MENUNGGU LOTERE 9 BULAN
Sepasang laki- laki dan perempuan. Menanti satu tahun untuk memenangkan lotere kehidupan. Mereka berharap untuk menang. Uang mereka sudah banyak habis untuk itu. Beli dari Bandar jamu, Bandar kamasutra, Bandar alim ulama, sampai terakhir mereka buang uang yang jumlahnya lebih besar dari pendapatan sebulan, beli lotere ke Bandar spesialis kandungan.
Suatu siang di bulan Maret, si perempuan sontak menggigil. Kedua tangannya gemetar, umurnya masih 16 tahun kala itu. Sang Bandar mengatakan dia menang lotere.
“Kamu menang lotere…kamu bisa ambil hadiahnya setelah Sembilan bulan kemudian”
Perempuan itu membawa selembar kertas tanda kemenangannya. Dikayuhnya sepeda di siang bolong menuju tempat bekerja suaminya. Banyak bunga bermekaran di hatinya. Wajahnya merona merah, campuran antara reaksi panas matahari dan kegembiraan yang luarbiasa. Dengan semangat dia kayuh sepeda itu.
“Mas…aku hamil….”
Laki- laki itu, suaminya, memeluk dan menciuminya dekat pos satpam di bagian depan kantor. Siang itu sudah panas, selembar kertas kemenangan ibarat ice cream aneka rasa yang menyejukkan. Laki- laki itu berteriak keras- keras, tak peduli semua orang menatapnya penuh tanda Tanya.
“aku akan jadi bapak…aku akan punya bayi”
Sepasang laki- laki dan perempuan itu menunggu Sembilan bulan. Si laki- laki bekerja tanpa kenal lelah. Dia punya double side, kerja cari uang sekaligus merangkap jadi pelayan buat istrinya seusai pulang kantor. . Pendapatan mereka tak seberapa, kadang kalau habis beras, mertua masih ikut campur menyumbang. Laki- laki terus bekerja keras, mencatat detail semua jenis makanan untuk bayi di perut istrinya.
“aku mau anak ini tumbuh sehat, pintar dan jadi orang hebat”
Kata- kata itu seperti mantra yang wajib diucapkan setiap saat, ketika laki- laki itu menyuapkan makanan untuk istrinya. Dan ia tak kenal lelah mengganti semua makanan yang keluar lagi. Bayi di dalam perut itu bukannya tak pengertian, tapi ia sedang berkata….
“cukupilah aku secukupnya. Hidupilah aku semampumu, jangan berlebihan, aku hanya titipan, bukan milik kalian. Aku milik Tuhan”
Dan setiap berkata demikian, perut perut perempuan itu mendadak bergolak. Semua tumpah melalui mulut perempuan itu. Dan bayi itu menguji mereka dengan hal itu selama 6 bulan. Laki- laki dan perempuan itu tak pernah mengeluh. Mereka tetap memberikan apa yang terbaik untuk bayi itu. Dan bayi itu menyerah, dia bersikap lebih pengertian. menyerah dan menunggu sampai hari kelahirannya datang.
Jumat siang, tepat jam 12, bulan November tahun 1979, si bayi mendengar bisikan dari yang tak terlihat.
“Bersiaplah kamu meninggalkan alammu. Kamu akan keluar dari tempat yang gelap dan basah, dan itu adalah Surga. Yang kau lihat di luar adalah alam baru. Di
Dan entah, semua serasa bergolak. Perempuan itu merasakan perutnya melilit, rasanya seperti hendak buang air besar. Bergegas ia jongkok. Laki- lakinya sedang pergi ke masjid, karena hari itu, hari wajib untuk ketemu Tuhan.
Perempuan itu mengejan, bukan tinja yang keluar. Seperti batu warna hitam, namun lembut. Dan ia berteriak…….
“Hadiah lotereku keluar….aku gak mau ia jatuh ke lubang tinja. Tolong……..”
Beberapa menit kemudian, seorang suster menolongnya. Perempuan itu terbaring di atas ranjang. Dibukanya kedua paha sementara sang suster sibuk membantu proses kelahirannya.
Tanpa mengejan. Bayi itu lahir, tanpa menangis seperti umumnya bayi normal. Sang suster membalik tubuh mungil itu, mencubitnya beberapa kali dan barulah terdengar teriakannya yang keras, menyaingi suara aszan dari pengeras suara di masjid sebelah.
Perempuan itu tersenyum. Suster itu tersenyum.
“Anakmu perempuan, sehat, cantik seperti kamu…, ”
Perempuan itu hanya menatap sambil tersenyum. Dalam hatinya ia bersyukur. Ia samasekali tak kesakitan seperti cerita- cerita orang.
Tepat jam satu siang, sang bayi sudah selesai dibersihkan. Tak lagi bau amis darah, dan tertutup selaput warna putih. Bayi mungil yang bersih, ada tanda biru sebesar tutup gelas di pusarnya. Tanda itu tak mengurangi kebahagiaan si laki- laki dan perempuan atasanya.
Laki- laki itu berkali- kali menciumi sang bayi yang disusui istrinya. Mereka sepakat memberi nama Sekar.Bayi perempuan mungil yang dinanti selama setahun. Beratnya hanya 2,5 kg, panjangnya 45cm. Bayi yang sangat mungil dan terlihat sangat lemah.
Laki- laki dan perempuan itu saling menatap. Hari itu mereka diberi Tuhan sebuah berkat. Banyak harapan dan impian indah silih breganti memenuhi kepala dan hati mereka. Dan sang bayi berkata…….
“aku hanya akan memenangkan hidupku sendiri dengan diriku sendiri. Dimanakah tempat yang bernama neraka itu. Apakah ini surga?? Apakah laki- laki dan perempuan ini Surgaku?? “
Dan…penantian akan lotere kehidupan itu lengkap. Mereka tidak lagi ke Bandar manapun. Hanya berkutat pada sang bayi.
WANITA ITU
Aku tak tahu apa salahku saat mengandungnya. Berkali- kali aku berteriak aku menyayanginya. Aku berharap banyak padanya, dan aku yakin ia akan jadi perempuan hebat kelak.
Sekar,
Ibu rindu kamu. Dulu kamu pendiam saat kecil. Sekarang kamu sangat berubah. Ibu rindu kamu tersenyum dengan jujur. Aku tahu kamu menutupinya. Aku tahu……
Sekar,
Masih ingat saat kakimu terluka. Saat itu kamu baru empat tahun. Dan kakimu terluka karena aku. Membelikanmu sepatu saja aku tak mampu. Dan kamu tetap gadisku yang kuat, menneruskan langkah menuju ke tempat itu tanpa mengeluh, tanpa menangis. Dan aku…
Menangis di pojok ruang sesaat setelah kamu tidur. Aku sudah menahannya, sejak kamu pulang. Saat kamu merengek
“Ibu kakiku sakit..kakiku berdarah….”
Dan kubersihkan telapak kakimu yang mungil. Kaki yang terluka oleh tajam kerikil dan butiran pasir. Kamu hanya menatapku, saat kapas- kapas basah itu membasuhnya. Sungguh..kamu lebih kuat dari aku saat itu.
Hah…
Memandang gambarmu dari bayi sampai hari ini ketika kamu duapuluh Sembilan tahun, semakin membuatku tak bisa membendung kepedihan. Kamu ada dengan sebuah pengharapan yang panjang. Lantas Tuhan mengirimkanmu tumbuh di rahimku seperti aku menang lotere. Kamu tumbuh dengan segala keterbatasan. Kamu tumbuh ibarat bintang bagiku. Aku berharap begitu banyak kepadamu nak…..
Aku Cuma perempuan kampung, yang tak makan sekolah sampai tinggi, SMP saja aku tak lulus. Aku ingat jelas, cibiran siapapun ketika aku putuskan menikah dengan laki- laki itu, ayahmu. Umurku masih 16 tahun, belum genap 17. Kubesarkan kamu dengan perjuangan, sungguh aku hampir menyerah dengan semua masalah yang tak kunjung mau surut. Dan kamu seakan mengerti kegelisahanku.
Sekar,
Sekarang aku duduk di atas kursi goyang sambil menatap puluhan piala yang kau kumpulkan untuk menyenangkan aku. Menatap puluhan piagam yang hampir memenuhi ruangan ini. Aku membayangkan dirimu nak…aku rindu.
Kerinduanku sudah kutumpuk lama, sejak tiga belas tahun lamanya, sejak kamu putuskan mengurus hidupmu sendiri. Dan kamu hanya pulang sebentar setiap akhir pecan. Dan setiap kukatakan aku rindu jawabanmu selalu sama…
“Ibu..biarkan aku mengejar mimpi. Akulah bintangmu. Dan semua orang akan tahu kamu ibu yang hebat. Aku akan tunjukkan kepada dunia betapa hebatnya engkau ibu. Aku kuat, sekuat kamu ……….”
Dan kamu mengecup keningku. Mengatakan betapa kamu mencintaiku. Memandangku dengan lembut dan berkata lagi…
“Aku ingin membahagiakanmu ibu dengan apa yang sudah berkatkan atas aku”
Dan aku membiarkanmu pergi. Mengejar mimpimu. Dan sungguh ada gejolak di batinku. Aku bangga padamu nak…tapi aku rindu.
BErhari- hari aku menumpuk rindu. Dan jawaban rinduku terjawab. Tapi sungguh bukan ini yang aku mau. Tuhan menjawab kerinduanku dengan memberiku sebuah kepedihan. Aku tak pernah bermimpi hidupmu akan sehancur sekarang Sekar. Aku tahu kamu lelah..sangat lelah. Aku tahu, meskipun kamu menutupinya dengan segala ketegaran yang kau tampakkan.
Kamu bahkan sudah mirip gembel. Kamu melarat. Kamu hancur. Laki-laki itu yang kau sebut suami, menghancurkan hidupmu ke titik yang paling rendah. Aku hancur…..aku terluka, ia merempas semua kebahagiaanmu. Aku tidak kuat menerima ini Sekar, meskipun rinduku terobati. Meskipun aku bersamamu sepanjang hari, tapi bukan ini yang aku mau.
Aku rindu. Memelukmu mendengar segala celotehmu, atau cerita. Aku rindu kamu membawakan aku satu bintang. Aku rindu kamu nak dengan fitrahmu yang dulu. Aku rindu kau nak dengan banyak bintang yang membuatku hidup.
(bersambung )
No comments:
Post a Comment