July 09, 2008

TENTANG IBUKU

Diantara hiruk pikuk manusia di plaza senayan. Setengah mati kutahan air mataku yang hampir tumpah. Aku memaksakan diri tersenyum. Terus menutupi gejolak perasaanku yang makin nyilu. Akhirnya kudapatkan juga sebuah ruang tenang. Bagi sebagian orang, ruangan ini lebih pas untuk buang hajat. Aku tak peduli. Inilah ruang paling tenang.

Duduk sejenak. Menahan nafas. Kuraih telephon genggam yang tersimpan di tas ranselku. Menahan nafas lagi. Dan ...belum sempat nada sambung itu terdengar di telingaku. Airmataku sudah tumpah.

"Ibu..."
"Kamu masih di Jakarta??"
"Iya bu. Bagimana Key ? "
"Batuknya belum sembuh nduk "
" Bisakah aku bicara sebentar saja ?? Aku rindu "
"Dia tidur nduk. Kamu kenapa. Kamu nangis nduk ? "

Aku diam menahan nafas. Mencoba mengontrol emosiku. Dan gagal

" Ibu.... aku bawa sesuatu untukmu "
" Kamu kenapa nduk "
" Aku daptkan kontrak eksklusif itu bu "
" Alhmadulilah....disyukuri nduk "
" Puji Tuhan Bu, aku seperti mimpi rasanya bu.."
" Nduk, gusti ndak pernah sare. Dia mendengar doamu. Semuanya rejekine anakmu"
" Iya bu...aku dibayar 6 juta untuk 2 event "
" Alhamdulillah.."

Dan kudengar ibuku terisak. Tak ada lagi suaranya. Aku cuma dengar isakannya.

" Bu..sampun. Aku gak mau ibu nangis. Ini untuk ibu juga "
" Sing ati- ati nduk. Jaga dirimu baik- baik. Anakmu dinggo pangeling- eling "
" Nggih bu. Ini untuk semua, bapak ibu, anakku juga. "
" Banyak sekali bayaranmu nduk "
" Nggih bu, hanya untuk 4 jam aku baca tarot"
" Alhamdulilah...ibu ikut seneng nduk."
" Sampun nggih bu. Nanti saya telphon lagi kalau genduk sudah bangun. Ciumin anakku"
"Iyo nduk. Jangan lupa karo Gustimu, sing bener ati- ati lehmu tumindak"
" Nggih bu. Salam kagem sedoyo "

Dan aku masih terisak. Duduk di atas WC duduk. Ada haru menyeruak.Ada sesak mendesak jiwaku. Kerinduan panjang atas anakku. Senyum lepasnya menamparku untuk berhenti menangis. Aku tidak boleh cengeng. Aku seharusnya bersyukur. Di kota Jakarta aku sendiri. Tanpa siapapun, kecuali para sahabat. Dan sore ini kemenanganku. Tuhan menyentuh gelisahku dengan sebuah jawaban.

" SHanty, ibumu bahagia di sana, ayahmu juga, anakmu juga "

Kubasuh wajahku yang penuh keringat. Sungguh aku bersyukur. Tuhan ringankan aku sejenak. Kemarin aku terpojok diam, dalam penghakiman dan disudutkan. Aku mencoba bertahan. Merasakan setiap kepedihan sebagai nikmat. Kadang airmataku tak terbaca. Namun luka itu ada, dan bernyawa. Aku hanya bertahan dalam keyakinan dan iman. Aku putus asa, bagaimana menyampaikan bahwa

" Tuhan, aku punya cara sendiri mengasihi ayah ibuku. Dan aku lebih mengasihi- Mu apakah itu salah. Tunjukkan caranya, agar mereka tak cemburu atas keputusanku. Ringankan aku Tuhan dengan mukjizatmu yang indah"

Aku tersenyum lega. Aku berjalan sendiri. Berjuang sendiri. Bagiku semua kepahitan ada ujungnya. Masih ada sedikit persediaan gula dalam hidup, jika mau bersabar.

Hpku berbunyi, tanda sms masuk.

Ibuku :

" Nduk...ibu bangga. Sing ati- ati yo nduk. Eling anakmu "

Aku mengecup layar ponselku.

" Ibu..terimakasih "


No comments: