rumahtanggaku ketika aku menyadari, aku lebih bodoh dari seekor anjing. Anjing saja pasti lari jika dia tidak nyaman atau diserang. Dan aku masih bertahan. Bodohnya aku.



May 13, 2008

PERUBAHAN

Aku takut dengan perubahan,sempat. Bagi sebagian besar orang perubahan hampir selalu disikapi dengan takut,cemas dan was-was.

Aku mengalami masa sulit,tertekan,merasa direndahkan,tidak bernilai. Aku memainkan sandiwara istimewa dalam rumahtanggaku.Aku menunggu respon,agar suamiku memberi tanggapan,dan bertanya apakah aku ada masalah. Aku sering menyendiri menunggu suamiku minta maaf.

Malam itu dia mengataiku main gila dengan sahabatku,karena aku pergi dengannya hampir 6 jam. Aku menjelaskan,ada proyek rahasia dan ia tetap memaksaku mengakui apa yang jadi tuduhannya. Akhirnya kemarahanku tak terbendung. Kubuka hal sebenarnya,aku pergi dengan laki-laki itu membuat lagu,merekamnya, dan menjadikannya kado ulang tahun suami.

Saat itu aku sangat terpukul dan tertekan.Aku terjebak pada perasaan kasihan pada diri sendiri dan menangis,berharap suamiku akan merasa tidak enak ketika melihatku menangis. Aku menulis di blog bagaimana perasaanku,rasa sakit yang ia timbulkan dan kata-kata jahat yang merendahkan kesetiaan dan rasa sayangku. Aku memberikan alamat blogku,dan suamiku baru membaca isi blogku,setelah aku memutuskan cerai.

Aku punya andil,waktu itu aku tidak pernah konfrontasi secara langsung.Suamiku pikir aku hanya main-main setiap aku bilang cerai,dan 2-3 hari berikutnya aku tersenyum dan menjalani tugas ibu rumahtanggaku dengan normal.

Setelah 3 tahun 6 bulan aku mulai bertanya. Apa alasanku yang membuat aku tetap bertahan? Kondisiku sebagai korban sudah jadi urat dan mengakar dalam diri,bahkan aku menganggap seperti sesuatu yang sifatnya akrab. Aku sangat tidak nyaman.Aku belajar menyadarkan diri sendiri bahwa hal yang sudah akrab dan rasa nyaman jelas beda.

Aku mulai membuka ingatan kapan hal-hal yang sudah akrab itu tidak lagi nyaman atau jadi sesuatu yang tidak kita inginkan. Aku mulai melihat nilai dan yang dibawa untukku.Itu yang menegaskan keyakinan bahwa kita tidak layak menerima kebaikan dan penghargaan ? Aku menyadari itukah yang menahanku supaya tidak melakukan perubahan? Apakah hal-hal yang kuakrabi menyakiti jiwa.

Sebenarnya,melindungi diri sendiri seperti yang sekarang sedang kujalani agak menimbulkan intimidasi. Kadang tergoda untuk mundur dan mencari persetujuan dari orang lain,setelah menjelaskan aku tidak akan mentoleransi sikap suami. Namun,setelahnya aku melakukan hal besar dalam hidupku.Keputusanku bercerai adalah keputusan pertama kali dalam hidupku yang kubangun dari kejujuran mendengar jiwaku sendiri

"aku tidak mau jadi korban,dan terus pura-pura bahagia padahal sangat terluka."

Aku sedang menikmati kekuatan baru,dan ini adalah cara hidupku yang bru. Pengaruhnya? Luar biasa,aku punya emosi baru,dan mendapatkan diriku secara utuh termasuk merespon apa yang jadi kebutuhan jiwa.Dan aku tidak akan mau melepasnya lagi.

Perasaan baru ini yang memunculkan perubahan,dan aku belajar bahwa berubah itu ternyata ada bagusnya juga.

Mau menunggu? Atau punya nyali untuk perubahan?

Sedih sebentar saja ya,kalau berani dgn perubahan bersiap senang selamanya.

BERHENTI JADI KORBAN

Aku putuskan berhenti jadi korban.Lelah juga 3 tahun jadi korban. Berat resikonya,aku sendiri hampir menyerah,karena aku tipe perempuan yang tidak tegaan.

Menjadi korban tidak selalu harus mengalami penganiayaan atau kekerasan fisik.Kadang kita terpaksa melakukan pekerjaan atau tugas kotor untuk oranglain atau pasangan. Kita menerima itu dan mereka membutuhkan kerja keras,sementara kita tampak tidak bisa mengatakan tidak.

Contoh kisah sahabatku.Aku mengenalnya sebagai perempuan dengan prinsip kuat. Dia vokal,dan selalu berani berkata tidak untuk apapun yang bertentangan dengan dirinya. Namun laki-laki itu pacarnya seolah beku dan memanfaatkan rasa cinta yang begitu besar atas diri sahabatku.
Sahabatku,perempuan itu,dia rela menunggu beberapa jam untuk laki-laki yang ia sebut pacarnya. Laki-laki itu menerima telepon masuk dari staff barunya di kantor,seorang perempuan,meninggalkan sahabatku begitu saja,tanpa meminta ijin,atau sekedar basa-basi membuat alasan mengapa pembicaraan itu berlangsung lama dan ia harus berpindah menjauh dari pacar.

Rasa takut untuk konfrontasi dengan orang lain juga menjadikan kita korban.Situasi ini paling sering kualami.

Teman-teman,atau bahkan sahabat dekat kadang memperlakukan kita dengan seenaknya,misal membatalkan rencana pada saat-saat terakhir untuk hal lain yang belum tentu terjadi,dan mereka memahami bahwa kita tidak akan marah. Intinya kita menerima saja semua tindakan mereka tanpa mengeluh.Kita bahkan masih bisa tersenyum.

Aku pernah alami situasi sulit ini,dan mencoba untuk tidak masuk lagi dalam situasi tersebut.

Aku tidak mau lagi luluh tersenyum,memaafkan dalam waktu singkat ketika suamiku merayu dan mengingatkanku tentang janji nikah. Aku berpikir aku juga punya andil,memaafkannya selalu setelah ia melukaiku. Tersenyum padanya kurang dari 6 jam setelah dia memakiku anjing.

Dia tahu aku tipe tidak tega dan sulit menolak. Jadi pada saat aku hamil muda,aku hanya tersenyum ketika ia memberiku jatah makan siang 5-10 ribu selama hampir 5 bulan.

Dia tahu aku pasti tidak akan menuntut menyerahkan gaji bulanannya karena aku dinilai pengertian,nrimo dan cuek. Berapapun yang ia beri aku terima,aku juga tidak pernah complint makan lotek tiap siang.

Hgh..aku belajar lebih dalam tentang cinta dan respek bisa berjalan seimbang. Aku belajar dari caraku menyikapi kemanjaannya. Dia tahu aku menyayanginya,tidak pernah berkata kasar,marah dan memukulnya.Sekarang dia 3 tahun. Dan ia mulai bisa memanfaatkan kelembutanku. Terkadang apa yang diinginkannya membuatku merasa jadi korban. Saat itu dia sakit tenggorokan.Dulu sampai umur 2 tahun aku memberinya makanan cair tiap ia susah makan.Aku tidak memberinya bubur lembut karena takut kadar gizinya kurang dan ia jadi kurus.Beberapa bulan yang lalu,aku menyempatkan diri bangun dini hari,membuat kaldu dari tulang memasakannya bubur nasi,mencampurnya dengan salmon yang kubeli dengan mikir seribu kali karena uangku tinggal 50 ribu (harga salmon itu 37 ribu),menyisir jagung manis,mengiris wortel menjadi batang korek,menambahkan telur mengandung omega yang harganya 2x lipat dari telur kampung (aku meminjam uang adikku yang saat itu pergi belanja denganku). Hampir 3 jam aku menahan kantuk membuat semangkuk bubur untuknya. Aku melakukannya karena aku ingin yang terbaik untuk anakku.

Jam 6 pagi anakku bangun.Dan rutinitas pagiku dengannya adalah ngobrol sebelum makan.Pagi itu tentang mimpinya dan acara bikin bubur.

Saat kuhidangkan.Anakku tampak kesal,ia minta makanan cair seperti biasa.Dan aku mencoba menjelaskan dengan lembut ia harus berlatih makan bubur nasi,karena ia sudah 3 tahun.

Yang dia lakukan padaku.Dia tumpahkan bubur buatanku ke lantai.Menangis dan berteriak.Saat itu aku juga menangis.Anakku berhenti,dan menatapku.

Aku terpaksa bersikap tegas padanya.Aku tetap memberinya bubur nasi,bukan makanan cair.Aku memintanya untuk menghargai orang lain,termasuk ibunya.Aku tidak membentaknya,namun konsisten dengan keputusanku.

Aku belajar tegas.Aku tidak mau lagi menunggu dia dewasa sampai ia tinggal sendiri untuk dia belajar menghargai usaha dan perhatian orang lain. Dan aku tidak mau lagi kelembutanku dimaanfaatkan untuk selalu ada pemakluman.

Cinta dan respek harus seimbang.Bila kita tetap bersikap sebagai korban,atau membiarkan diri menjadi korban,itu artinya kita belum memiliki batasan untuk diri kita sendiri. Kita tidak punya garis jelas yang menginformasikan kepada yang lain bahwa kita tidak mengizinkan siapapun menginjak-injak harga diri.Kita hanya mengeluh,tetapi tidak melakukan apapun untuk mengubah. Namun hati-hati jangan gunakan sebagai kesenangan untuk membalas dendam belaka.Ini hanya akan menimbulkan luka lebih banyak. Jika ada orang dalam kehidupan kita yang terus menerus menyakiti kita,tinggalkan saja dia. Jika penjelasan kita hanya menimbulkan perdebatan dan perselisihan,kita tidak perlu membuang-buang waktu untuk menjelaskannya lagi.
Daripada berdebat mulut,gunakan kaki untuk pergi menjauh.

SINYAL-SINYAL TERABAIKAN

Baru saja aku mendengar kabar dari seorang sahabat.Sialnya dia mengalami nasib hampir sama denganku.Bedanya dia belum menikah,aku hampir mengakhiri pernikahanku. Persamaannya,kita mengabaikan sinyal diri kita sendiri.

Sinyal yang kuterima sebelum menikah

"dia hobi mengintip,itu kelainan seksual, " dan aku mengabaikannya.

"dia hampir tidak pernah mengajakku pergi kencan ke tempat yang sedikit lebih baik atau paling tidak sesuai dengan standar gaji kami berdua,atau hampir selalu aku yang membayar acara makan malam di resto yang lumayan bagus" aku mengabaikan sinyal diri sendiri bahwa pasanganku terlalu hemat,pelit atau tidak bisa menyenangkan diri sendiri apalagi pasangan

"dia memberi tambahan sayang,chay pada nama-nama teman perempuannya yang tersimpan di handphone,saat kami sempat bertukar handphone sebulan sebelum menikah"

aku mengabaikan sinyal bahwa dia tidak benar-benar bisa setia,dia laki-laki yang gampang tertarik pada lawan jenis dan menikmati hubungan tanpa status meskipun tampak fokus

"dia bercerita dengan santai,saat kami menghabiskan malam di sebuah hotel,bahwa ia pernah bercinta dengan pelacur dan memakainya bersama beberapa teman kantornya,di kamar yang kami tempati malam itu,"

aku mengabaikan sinyal bahwa ia tipe manusia yang kurang punya emphaty pada orang lain,termasuk istrinya

Aku melihat sahabatku juga melakukannya.Kami berdua mengabaikan sinyal diri sendiri.

Dan aku tidak mau lagi terjebak dengan kebodohan yang sama. Jangan pernah abaikan sinyal. Jangan pernah merasa bahwa itu hanya prasangka,cari tahu kebenarannya,mengapa,dan apakah siap dengan resiko.

Kunci menyikapinya,jujur pada kata hati. Kadang kita terjebak, kita bisa menjadi semacam tukang kontrol,pahlawan yang bisa merubah seseorang lebih baik. Ketika hasilnya tidak sesuai harapan,kita cenderung mendadak depresi dan stress.

Ikuti kata hati,dan jangan pernah jadi korban salah mencermati sinyal diri. Aku sudah jadi korban fatal,dan berharap sahabatku bisa belajar dari hal ini.

Sedih sebentar,senang selamanya. Jangan pernah bohong pada diri sendiri.

Temukan Gairah Diri Sendiri

Belajar menemukan gairah dari tragedi.Konyol ? Mungkin benar, bagi sebagian yang belum beruntung menemukan karunia dan berkat dari sebuah kesedihan.Bagiku tidak,dan samasekali bukan hal konyol.

Gairah gak melulu bicara tentang seks.Semakin mengenal diri sendiri,rasa tertarik dan ide2 segar akan lebih sering muncul.Tragedi,cerita duka,kesedihan adalah peristiwa yang mengubah hidup.Mau hidup lebih baik atau makin kacau,pinter-pinternya kita menyikapi.

Aku bertemu dengan seorang laki-laki umur 50 tahunan dia sudah keliling Indonesia dengan sepeda rakitannya sendiri.Laki-laki yang penuh semangat meski hanya punya 2 kaki yang sudah tidak lengkap dari paha sampai telapaknya sejak ia lahir.

Aku belajar darinya.Dia telah menemukan gairah hidupnya dan mencapai mimpinya,travelling dengan sepeda unik yang dikayuh tangannya.

Konyol? Bagiku itu hebat. Bagaimana denganmu? Apakah akan tetap mengurung diri dengan kemarahan,kesedihan,penyesalan,mengasihani diri sendiri atau kita terus maju?? Apakah kita akan bicara pada setiap orang,misal tentang apa yang dia lakukan,betapa jahatnya,betapa tidak berperasaannya ini itu-ataukah kita akan menyingkirkan dan mengambil pelajaran darinya.Mau maju atau tetap meratapi kemalangan,padahal waktu terus berputar.

Temukan gairah diri,karena kehilangan gairah akan menghisap habis devosi dan usaha yang kita ingin lakukan untuk bahagia. Ketika kita temukan gairah,maka kita akan fokus pada masa sekarang,bukan masa lalu yang penuh depresi.

Ketika bertemu seseorang yang bergairah,kita tertarik dalam energi mereka. Mereka terlihat menarik,dan ekspresif.Mereka lebih berhasil meraih cita-cita bukan karena mereka lebih cerdas,tapi karena mereka punya perhatian yang sangat besar dan berani mewujudkan mimpi.

Aku,dan sahabat-sahabat perempuan punya kecenderungan keliru.Dan aku tidak mau mengulangnya. Banyak impian terbuang buat perempuan yang sudah punya pasangan.Terlalu banyak tuntutan yang membuat gelisah,akibatnya tidak bisa berkarya dengan baik.

Mulai bikin list,ingat-ingat lagi impian masa kecil.Bikin daftar cita-cita atau hal-hal yang membuat kita berasa benar-benar hidup.

Fokus pada bagaimana masadepan kita.Jangan biarkan pikiran lama menyelinap masuk dalam benak dan membuat menyerah. Saat aku menulis tentang apapun,suamiku sering acuh.Atau bahkan saat ini ketika aku menyelesaikan bukuku,aku mengabaikan hujatannya

"kamu bukan perempuan suci,kamu istri yang tega,membuka masalah rumah tangga" blablablabla..

Aku membuat diriku tuli. Aku tak mendengarkannya.Aku tidak berusaha untuk membuktikan apa-apa lagi pada siapapun.Aku hanya fokus pada satu tujuan

"aku mau membantu perempuan-perempuan lain untuk merdeka"

Aku menyalurkan amarah,sakit hati,dendam dengan membangkitkan energiku untuk berkarya. Aku hanya mencoba ingatkan diri sendiri setiap merasa lelah,dendam,marah,kecewa,sakit hati.Semua mengalir dengan wajar,aku lebih energik,orang bila wajahku lebih menarik ketika aku mengambil keputusan berat itu,aku lebih tenang dengan diri sendiri.Hal ini beda banget dengan kondisiku dulu.Kuhabiskan malam dengan tangisan,rokok dan minuman. Aku baru menyadari,inilah cara Tuhan memberitahu kita bahwa kita berada di jalur yang benar. Aku tidak peduli lagi dengan penghakiman atas aku.

Oke.Jatuh,sakit,kecewa,dikhianati,sedih,perih,dendam atau merasa tidak bernilai adalah hal yang wajar dan dialami semua orang.Hasilnya di masa depan,tergantung cara untuk menjalani kehidupan yang ada.Teruslah melangkah,rencanakan dengan matang,berpikirlah secara sehat,minta saran dan kritik dan maju terus.Senang selamanya,sedih sebentar saja-raihlah!