July 23, 2008

TULISAN TERAKHIRKU

Selasa, 15 Juli 2008

Pening. Hari perempuan. Biasa. Setiap bulan. Kurang tidur. Terpisah dari anak. Menunggu sebuah keputusan besar. Dan pening. Sendiri di ruang yang masih lenggang. Hanya ada beberap orang.

Sebuah papan tulis ukuran besar. Dari beberapa baris, kulihat jelas namaku ada di daftar sidang hari ini. Keputusan. Perjuanganku selama hampir 6 bulan ditentukan hari ini. Tak ada sahabat. Tak ada anak. Tak ada orangtua. Apalagi pengacara mahal. Bisa bertahan hidup sudah bersyukur. Dan aku berjuang sendiri. Beberapa orang yang sudah akrab denganku menyapaku pagi ini. Mencoba tersenyum ramah seperti biasa. Komentar sama ,

"Kamu terlihat pucat shan..."

Bebarapa kali aku menguap. Beberapa kali handphoneku berteriak nyaring. Suara anakku. Beberapa pesan sms singkat. Dari keluarga, dan sahabat. Puji Tuhan, mereka masih ingat aku. Aku masih bisa tersenyum. Entah. Hari ini aku justru ringan. Tak ada lagi kesesakkan seperti kemarin. Aku lebih tenang, meskpiun masih pening. Dan kulihat seorang perempuan cantik dengan kacamata minusnya. Dia tersenyum padaku. Pengacara suamiku. Dia menyapaku, menanyakan kesiapanku. Aku tersenyum dan mengangguk. Kami bicara berdua, topiknya bukan seputar sidang. KAmi bicara tentang perempuan. Kami bicara tentang seorang anak usia 10 tahun yang memperkosa dua gadis di bawah umur. Aku jadi teringat anakku.

Jam 10 tepat. Aku dan perempuan itu masuk ruang sidang. Perasaan tenangku melayang entah menghambur ke mana. Tatapan majelis hakim dan panitera seakan membuatku ingin melesak jauh di balik bangku panjang yang kududuki. Di seberangku, perempuan itu duduk tanpa suamiku.

Aku mendengarkan dengan seksama apa yang dibacakan hakim ketua. Ada bagian yang membuatku tak tahan untuk tidak menangis. Bagian menyakitkan yang sudah coba kulupakan. Dan kronologis semuanya mengoyak lagi lukaku. Kutahan emosiku. Ada hal lain yang membuatku lebih tertekan. Hak asuh anakku.

Tuhan. Aku lemas. rantas. seolah tanpa tulang. aneh. aku bahkan tak bisa menangis. aku bahkan tak bisa berteriak girang. hari ini kemenangan anakku yang di surga, hari ini kemenangan orangtuaku, hari ini kemenangan jiwaku. Aku menatap majelis hakim dengan mata tak percaya. Aku seorang diri. Tanpa pengacara hebat. Tanpa uang suap. Dan ini hari kemenanganku.


Taman pengadilan,

Duduk seorang diri. Tanganku gemetar. Suaraku juga. Begitu banyak telephon masuk menanyakan hasilnya. Aku tak bisa lagi berkata- kata. Hanya bisa bilang

" Aku menang "

Diam. Menerawang. Andai aku bisa aku berteriak. Aku mau memeluk Tuhan siang itu. Hanya Dia yang mau kupeluk. Juga anakku. Kubiarkan wajahku basah. Kubiarkan sesak yang menghimpitku tumpah. Kubiarkan aku tersengal dalam tangis. Kubiarkan kesendirian siang itu sebagai hadiah kemenanganku. Kubiarkan beberapa jam tanpa bicara dengan siapapun.

HANDPHONE 5300


"Selamat, aku pria bangsat yang tersingkir "

Nanar. Kubaca kalimat pendek dari suamiku. Sayang ia hanya mewakilkan dirinya lewat tulisan. Jujur aku menunggunya. Menunggunya datang. Dan hanya tulisan itu yang aku baca. Sungguh aku ingin berteriak.

" Maafkan....aku hanya mau membebaskanmu dari luka. Aku tak bisa dan tak pernah bisa membahagiakanmu...."


HARI SETERUSNYA


Kulupakan semua lukaku yang kemarin. Kudengar setiap malam anakku berdoa untuk aku. Celoteh kecil yang jujur. Dan Tuhan mendengar doanya. Jadwalku semakin sesak dengan tawaran pekerjaan. Artinya rejeki untuk anakku. Phonebookkku semakin sesak dengan nama baru. artinya sahabat baru untukku. Dan aku pulang. Kupeluk malaikat kecilku. Hariku hanya singkat dengannya. Dan kami saling menguatkan. Sebelum makan siang. Seperti biasa menyapa laki- laki itu. Dan kami bicara seperti tak ada masalah. Dan kami saling menguatkan. DAn anakku melukis untuk ayahnya. Dan laki- laki itu menghubungiku. Dia siapkan dua pasang gaun untuk malaikat kami. Dan aku tak mau tanya- tanya lagi. Apakah dia masih dendam.

Kulihat wajah ayah ibuku, adik-adikku. Mereka lebih cerah. Kulihat wajahku sendiri. Tidak. Aku tidak boleh putus asa. Aku sudah bahagia sekarang. Aku harus bahagia. Aku harus kejar mimpiku. Aku pasti bisa.

Kulihat malaikat kecilku. TErsenyum menggodaku. Dia menantangku. Aku wonder woman, dan ia power ranger. Dan hanya ada celoteh kami yang asyik saling mengalahkan. Lalu lelah. Saling memeluk. Saling mengecup. Dan kami bahagia.

UNTUK MANTAN SUAMIKU


Berjuanglah. Hidupmu masih panjang. Aku tidak ke mana- mana. Doa selalu mengalir dari kami berdua. Berjuanglah. Kamu kuat. KAmi tidak ke mana- mana. Kutunggu kau datang untuk anakmu. Semoga Tuhan kirimkan perempuan yang lebih indah dariku. Perempuan yang layak membahagiakanmu seumur hidupku.


Terimakasih, kau ijinkan aku menjadi pelacurmu. Aku belajar banyak hal. Aku belajar banyak hal. Dan satu hali, aku belajar menghargai seorang pelacur. Terimakasih.

No comments: