July 09, 2008

STASIUN KERETA

Aku meneruskan hidupku. Selama keyakinan, aku berjalan untuk memperjuangkan sesuatu yang benar, aku akan terus berjalan. Dan tak ada seorangpun yang bisa menghentikan langkahku, keculai Tuhan.

Di sebuah stasiun. Jam tujuh malam, suamiku datang menjemputku, dia memelukku. Mengecup keningku dengan lembut. Aku merasakan kerinduannya atas aku. Dan aku, sungguh kemana getaran itu, aku bahkan tak tahu. Tak ada perasaan yang sama dengannya. AKu hanya tersenyum, dan bilang terimakasih. Dia menatapku kecewa.

Kami duduk, bicara, seolah tak ada konflik besar diantara kami. Dia marah dan aku juga, namun marah tanpa saling menyerang. Kami sudah lelah. Dia belum lelah, memintaku kembali padanya. Aku belum lelah mempertahankan keputusanku. Dia mengataiku dengan serapah yang lembut, mengataiku layaknya aku seorang pelacur. Dan aku menanggapinya dengan senyum. Hanya satu laki- laki yang mengatiku begitu, untuk apa membuatku panik dan menangis. Aku menerimanya dengan senyum, bersumpah- pun percuma. Selagi aku tak pernah melakukannya, untuk apa kuambil peduli.

Aku bertanya padanya. Mengapa masih juga diperjuangkan perempuan yang menurutnya sudah sama seperti sampah ini. Dia menatapku. Bukankah masih ada kemungkinan baginya untuk mendapatkan berlian lain di luar sana?? Dia cuma menatapku. Dan kemudian memelukku. Dan meyakinkanku. Dia mencintaiku. Dia tak mau kehilanganku. Dan aku hanya minta maaf...

Biarkan aku sendiri. Aku memegang tangannya. meminta maafnya. Aku tak yakin bisa membahagiakan dia seumur hidupku. Dan kami berjalan bersama meninggalkan bangku itu. Dia masih memelukku. Dan mengatakan dia mencintaiku. Dan aku masih mengatakan hal yang sama.

" KArena aku menyayangimu, ijinkanlah aku pergi. Biarkan seorang perempuan yang lebih baik dari aku mengisi kekososngan jiwamu "

MAlam merangkak naik. Kami tinggalkan stasiun, dengan perasaan kami yang campur aduk, sama dengan gatal di tenggorokanku. Dan laki- laki itu sudah siapkan obat batuk untukku. Terimakasih. Sayangnya, aku masih pada keputusanku. PAhit. Namun akan manis setelahnya, aku yakin. Bukan saja untuk aku, namun untuk laki- laki itu.

Dan kami berjalan bersama, menyusuri jalan menuju kotabaru. nasi goreng kambing pernah jadi favorit kami berdua. dan malam itu kami singgah, duduk berdua. menikmati makan malam, bersama seorang penjual kerupuk umur 8 tahun. kami bahagia, membagi cinta kami untuk yang lain. wajah kecil berbinar, dia menikmati rejekinya hari ini. dia bahkan tak berpikir kami sepasang laki- laki dan perempuan yang menunggu waktu untuk sebuah keputusan besar. kami melupakannya sejenak.

dia sesekali menatapku, mengusap rambutku. aku , memonyongkan bibirku menggodanya. seandainya saja dia bisa temukan seorang perempuan penggantiku. dan dia menatapku lagi, meyakinkanku lagi aku tak tergantikan. dan aku mengalihkan pembicaraan lagi ke topik yang lain. kami tergelak, tertawa lagi tanpa beban. mendengar suara celoteh keysha di ujung telephon. sejuta kerinduan yang kutahan. kami tak mau dia cemburu, malam ini ayah ibunya bertemu tanpa dia diantara kami. dia bicara banyak dengan laki- laki itu, ayahnya. dan aku selintas menahan sesakku sendiri, namun keputusanku sudah bulat.

dan hidangan di piring tak bersisa. anak kecil penjual kerupukpun sudah tak terlihat lagi,pergi dengan sebungkus nasi goreng kambing. kami melihatnya tersenyum. dan kututup malam dengan senyum. meminta laki- laki itu memangkas jambangnya yang semakin tak berarturan, memintanya untuk merapikan rambutnya. aku mau dia keliatan lebih menarik, dan ada perempuan lain yang mau singgah dalam hidupnya. dia tersenyum getir.

cinta kadang lebih indah jika tak lagi jadi beban. aku tak mau membebani dia dengan cintaku yang entah hilang kemana. aku mau laki- laki itu bahagia. aku mau dia bahagia. aku mau dia bahagia.

5 comments:

Anonymous said...

Entah wanita ini yang pintar atau laki2 ini yang tolol???

Sudah jelas dari tulisan2 cewek ini kalau dia benar2 kecewa, kok ya masih diajak rujuk. Sudahlah to Mas, cari yang lain saja.

HallOFWords said...

Walk on, walk on
What you got they can't steal it
No they can't even feel it
Walk on, walk on...
Stay safe tonight

You're packing a suitcase for a place none of us has been
A place that has to be believed to be seen
You could have flown away
A singing bird in an open cage
Who will only fly, only fly for freedom

Walk on, walk on
What you've got they can't deny it
Can't sell it, or buy it
Walk on, walk on
Stay safe tonight

And I know it aches
And your heart it breaks
And you can only take so much
Walk on, walk on

----------------------------------

This is taken from U2's Walk On for Aung San Suu Kyi...but I think this also goes for strong, free-spirited and independent woman like you...just keep on walking ahead, future is in your hands and no one can take that away from you ^_^

Anonymous said...

wanitanya ini pelacur mas! laki-lakinya bodoh...
kalo baca blog, harus dilihat...

HallOFWords said...

Hmmm...bisa jadi dia pelacur (menurut perspective elo)...tapi at least dia berani come forward...daripada elo bisanya cuman ngata-ngatain dan ngumpet di belakang label 'ANONYMOUS' itu.

Cuman pengecut yang jago menghakimi orang...dan cuman pengecut yang berasa paling suci sampe Tuhan aja kalah... (Tuhan aja masih bisa mengampuni... :D)

Anonymous said...

@ komentator #3 :
Jangan2 anda ini lelaki yang disebut di blog itu ya. Dia kan yang nyebut mbak ini "pelacur".

@ shanty :
kalau mau serius jadi penulis, kayaknya masih perlu membaca cerpen, novel, atau pustaka lainnya deh. Cara berceritamu itu terlalu datar mbak. Bisa ditebak dan biasa-biasa saja. Sorry to say.

Yoyon
ps : kapan bisa chat?