June 19, 2008

TENTANG ANAKKU

Dia sudah besar umurnya 3 tahun. Dia tumbuh sehat, ceria, dan secara psikologis dia bahagia. Dia tahu aku dan ayahnya tidak lagi berdampingan. AKu tidak pernah mengajarinya membenci ayahnya, meski sempat hampir 4 bulan lamanya ia menahan rindunya. Suamiku tidak datang menengoknya, ia takut berkonflik dengan keluarga besarku. Dan aku berjuang keras memberikan pengertian pada putriku tentang keadaan ini. Kami berkomunikasi setiap dia pulang sekolah dengan ayahnya, ketika aku tidak bekerja ke luar kota.

Anakku tahu aku tidak nyaman dengan ayahnya, aku menjelaskan dalam bahas sederhana untuk membuat dia menghormati keputusanku. AKu belajar menghormati kemauannya saat ia ingin bertemu dengan ayahnya. Aku tidak pernah menghalanginya, dengan catatan situasi dan kondisi memungkinkan. Beberapa waktu lalu, kami bertemu menghabiskan sabtu dari siang sampai petang, seolah kami keluarga utuh. Dan...aku menahan sakit hatiku sendiri ketika kutingglkan putriku seminggu lamanya. Aku menangis dalam perjalanan, sungguh aku tak mau meninggalkannya barang sehari, tapi aku harus bekerja untuk hidupnya. Ibuku begitu marah ketika tahu, aku bertemu dengan suamiku dan menghabiskan weekend bersama. Aku diam bagai es, kucoba tak dengarkan makian yang terasa mengiris hatiku. Kupikir anakku juga berhak ketemu dengan ayahnya. Dan biarlah itu jadi bagian dari resiko atas keputusan yang kuambil.

Anakku menghormati ayah ibunya. Dia penyemangatku, dan juga pengingat langkahku. Aku belajar banyak dari jiwa kecil ini. Aku bersyukur, dia tumbuh jadi gadis kecil dengan rasa percaya diri yang baik. Dua hari yang lalu, aku tak kuasa menahan haruku. Melihatnya di atas panggung, di hadapan lebih dari 500 orang ia menari dengan wajah penuh senyuman. Beberapa saat sebelum ia naik panggung, ia menelphon ayahnya, meminta dukungan. Dan aku tak kuasa menahan butir airmataku, dia menari dengan amat confident. Dia terlihat sangat cantik dan lucu. Semua bertepuk tangan melihat aksi panggungnya. Dan aku lebih - lebih. Tuhan.. kuatkan aku mendampinginya sampai aku tua, meskipun aku sendiri.

Ada buku tahunan dar sekolahnya, kulihat komentar untuk putriku :

"Keysha, anak yang sangat riang, ramah, dan suka menyanyi "

Anakku menuruni bakat dan sebagian sifatku, wajahnya lebih mirip ayahnya. Dia gadis yang sangat riang. Aku belajar darinya. Bagaimana ia menutupi kesedihannya ketika melihat sebuah keluarga utuh, komentarnya :

"Kita bisa jalan- jalan seperti itu setiap weekend ibu..kalau papa tidak sibuk "

Sungguh aku ingin minta maaf atas ketidak beruntungannya. AKu sadar, aku yang membuat keputusan ini. Dan aku tidak ingin menambah kondisinya semakin buruk, aku tidak mau mengekangnya berhubungan dengan ayahnya. Aku mau dia tetap baik dengan ayahnya. Dia sangat ekspresif ketika mendapat kesempatan untuk bicara melalui telephon genggam dengan ayahnya. Aku bahagia melihat dia bahagia....

Anakku akan tumbuh dan dewasa. Semoga saja dia bisa belajar dari apa yang terjadi pada kedua orangtuanya. Aku mau dia lebioh baik, dan lebih beruntung kelak. Satu- satunya yang bisa kulakukan untuk kehidupannya kelak adalah, fokus dan bertanggung jawab dengan keadaan yang sekarang aku jalani. Aku tidak boleh sedih dan putus asa. Aku harus lebih hati- hati memutuskan sesuatu agar tidak salah langkah lagi. Aku mencintai putriku.



4 comments:

dion bombie said...

yup..
life must go on,mbak...
tetap tegar..
Allah SWT pasti memberi jalan..

Anonymous said...

"tapi aku harus bekerja untuk hidupnya."

bukan kah ayah dan ibumu yang membiayai hidup keysha sekarang?

Anonymous said...

sebelum kamu murtad, kamu sudah benar2 mempelajari islam belum? trus dari mana belajarnya?

oh iya, no offense yah, setau gw, lo kan pinter acting plus juara ngarang :p
ini blog isinya 100% bener atau bohong hayo? soalnya setau gw, biasanya lo hari ini ngomong A tapi besok ngomong B! Orang gw aja pernah liat haha. maav ya, gw penasaran soalnya :p

ayo kita ngobrol tentang agama lo sama gw dsini tapi berani ga? gw pengen tau aja lo sejauh apa sih tau tentang agama yang lo bangga2in itu?

Anonymous said...

orang yang goblok saja tidak patut menghakimi seseorang adalah murtad apa tidak. agama hanyalah sebagai panutan seseorang yang beriman akan apa yang diimaninya benar. Tidak perlu nantang ngajak debat kusir tentang perbedaan agama. Hanya orang yang goblok dan picik yang mempersoalkan agama seseorang benar apa salah, kalo kamu tidak bisa menghargai orang, maka anjing pun akan menertawaimu!!! hahahahahahahahahahaha