June 25, 2008

UNTUK KEYSHA

Ibumu hanya perempuan biasa. Aku tak mau kamu hanya menjadi perempuan biasa. Aku mau kamu jadi perempuan luarbiasa. Buku yang aku tulis, adalah untukmu, membantumu untuk tumbuh. Tumbuh menjadi kuat. Tumbuh menjadi jujur. Tumbuh menjadi merdeka. Dan merasakan hak hidupmu yang hakiki atas hidupmu. Tumuh menjadi perempuan yang bias merasakan kelagaan menjadi dirimu sendiri. Dan bahagia.

Suatu hari kamu akan tahu mengapa ibumu memutuskan meninggalkan ayahmu. Suatu hari kamu akan tahu pula mengapa ayahmu memutuskan untuk tetap mempertahankan aku, tetap menjadi istrinya. Suatu hari ketika kamu dewasa, kelak kamu akan belajar untuk tidak menjadi seperti ayah dan ibumu. Suatu hari ketika kamu dewasa, kamu akan belajar betapa sulitnya mempertahankan sebuah pernikahan. Kamu akan belajar mengenai pertobatan, menjadi jujur, dan menelanjangi diri sendiri sebelum kamu menjadi manusia baru yang lebih baik.

Ibumu mengasihimuMeskipun belum mampu berhenti selingkuh dengan rokok selama aku mendampingi ayahmu. Terkadang aku mengabaikan celoteh kekhawatiranmu jika aku terus bersama benda itu. Namun kamu menjadi lebih mengerti, jauh lebih mengerti dibandingkan ayahmu. Kamu memahami gelisahku, kamu menghargai pendapatku, dan kegalauanmku. panjang. Dan aku minta maaf sampai hari ini aku belum bisa meninggalkan benda ini.

Ibumu mengasihimu, kamu tahu. Kamu mengatakannya setiap saat betapa sayang kamu padaku. Dan itu membuatku menangis, karena ibu hanya punya cinta. Ibu hanya bisa mengajarimu bagaimana kamu berani mengambil sikap.Dan aku bangga, kelak ketika kamu tumbuh dewasa, kamu akan tumbuh bukan menjadi manusia kerdil. Kamu tidak hanya menilai sesuatu apapun dari apa yang tampak terlihat dari luar.

Nak, masih kamu kumpulkan permen kerinduan, kesabaran dan penantianmu?? Sudah berapa jumlahnya?? Bersabarlah, menunggu ibu meyelesaikan semua perjuangan ibu menjadi merdeka. Di akhir perjuangan, kita akan menghitung bersama berapa permen yang kamu kumpulkan. Berapa hari pula ibu tak hadir di sisimu. Dan kamu belajar dari permen yang kau kumpulkan, karena ibu tak selalu bisa setiap hari mengajarimu banyak hal. Ibu hanya memberimu permen itu, kau simpan dalam sebuah kotak, satu persatu bertambah setiap harinya, ketika ibu jauh. Semoga kamu mengerti, peremen itu ganti ibumu, yang ingin mnegajarimu tentang kesabaran , menanti, mengerti, menahan rindu dengan doa dan harapan yang baik. Dan kita akan pergi bersama membagikan permen itu kepada teman- teman kecilmu di pinggir jalan itu, mereka yang tinggal di rumah beratap langit, mereka yang harus mengalahkan hari di sepanjang jalan untuk rupiah. Dan kamu akan bersyukur, kamu jauh lebih beruntung karena bisa tinggal di lingkungan yang nyaman. Di akhir nanti, permen itu akan berkata….

“Akulah guru kesabaranmu nak. Ibumu telah kembali, dan tak akan pernah lagi meninggalkanmu sendiri. Ibumu tak pernah lari, ia menitipkan banyak hal untuk kuajarkan padamu jika ia tak ada di sisimu. Dan bagikanlah aku ketika ibumu datang. Karena kau akan belajar bagaimana indahnya bersabar dan berbagi”

Anakku,

Aku menelanjangi dirku sendiri untuk membuat ayahmu berubah. Terkadang ketika ingin merubah sesuatu menjadi lebih baik, kita harus berani menelanjangi diri sendiri. Kamu akan tahu rasanya malu, dan kemudian berpikir. Kamu akan menangis ketika menyadari di mana kesalahanmu. Ayahmu menajadi laki- laki yang terluka, ketika melihat aku membuka tubuhku untuk orang lain. Dan aku tersenyum ketika ia menyadari betapa terlukanya aku ketika ia asyik dengan tubuh- tubuh telanjang itu.

Aku merasakan luka itu, saat tubuh menjadi tak berarti. Tubuh lain yang maya yang membuat laki- laki itu berfantasi dengan libidonya di atas tubuhku sampai ke anusku. Yah…aku menggantikan perempuan- perempuan cabul itu, lalu apa bedanya ibumu dengan seorang pelacur ??

Anakku,

Cepatlah tumbuh. Jadilah bijak. Carilah Tuhan dari manapun Dia datang, kenalilah Tuhanmu dengan baik karena kamu menjumpainya, bukan karena kamu dengar apa kata orang. Anakku..kadang apa kata orang tidaklah selalu benar. Yang benar adalah apa kata hatimu, Tuhanmu ada dalam hatimu. Bahkan ketika semua orang menghujatmu bahwa yang kau pilih adalah sebuah kesalahan, tegakkan langkahmu. Bertanyalah pada nurani, dan jika tak ada lagi yang berbisik dengan dua konflik dalam batinmu, ketika kamu tak lagi takut atas apapun kecuali Tuhanmu, berjalanlah.

Bintang di langit bisa jadi terang, namun bisa jadi membosankan jika kamu melihatnya setiap hari. Jadilah perempuan besar, kadang diam bukan berarti engkau lemah, namun bicaralah saat engkau memang harus bicara. Marahlah jangan menangis jika memang kamu harus marah, dan hargailah semua yang Tuhan berkatkan atas engkau. Tak ada seorangpun yang berhak mencuri kebahagiaanmu, termasuk aku ibumu.

4 comments:

Anonymous said...

Please ask those who know English! Check the spelling! Your blog title sounds weird for English speaking people! Why don't you use your own language? Seems that you don't know what you are talking about!

Anonymous said...

buat yang komen di atas :
yah beginilah teman kita shanty yang hebat. Apa sih yang tidak dia dapat? Juara kelas, lomba cerdas cermat, saritilawah, pemimpin upacara, ketua kelas dll.
Waktu membuat dia jadi lupa daratan bahwa dirinya hanyalah wanita yang kodratnya mengurusi keluarga...

Anonymous said...

Ini cerita domestik, tapi masih menyangkut tokoh mancanegara. Pada kunjungan kepala negara Jerman Barat, Kanselir Helmut Schmidt, ke Jakarta di awal 1980an, ia ingin bertemu dengan sejumlah cendekiawan Islam. Maka diundanglah antara lain Mochtar Buchori, Nurcholish Majid, Almarhum Aswab Mahasin dan Gus Dur.

Satu per satu para cendekiawan itu mengemukakan pandangan mereka, dengan macam-macam teori yang hebat-hebat. Gus Dur kebagian giliran bicara terakhir.

"Karena teman-teman saya sudah bicara dengan teori-teori yang hebat, rasanya tidak ada lagi yang bisa saya kemukakan," kata Gus Dur pada Kanselir Schmidt.

"Maka saya hanya akan bercerita tentang seorang rabbi Yahudi."

Rabbi itu sudah berumur 85 tahun, dan dia sangat kecewa. Maka mengadulah dia pada Tuhannya.

"Tuhan saya sudah 65 tahun mengabdi kepadaMu, sejak saya berusia 20 tahun. Tapi, setelah saya mengabdi begini lama, mengapa engkau mengecewakanku? Mengapa Engkau biarkan anakku masuk Kristen? Ya, Tuhan, saya sungguh kecewa.

"Lalu tuhan menjawab: "Sama, anak saya juga masuk Kristen...,"

HAHAHAHA

Anonymous said...

maaf, sebetulnya blog ini tanpa tittle.Aku yang bikin title dalam bahasa inggris, karena aku mau ikutan nulis tentang storyku sendiri. Judul blog sahabatku empat-s ( susah sebentar senang selamanya ), dan sampai hari ini aku malah samasekali gak pernah bisa menulis kisahku sendiri.

Shanty menuliskannya dalam dua bahasa kumpulan cerita2nya, dan sampai hari ini dia masih menunggu waktu yang baik utnuk terbitkan .

shan, sori banget yah...aku lupa password blog ini hehehehe..aduh gak enak banget jadi kontorversi begini.

tetep semangat!!! aku sudah keluar dari kondisi sulitku akhirnya. Kamu membuatku semakin yakin , aku juga berhak untuk bahagia.